Asmara Berbuah Petaka? Misteri Pembunuhan Siti Mahasiswi Unpam

  • Peristiwa
  • 0
  • 14 Agu 2013 00:10
Beberapa hari terakhir media ramai memberitakan kasus kematian misterius Siti Halimah Tsu'diyah (21), mahasiswi Universitas Pamulang (Unpam), Tangerang Selatan, Banten, yang sempat menghilang saat Lebaran, 8 Agustus lalu.

Keluarga Siti yang mencari gadis 21 tahun itu dan melapor ke polisi akhirnya menerima kabar duka. Siti ditemukan tak bernyawa di Sungai Cisadane, Rumpin, Bogor, Jawa Barat, Minggu 11 Agustus 2013 pagi lalu.  Siti yang merupakan mahasisiwi semester IV Jurusan Sekretaris Unpam itu diduga tewas dibunuh. Dugaan itu mengacu pada kondisi Siti yang mengenaskan dengan luka lebam di sekitar mulut serta kerudung biru milik korban yang menjerat lehernya.

"Kelihatannya dibunuh ya. Soalnya kelilit kerudung biru di leher dan ada luka lebam di mulut," kata petugas Polsek Rumpin, Aiptu Ade Abdur Rouf saat dikonfirmasi Liputan6.com, Senin 12 Agustus 2013 lalu.

Status Facebook

Sebelum ditemukan meninggal, Siti sempat menulis status di situs jejaring sosial Facebook. Lewat akunnya 'Shitychephecex Rastafarauyeeh', Kamis 8 Agustus lalu, pukul 16.37 WIB, Siti mengungkapkan dirinya sedang naik getek di sungai dengan air deras.

"Sumpah baru kali ini gue naik getek mana ne kali ya deres bngt lgi," tulis Siti.

Status tersebut dikomentari teman Facebooknya, Rudi Haryadi.

"Emx (memang) ny shity mw kmn naik getekk,,,," tulis Rudi pada hari itu juga sekitar pukul 17:42 WIB. Namun, Siti tidak menjawabnya.

Teman Siti, Ryha Anggraini juga menanyakan posisi Siti yang sedang dicari orangtuanya karena menghilang.

"Eh u kmana sit? Pulang u nyokp bokp u nyariin," tulis Ryha Anggraini, 9 Augustus 2013 sekitar pukul 8:16 pagi.

Masih pada hari yang sama, pada pukul 11.59 WIB, Siti juga mencurahkan, akun Facebook-nya baru saja dibajak oleh seseorang yang telah membohongi dirinya.

"Da yg ketahuan boong. Sampe" Fb gue di hax," tulis mahasiswi berusia 21 tahun itu.

Dua status FB Siti tersebut bisa menjadi informasi tambahan bagi polisi dalam penyelidikan tewasnya Siti. Namun, makna rangkaian kata tersebut masih misterius. Belum diketahui pasti.

Lebaran yang seharusnya dirayakan dengan suka cita pun berubah menjadi duka bagi keluarga Siti. Mahasiswi jurusan Sekretaris Unpam itu segera dimakamkan keluarga setelah diotopsi di RS Polri Karamat Jati Jakarta Timur.

Kekerasan Seksual

Dugaan adanya kekerasan seksual ditampik Kapolsek Rumpin Kompol Nundun Radiaman. Menurutnya tak ada tanda-tanda kekerasan seksual terhadap Siti.

"Hasil koordinasi awal, tidak ada kekerasan seksual. Pakaian korban masih lengkap," kata Nundun di rumah korban di Jalan Tegal Rotan Raya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Selasa (13/8/2013).

Mengenai hasil visum, lanjut dia, pihaknya belum dapat mempublikasikan lantaran membutuhkan waktu sekitar 2 hari. Meski begitu, Nundun memprediksi korban sudah tewas 3 jam sebelum jasadnya ditemukan.

"Barang-barang milik korban hilang mungkin diambil pelaku. Mengenai luka lebam di tubuh korban, kemungkinan dari benda tumpul," imbuh Nundun.

Nundun menerangkan, saat ditemukan, mayat Siti yang sehari-harinya akrab disapa Halim itu dibungkus dalam karung warna putih dan diikat tali rafia.

"Terdapat luka jeratan di bagian leher dan bekas pukulan di wajah. Yang menemukan Pak Selut, warga sekitar situ yang kebetulan mau ambil air di Sungai Cisadane," ujarnya.

Saksi

Tim Polisi Sektor Rumpin yang terdiri dari 5 personel menghimpun keterangan dari ibu kandung Siti, Umiyati. Teman kuliah Siti, tukang getek dan warga juga sudah diperiksa sebagai saksi.

"Sampai saat ini sudah periksa saksi 5 orang dari keluarga, warga, tukang getek, penemu mayat, dan teman korban," jelas Kapolsek Rumpin Kompol Nundun Radiaman yang mendatangi rumah Siti di Jalan Tegal Rotan Raya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.

Namun, polisi juga belum menemukan titik terang kematian gadis kelahiran 17 November 1992 itu.

Asmara Berdarah

Pembunuhan berlatar belakang asmara diungkapkan sahabat Siti, R yang telah 2 tahun menjadi teman curhat gadis 21 tahun itu. R mengungkapkan korban memiliki pacar AS, yang berasal dari Rumpin, Bogor, Jawa Barat, daerah Siti ditemukan tewas.

"Anak Rumpin, Bogor. Siti kenal karena dia kerja di sekitar Pondok Aren," kata R.

R menuturkan, hubungan antara Siti dengan pria berinisial AS itu berjalan putus-nyambung. Korban sempat murka kepada AS lantaran ketahuan mengaku jomblo saat ditanya wanita lain dalam chatting di Facebook.

"Siti marah-marah. Sampai akhirnya keduanya diduga janjian ketemuan," ungkap R.

Selain AS, korban juga memiliki beberapa mantan pacar yang berasal dari Rumpin. "Mantan pacarnya berinisial R dan G," tukas dia.

Ditanggapi Dingin

Penasaran ingin mencari rekan dekat sejak masa SMP-nya itu, R sempat menelepon pacar korban, AS. Namun tidak diangkat. R pun lantas mengirim SMS, namun lagi-lagi tak ada balasan. R pun kemudian menghubungi AS melalui Facebook. Di jejaring sosial itu, R menanyakan apakah sudah mendengar kabar kalau Siti hilang dan tewas. Namun, R mengaku aneh dengan AS, lantaran hanya menjawabnya dengan dingin.

"Aneh, dia bilang 'Iya, sudah tahu. Abis ditelepon kakaknya tadi'," kata R menirukan AS. "Dia jawabnya dingin. Padahal teman-teman lainnya pas dapat kabar itu langsung berbela sungkawa," imbuh R.

Apapun alasannya, pembunuhan terhadap Siti atau menghilangkan nyawa seseorang tidak dapat dibenarkan. Polisi harus segera dapat menguak kasus pembunuhan yang menimpa mahasiswi Semester IV Jurusan Sekretaris Unpam itu. Seyogyanya orang tua juga ikut memperhatikan dan membimbing anak-anak, terutama yang baru mulai beranjak dewasa, agar tidak terjerumus lingkungan pergaulan yang kurang baik. Agar kelak tidak ada korban seperti almarhum Siti berikutnya. (Adi)

Credit: Adi


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler