Kisah Putri Bos Yakuza: Kecanduan, Diperkosa, Kini Mendunia

on

Parasnya ayu khas kaum hawa Negeri Sakura, kulit porselen, hidung mancung, sikap tenang penuh keanggunan, suara lembut dalam Bahasa Jepang mengalun.

Namun, ada dua hal yang tak bisa disembunyikan Shoko Tendo --nama perempuan itu-- yang kontras dengan sikapnya : tubuhnya yang penuh tato atau irezumi dan masa lalunya yang kelam sebagai putri mantan bos yakuza kelompok Yamaguchi-gumi dan Ichiwa-kai di Osaka.

"Saya seorang single mother, memiliki putri berusia 7 tahun. Yang membedakan dengan single mother lainnya, ayah saya adalah seorang yakuza," kata perempuan 45 tahun itu memperkenalkan diri dalam seminar pendidikan Jepang di Jakarta baru-baru ini.

Pengalaman hidupnya sebagai putri kepala geng ditulis dalam bukunya yang laris, "Yakuza na Tsuki" yang mendunia dengan judul "Yakuza Moon".  Isinya sama sekali tak indah, tentang ayah yang menyenangkan dan berubah jadi pemabuk setelah keluar dari penjara, masa kecil yang pahit, kecanduan narkoba,  jadi korban pemerkosaan, dan mengalami segala kekerasan di lingkungan para gangster.

Berawal dari kisah masa kecilnya, saat masih sekolah, karena berstatus anak yakuza, ia menjadi bulan-bulanan di sekolah. Ditindas. Oleh sesama murid, juga guru. Dianggap orang buangan dalam masyarakat.  Shoko Tendo pun lari, dengan menjadi berandalan, hostes di sebuah kelab malam, hingga pacar gelap lelaki beristri.

Tendo juga memutuskan untuk merajah tubuhnya. Awalnya tato kecil di punggungnya, makin lama makin bertambah nyaris di setiap jengkal tubuhnya.

"Di Jepang, tato  bukan sesuatu yang baik. Tapi, karena saya suka, saya mentato tubuh saya," kata dia.

Titik Balik

Kematian ibu yang ia cintai, menyusul sang ayah, lalu perceraian dengan suaminya, mengubah hidup Tendo. Ia banting setir menjadi pengarang.

Apalagi, "karena ada pinjaman dan rumah keluarga mau disita. Untuk mendapat uang, saya terpikir untuk menulis buku," kata dia.

Selain uang, Tendo juga punya alasan lain. Ia ingin berbagi kisah hidupnya dan keluarga pada dunia. "Juga memberi kekuatan untuk para perempuan korban kekerasan seksual dan pecandu narkoba. Untuk bisa bangkit."

Awalnya sungguh tak mudah. Membawa draf tulisannya, ia berkeliling mencari penerbit yang mau menerbitkannya. Tak ada tanggapan. "Bahkan ada salah satu penerbit yang berkata, 'mana bisa buku ini terjual'," kata Tendo.

Namun, ia tak patah semangat. Dan benar saja, novelnya yang terbit 2004 lalu terbilang laris, diterjemahkan dalam 16 bahasa asing, termasuk Indonesia, Inggris, Belanda, Italia, Rumania, Thailand.

Shoko Tendo pun memantapkan diri sebagai pengarang. Tahun ini ia berencana menerbitkan novel barunya yang berkisah tentang seorang anggota yakuza yang mengabdi pada seorang ketua atau oyabun, namun akhirnya dikeluarkan, lalu bunuh diri.

Jangan Sampai Anak Bernasib Sama…


Meski sibuk menulis, Tendo tak melupakan tugas utamanya sebagai seorang ibu. "Saya menemukan hal baru setiap hari.  Menikmati waktu bersama anak saya. Anak saya menyukai matematika. Jadi kami berhitung dulu baru tidur," tutur dia.

Ia gembira melihat perkembangan putrinya, pun saat mengetahui putrinya tak jadi korban bullying di sekolah karena jadi cucu bos yakuza dan punya ibu penuh tato.

Tapi, "sebagai ibu, nilai saya mungkin 30," kata dia.  "Saya dibesarkan lebih banyak oleh ayah saya, ada hal-hal kecil yang saya tidak tahu sebagai ibu. Tapi saya tetap berusaha lebih baik," kata dia.

"Yang namanya single mother,  tak ada figur ayah, baik secara perekonomian, spiritual atau rohani, ini  sulit," kata dia. "Siapapun yang mau jadi single mother, tolong diperhitungkan dengan matang."

Tendo pun tak ingin anaknya menempuh jalan sepertinya kala muda dulu. "Jalan hidup yang saya lalui penuh hal buruk seperti obat-obatan terlarang, pemerkosaan. Saya tak mau anak saya mendapat hal serupa." (Ein)

Credit Ein

Suka artikel ini?
Elin Yunita Kristanti
Elin Yunita Kristanti

  Full bio »

0 Comments