9 Tahun Berlalu, Apa Kabar Kasus Pembunuhan Munir?

  • Peristiwa
  • 0
  • 07 Sep 2013 18:17

kasus-ham-munir-130907c.jpg
Tepat hari ini, 9 tahun sudah kasus kematian aktivis HAM Indonesia Munir Said Thalib belum juga terkuak. Istri Munir pun kembali meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengungkap kematian suaminya tersebut.

"Apa kabar anda hari ini di kursi pemerintahan? Hampir 2 periode pemerintahan Anda duduk di sana dan kami masih setia menunggu realisasi janji-janji Anda. Masih ingatkah janji Anda akan menyelesaikan kasus Cak Munir di awal pemerintahan Anda?" kata Istri Munir, Suciwati dalam surat yang ditujukannya kepada Presiden SBY yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (7/9/2013).

Suciwati ingat, SBY telah membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap kasus kematian Munir. Namun, hingga kini hasilnya kurang memuaskan. "Saya ingat Anda berjanji menuntaskan kasus Cak Munir tapi sampai sekarang hanya pelaku lapangan yang dihukum. Sementara pelaku sesungguhnya masih berkeliaran," ujarnya.

Munir Said Thalib merupakan salah satu aktivis kemanusiaan terpenting di sejarah Indonesia, yang dibunuh di atas Pesawat Garuda 974 dengan racun arsenik. Hingga kini, kasus itu tidak selesai dan pelaku intelektual masih bebas.

Pada 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.

Pada 20 Desember 2005, pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut.

Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan, Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Berikut surat lengkap Suciwati kepada Presiden SBY yang dikirimnya pada ta 2012 lalu:

Bapak Presiden,
Apa kabar anda hari ini di kursi pemerintahan ? Hampir dua periode pemerintahan anda duduk di sana dan kami masih setia menunggu realisasi janji-janji anda. Masih ingatkah janji anda akan menyelesaikan kasus cak Munir di awal pemerintahan anda? ‘Test of our history’ anda janji kepada negara bangsa ini, hari ini apa kabarnya janji itu? Saya ingat anda membentuk Tim Pencari Fakta dan hasilnya tidak menjadi apa-apa. Saya ingat anda berjanji menuntaskan kasus cak Munir tapi sampai sekarang hanya pelaku lapangan yang dihukum. Sementara pelaku sesungguhnya masih berkeliaran dan masih pongah berkata mereka "kebal hukum" karena anda Presidennya. Juga masih ingatkah anda akan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM? Masih ingatkah anda akan menyelesaikan kasus-kasus korupsi? Dan juga kasus-kasus lainnya? Jangan-jangan kursi kuasa itu begitu melenakan sehingga membuat anda menjadi pelupa.

Bapak Presiden,
Saya sangat merindukan seorang presiden yang berani. Berani bertindak melawan kebathilan, berani melawan para koruptor, berani melawan para pelaku pelanggar HAM, berani membawa para pelaku itu ke pengadilan, meskipun pelakunya adalah atasan anda. Berani memimpin kami dalam kebenaran. Dan tentunya berani bertindak, bukan hanya sekedar berani berjanji. Sungguh-sungguh saya dan anak bangsa ini merindukan sosok itu. Andakah itu bapak?

Bapak Presiden,
Tiap hari Kamis kami berdiri di depan istanamu. Berharap anda segera menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum juga diselesaikan. Ini bukan soal mengungkit luka korban karena ini luka bangsa dan sejarah kelam bangsa kita. Kami butuh orang yang bisa meluruskan sejarah kelam agar kedepan tidak terjadi lagi. Kami butuh penyembuh karena kita pernah menapak sejarah kelam itu. Kami butuh lilin penerang untuk masa depan dan peradaban dimulai dari orang yang berani melakukan perubahan menjadi lebih baik. Andakah itu bapak?

Bapak Presiden,
Apa yang anda lakukan dicatat oleh sejarah, tentu bukan tinta emas. Tulisan itu atas dosa atas pembiaran kejahatan kemanusiaan yang terjadi dan janji yang tak pernah anda penuhi. Semoga anda bukan presiden yang sedang terkantuk-kantuk karena kekuasaan yang melenakan sehingga kejahatan masa lalu itu tetap dibiarkan melukai bangsa kita. Semoga anda segera merealisasikan janji anda kepada negara bangsa ini agar perubahan itu nyata.

Salam dari saya orang biasa, seorang perempuan, seorang ibu, seorang istri yang dipisahkan dari suaminya dengan cara curang serta dari kami yang terus melawan lupa sebagai bentuk kebenaran dan tak akan pernah henti kami perjuangkan.

Batu, 7 September 2012,

Suciwati

(Mut)

Credit: Raden Trimutia Hatta

Like this article?

0 likes & 0 dislikes



Related Articles
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler