Sukses

Getirnya Hidup Mbah Slamet sang Masinis `Tragedi Bintaro I`

Kecelakaan antara kereta commuterline dengan truk pengangkut BBM di pintu perlintasan Teluk Bitung, Bintaro, Jakarta Selatan mengingatkan kita akan kisah pilu Tragedi Bintaro I pada 1987 silam.

Meski 26 tahun telah berlalu, namun masinis Kereta Api 225, Slamet Suradio, masih ingat dengan jelas detik-detik peristiwa nahas yang dialaminya. Sejak kecelakaan yang menewaskan sekitar 156 penumpang itu, kakek 76 tahun tersebut berubah hampir 180 derajat, getir dan pilu.

Saat itu, kereta yang dikemudikannya bertabrakan dengan KA 220 yang datang dari arah berlawanan. Menurut kakek yang karib disapa dengan Mbah Slamet Bintaro itu, sebelum tabrakan terjadi, dia sudah berusaha untuk mengerem keretanya. Namun usahanya gagal karena jarak kedua kereta sudah terlalu dekat.

Ayah empat anak yang tinggal di Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jateng, itu telah mengaku, telah mengantongi izin dari pihak Stasiun Sudimara untuk mengoperasikan keretanya. Mbah Slamet yakin, pada jam itu tak akan ada kereta lain yang lewat karena izin pemindahan tempat persilangan (PTP) sudah dia kantongi.

Namun begitu, Mbah Slamet tetap dipersalahkan. Dia dipidana selama 4 tahun penjara dan dipecat dengan tidak hormat dari kedinasannya sebagai PNS di PT Kereta Api Indonesia (KAI). Dia juga kehilangan hak pensiunnya.

Ditinggal Istri

Tidak cukup disitu, sanksi dari lingkungan pun juga diterima Mbah Slamet. Saat masih menjalani hidup di balik penjara, istrinya Kasmi dinikahi oleh teman Mbah Slamet sendiri, sesama petugas perkeretaapian.  

Sepanjang hidupnya, berbagai cobaan menimpa rumah tangga Mbah Slamet. Dia harus menjalani 3 kali pernikahan. Namun, boleh dibilang istri yang terakhir ini yang bisa bertahan sampai sekarang. Istri pertama Mbah Slamet meninggal dunia karena sakit sesudah mereka dikaruniai lima orang anak.

Kemudian dia menikahi Kasmi yang akhirnya dicerai lantaran memilih lelaki lain. Kemudian Mbak menikah lagi untuk yang ketiga kalinya. Pernikahan dengan wanita yang ke tiga ini, mereka dikaruniai tiga anak.

Usai Tragedi Bintaro I, kakek renta itu bercerita mengenai masa-masa sulitnya. Mulai dari adanya teror akan dibunuh lantaran Slamet dituding menghilangkan ratusan nyawa penumpangnya, hingga ancaman todongan senjata saat dirinya diproses hukum di kepolisian pernah dialaminya.

Pedagang Asongan

Sebagai masinis, Mbah Slamet yakin betul akan adanya human error penyebab Tragedi Bintaro I maupun Bintaro II. Sementara untuk menyambung hidupnya, lelaki yang suka mengenakan celana panjang ini terpaksa berjualan asongan. Dia menjajakan rokok dan makanan ringan di sekitar stasiun dengan pendapatan yang amat minim, yakni antara Rp 3-4 ribu per hari.

Beruntung istrinya, Ngadinem masih bisa membantu mencari pendapatan dengan bekerja sebagai buruh tani di kampungnya dan menghasilkan rata-rata Rp 15 ribu per harinya.

Meski merasakan perlakuan yang tidak adil, namun Mbah Slamet tetap berharap agar dirinya bisa memperoleh hak pensiun. Dia juga ingin agar PT KAI mau menerima kedua anaknya yang sudah lulus dari bangku SLTA sebagai karyawan. Apalagi nilai kedua anaknya itu di atas rata-rata. (Ndy/Tya)