Kong Chiang, Barongsai Kampung Gedong

  • Program Khusus
  • 0
  • 08 Feb 2004 14:11
Liputan6.com, Pangkalpinang: Kampung Gedong. Pemukiman kecil di pinggir Kota Pangkalpinang itu menjadi salah satu pusat masyarakat keturunan Tionghoa di Provinsi Bangka Belitung. Tak mengherankan jika suasana perayaan Hari Raya Imlek yang baru saja berlalu, begitu kental terasa di sana. Kesibukan warga sudah mulai terlihat sejak beberapa hari menjelang Imlek, tahun 2555. Klenteng-klenteng dipenuhi para penganut Konghucu yang bersembahyang. Altar-altar peribadatan juga ditata rapi. Begitu pula rumah-rumah mereka.

Kesibukan besar juga terjadi di rumah Taipak, juru ramal. Taipak, adalah semacam dukun yang menjadi perantara antara dunia manusia dengan dunia para Dewa dalam tradisi Cina. Menjelang Imlek, para warga biasanya datang berbondong-bondong mengunjungi Taipak untuk menanyakan nasib dan peruntungan mereka pada tahun baru. Kali ini, menurut kepercayaan mereka, Dewa Sun Go Kong akan datang melalui Taipak untuk menjawab berbagai pertanyaan warga. Benar saja. Taipak memang kesurupan.

Di sudut lain, seorang pemuda bernama Longat tetap saja menjalankan kegiatan hariannya. Ia berjualan daging di pasar. Tapi, bukan berarti Longat tak perduli pada Imlek. Pemuda yatim piatu yang tinggal di Kampung Bintang di pinggiran Kota Pangkalpinang ini juga merasakan kegembiraan yang sama. Bagi Longat, Imlek datang juga berarti rezeki besar tiba. Ia akan menerima banyak angpau berkat ketrampilannya bermain barongsai. Upahnya sebagai pemotong daging juga akan berlimpah, mengingat konsumsi daging meningkat pada Imlek.

Longat adalah gambaran umum pemuda keturunan Cina miskin di Pulau Bangka. Ia dijadikan anak pungut oleh Koh Liem yang juga pemimpin perguruan barongsai Kong Ciang. Perguruan barongsai yang cukup terkenal di Pulau Bangka. Koh Liem, majikan Longat akan menghadiahkan sejumlah angpau sebagai bonus hari raya sebagai bukti kegembiraannya karena penghasilan besar yang diperolehnya.

Longat, yang dipekerjakan sebagai juru potong daging di kiosnya juga dididik Koh Liem menjadi seorang penabuh tambur yang hebat. Di seantero Pangkalpinang, Longat kini dikenal sebagai penabuh tambur paling andal dan ekspresif.

Kampung Gedong juga adalah salah satu kampung Cina tertua di Pulau Bangka. Masyarakat keturunan Tionghoa menjadi warga mayoritas di sana. Mereka telah hidup secara turun temurun sejak ratusan tahun dengan masyarakat Melayu, penduduk asli Pulau Bangka. Tradisi dan budaya yang mereka warisi dari tanah leluhur tetap terjaga. Bahkan kian kuat mewarnai kehidupan penduduk kampung secara keseluruhan.

Di sana, rumah-rumah dengan gaya arsitektur Cina pedesaan, klenteng-klenteng, dan tradisi-tradisi lama dari tanah leluhur hidup berkembang dan berpadu dengan sedikit pengaruh lokal masyarakat Melayu. Predikat kampung Cina kini melekat.

Dengan suasana itulah, Longat dan juga bapak angkatnya, Koh Liem dibesarkan. Koh Liem, bahkan mempunyai nama Indonesia, Muslim Gazali. Tapi bukan berarti Koh Liem seorang muslim. Nama itu dipakai sebagai bentuk penghormatannya kepada kaum pribumi muslim yang tinggal di sekitarnya. Meski juga tak dapat dimungkiri, nama Muslim memang memiliki kesamaan bunyi dengan nama klannya, Liem.

Koh Liem yang juga pendekar kungfu itu memiliki kelompok barongsai bernama Kong Chiang. Kelompok barongsai yang sangat terkenal karena atraksi akrobatiknya. Pada saat-saat perayaan Imlek, Kong Chiang sering diundang untuk mempertontonkan kebolehan. Karena itulah, mereka harus giat berlatih agar atraksinya tetap disukai orang.

Pada saat-saat seperti inilah, kemahiran Longat sebagai pemain tambur sangat dibutuhkan. Tambur adalah elemen yang sangat penting dalam permainan barongsai. Irama tambur mengatur gerakan barongsai laiknya gendang dalam pentas wayang. Dalam urusan tabuh-menabuh tambur, Longat memang biangnya. Ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam memukul tambur.

Malam menjelang Imlek. Seluruh anggota kelompok Kong Chiang tampak mempersiapkan diri. Mereka selalu mengawali pementasan dengan bersembahyang di depan altar para leluhur pendiri Kong Chiang. Lalu, mereka meminta doa restu kepada para suhu dan orang tua.

Semua persiapan telah lengkap. Kelompok Kong Chiang berangkat untuk mempertontonkan aksinya. Tempat pertama yang mereka tuju adalah empat klenteng yang ada di Pangkalpinang. Di situ, sambil berdoa, barongsai menunjukkan kebolehan akrobatiknya kepada para pengunjung kelenteng.

Longat dengan muka serius tak henti-hentinya memukul tambur untuk memberi semangat kepada para pemain barongsai. Pukulannya yang begitu kuat dan lincah membuat para pemain kian bersemangat. Bak seorang jenderal, Longat mengatur gerakan para pemain barongsai melalui pukulan tambur. Sesaat tambur dipukul dengan cepat dan bertenaga. Kadang dipukul pelan dan lambat untuk memberi jeda pada para pemain barongsai. Sebagai pemukul tambur Longat juga harus pandai membaca kekuatan pemain.

Aksi Kong Chiang berlangsung hingga larut malam. Klenteng demi klenteng mereka kunjungi. Angpau demi angpau mereka kumpulkan. Para pengunjung kelenteng terlihat senang menyaksikan kelompok Kong Chiang beraksi. Angpau-angpau pun mengalir seperti memberi umpan kepada seekor binatang yang lucu.

Belum puas bermain di Klenteng, mereka meneruskan aksinya di sudut-sudut Kota Pangkalpinang. Kali ini bukan angpau yang mereka kejar, tetapi sekedar kepuasan diri sebagai penghibur. Tepuk tangan dari warga cukup memberi kepuasan bagi mereka. Inilah harga yang tulus dan tak ternilai dari jerih payah dan disiplin yang lakukan selama berlatih, kata Koh Liem.(AWD/Tim Potret)
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler