Mak Eroh, Wanita Baja dari Tasikmalaya

  • Sosial & Budaya
  • 0
  • 04 Jan 2004 13:42

040104bmak_Eroh1.jpg
Liputan6.com, Tasikmalaya: Pagi masih cerah. Sinar matahari terlihat malu menyapa bumi. Di tengah keheningan Kampung Pasikadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat, sesosok wanita renta sudah memulai hari. Berbekal cangkul dan balincong (sejenis linggis pendek), dia memapas sebagian tebing. Dengan tangannya, dia juga membuat saluran air yang mengaliri ribuan hektare sawah. Hasilnya di luar dugaan; Mak Eroh (70) diganjar penghargaan Kalpataru pada 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mak Eroh memang pantas dijuluki wanita baja. Dia tak pernah menyangka bakal diberi penghargaan Kalpataru--penghargaan yang kini tak dapat dilihat lagi karena harus disimpan di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Pembuatan saluran air itu bermula dari niat sederhana. Dia ingin mengalirkan air ke sawah seluas 400 meter persegi miliknya. Tapi tanpa disangka upayanya selama dua tahun (1985-1987) malah membawa manfaat bagi penduduk di dua kecamatan, Cisayong dan Indihiang. Saluran airnya mampu mengaliri ribuan hektare sawah di dua kecamatan tersebut. Wanita yang hanya berpendidikan hingga kelas tiga sekolah dasar ini berjuang membuat saluran air selama 47 hari.

Penghargaan Kalpataru memang diraihnya. Namun, tak ada perhatian yang ia terima. Dana untuk memelihara saluran air juga tidak. Itulah sebabnya, Mak Eroh harus kembali bekerja keras untuk merawat saluran air itu. Tiap pagi, Mak Eroh naik turun bukit curam untuk memeriksa saluran air. Upaya ini kadang terhambat kesehatan. Kondisi ini membuat Mak Eroh tak sanggup lagi memelihara saluran air sepanjang dua kilometer. Bahkan, dia pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Tasikmalaya karena mengalami hipertensi. Tensi darahnya tinggi. Pinggang dan tulang belakangnya juga sering ngilu, membuatnya nyaris tak dapat bergerak.

Beberapa waktu silam, Mak Eroh dan suaminya Emuh pernah menjual gula. Namun, sejak pohon enau yang ada di sekitar rumah tak lagi menghasilkan, usaha mereka berhenti. "Pohon enau yang lainnya tak ada karena careuh [bulan] itu sudah habis diburu warga sekitar," kata Mak Eroh. Sekadar diketahui, careuh bulan adalah sejenis musang yang gemar memakan buah-buahan seperti buah aren atau enau. Nah, biji aren yang dikeluarkan bersama kotorannya itulah yang kelak tumbuh menjadi pohon aren baru.

Kini Mak Eroh tinggal bersama suaminya, Emuh. Dua-duanya sudah sepuh. Emuh juga sudah tak bisa lagi bekerja. Untungnya, ada seorang cucu yang tinggal di rumah mereka. Sedangkan anak-anaknya, Tohariah, Rohanah, dan Mesaroh, tinggal bersama suaminya. Setiap hari, selepas dari sawah, Mak Eroh tak pernah bosan mengajari cucunya memasak. Cucunya juga diajar untuk merawat rumah.

Di usia yang senja, tak banyak yang diinginkan Mak Eroh. Dia hanya berharap pemerintah mau mengusahakan pipa paralon untuk saluran air ke Kampung Pasirkudu. Dia juga berharap ada pembangunan masjid di kampungnya. Sebab, masjid terdekat berjarak dua kilometer dari rumahnya. Sayangnya, tak banyak lagi yang mengenal Mak Eroh. Sisa-sisa nama besarnya hanya akan terdengar setiap Pemkab Tasikmalaya menyelenggarakan acara peringatan Hari Lingkungan Hidup. Sisanya, dia kembali terlupakan. Tragis.(ULF/Budi Rahmat)

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler