Komnas HAM: Aksi Siram Air Munarman, Bukti FPI Tak Siap Demokrasi

  • Peristiwa
  • 0
  • 28 Jun 2013 12:55
Aksi tidak terpuji juru bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarwan (45), menyiram air ke wajah Sosiolog sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia, Thamrin Amal Tomagola yang sudah berusia sepuh, 66 tahun, mendapat perhatian banyak kalangan. Tak terkecuali Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Menurut Koordinator Sub Komisi Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM, Roichatul Aswidah, aksi arogan yang ditunjukkan Munarwan dalam perbedebatan itu membuktikan FPI tidak siap untuk berdemokrasi. "Nah itu dia (tidak siap berdemokrasi)," kata Roichatul di Gedung Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/6/2013).

Namun, Roichatul tidak bisa berkomentar banyak secara personal atas aksi penyiraman itu. Akan tetapi, tegas dia, kecenderungan tindak kekerasan di Indonesia sudah saatnya harus dihentikan.

Roichatul mengaitkan hal itu dengan rencana pengesahan Rancangan Undang-Undang Organisasi Masyarakat. Bahwa untuk menindak kekerasan, pemerintah tidak harus mengesahkan RUU Ormas. Mengingat, hal itu sudah ada dalam payung KUHP.

"Kekerasan itu sudah memiliki isntrumen KUHP. Bahwa negara kita harus tegas tehadap kekerasan oleh organisasi dan individu," ucapnya.

Dia juga menyayangkan ketidaktegasan kepolisian untuk menindal aksi kekerasan yang dilakukan ormas atau individu yang mengatasnamakan ormas. "Sekarang sebenarnya polisi tinggal ambil tindakan dengan instrumen hukum yang ada. Ada tidak kemauan polisi untuk itu," ujarnya.

Sebelumnya, Munarman menjelaskan alasan aksinya itu. Menurut dia, apa yang diungkap Tomagola di luar konteks. [Lihat video aksi penyiraman oleh Munarman di tautan ini.]

"Bicaranya di luar konteks. Itu bukan seorang intelektual. Argumentasinya sama sekali tidak ilmiah dan selalu memotong omongan orang," jelas mantan Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ini.

Namun, insiden itu tak membuat Tomagola emosi. "Saya kira saya tidak mau melayani preman. Saya tidak mau membalas dengan kekerasan juga," ujar Tomagola kepada Liputan6.com. "Walaupun saudara saya dari kampung bilang, 'Kenapa kamu nggak balas?' Tapi saya nggak mau. Nanti saya sama seperti preman," ucap Tomagola. (Ein/Sss)

(Ein)

Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler