Sukses

Ganyang Malaysia Digaungkan di Makassar

Liputan6.com, Makassar: Sengketa perbatasan Indonesia-Malaysia di perairan Pulau Ambalat--antara Pulau Sulawesi dan Kalimantan--mendapat perhatian warga Makassar, Sulawesi Selatan. Sabtu (5/3), sejumlah pemuda dan mahasiswa Makassar mendeklarasikan Front Gerakan Makassar Gempur Malaysia (FGMGM) menyusul tidak jelasnya penyelesaian secara diplomatik sengketa perbatasan tersebut.

Deklarasi front ini sebagai bentuk protes pemuda Makassar atas pemerintah Malaysia yang mengklaim Ambalat sebagai wilayah mereka. FGMGM menilai, sikap Negeri Jiran itu telah menginjak-injak perasaan warga Makassar dan menghina Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). FGMGM pun menyayangkan sikap pemerintah yang terkesan kurang tegas. Para deklarator justru berharap pemerintah RI lebih mengedepankan cara-cara militer ketimbang diplomatik dalam menangani masalah tersebut. Dengan begitu kasus lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke Malaysia tidak terulang lagi.

Pembentukan FGMGM yang diprakarsai pemuda dan aktivis mahasiswa bersama sejumlah akademisi ini diikuti dengan pendirian pos koordinasi relawan di Jalan Samratulangi. Posko ini akan mendata dan menggumpulkan para relawan, terutama eks tenaga kerja Indonesia asal Malaysia yang sudah mengetahui sebagian geografis negara tetangga itu.

Sebagai langkah awal, FGMGM akan berkomunikasi secara intensif dengan pihak Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IV Makassar agar memberikan bantuan berupa pelatihan perang bagi para relawan. Sementara FGMGM menyatakan tidak menjamin keselamatan warga negara Malaysia yang sedang menuntut ilmu di Indonesia, khususnya di Makassar, bila pemerintahnya terus mengganggu kedaulatan RI di Laut Sulawesi.

Dari Blok Ambalat dilaporkan TNI Angkatan Laut terus meningkatkan pengawasan dengan menambah armada kapal perang ke kawasan yang diklaim Malaysia, itu. Apalagi, pasukan Diraja Malaysia sudah tiga kali memasuki wilayah tersebut. Dari pagi hingga sore kemarin, dua pelanggaran kembali dilakukan kapal perang Malaysia [baca: Kapal Perang Malaysia Melintasi Perairan Indonesia].

Menurut Kepala Staf Gugus Tempur Armada Kawasan Timur Kolonel Laut Marsetio, dua kapal perang Malaysia yang masuk perairan Indonesia, yakni KD Kepah dan KD Kerambit. KRI Rencong &quotbertatap muka&quot dengan kapal perang Malaysia, KD Kerambit di perairan Karang Unarang yang oleh Indonesia di atasnya akan dibangun satu mercusuar. KRI Rencong sempat melakukan kontak radio yang justru disahuti KD Kerambit bahwa KRI Rencong lah yang memasuki wilayah Malaysia.

Marsetio menambahkan, hingga beberapa menit sempat terjadi argumen di radio di mana KRI Rencong tetap berkeras bahwa Malaysia lah yang melanggar batas wilayah perairan Indonesia. Kerambit sempat memohon agar pembangunan mercusuar di Karang Unarang dihentikan sementara sampai ada penyelesaian lewat diplomasi. Permintaan ini pun ditolak dan pembangunan mercusuar tetap dijalankan karena berada di atas wilayah NKRI. &quotMercusuar pun kita bangun di dalam wilayah NKRI,&quot jelas Marsetio. Satu kapal tunda dan satu kapal tronton yang mengangkut material pembanguan di atas karang itu dikawal ketat oleh KRI Rencong.

Sedikitnya, kini, ada tiga KRI di perairan Pulau Ambalat, KRI Rencong, KRI Wiratno, dan KRI Nuku. Kapal-kapal ini memiliki persenjataan lengkap penghancur sasaran. KRI Nuku, misalnya. Kapal ini dipersenjatai dengan peralatan tempur khusus, seperti roket dan torpedo untuk menghancurkan sasaran di udara, permukaan maupun bawah laut. Kapal perang bernomor lambung 873 ini adalah buatan Jerman Timur tahun 1982 dan resmi dioperasikan TNI AL sejak Juni 1994. Kapal ini hampir menjelajah seluruh wilayah perairan Indonesia hingga akhirnya difokuskan sebagai kekuatan patroli laut Armada RI Kawasan Timur (Armatim).

Nama KRI Nuku diambil dari nama salah satu Sultan Tidore menggantikan nama aslinya, Warren 224. Kapal ini merupakan andalan TNI AL yang mempunyai fungsi pokok sebagai armada antikapal selam. Selain roket antirudal, bom laut dan torpedo untuk menangkal kapal selam musuh, KRI Nuku juga memiliki meriam berkaliber 57 milimeter dan 30 mm untuk menangkal serangan dari permukaan laut dan udara. Dengan persenjataan itu, kapal yang diawaki 64 personel TNI AL ini mampu menghancurkan sasaran dalam radius 24 mil laut.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
    Artikel Selanjutnya
    Megawati Puji Respons Anak Bangsa Bela Merah Putih Dilecehkan
    Artikel Selanjutnya
    Aksi Pria Solo Keliling Kota Balas Insiden Bendera Terbalik