Sedekah Ilmu dan Jurus Tawakal Bu Een Sukaesih

  • Peristiwa
  • 0
  • 06 Jun 2013 12:12

eensukesih-ikhlas130605b.jpg
Siang itu, Een Sukesih berbaring di ruangan berukuran 2x3 meter, yang dicat warna hijau muda. Ambennya yakni balai-balai dari kayu bersisian dengan televisi, lemari, rak berisi buku. Papan tulis, alat peraga pendidikan, plakat dan piagam penghargaan memenuhi dinding. Di kamar sempit itulah ia tidur, salat, melakukan segalanya. Juga lokasi pengabdian untuknya.

Semangat untuk mendidik anak bangsa tak lantas surut, meski Een lumpuh tak berdaya menghadapi penyakit radang sendi (rheumatoid arthritis) yang membatasi geraknya. Een membuka kamarnya untuk anak-anak yang ingin belajar. Semua dilakukannya tanpa pamrih.

"Pertama saya ingin berempati kepada sesama, saya terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang sangat sederhana, makanya saya dapat merasakan betapa beratnya ingin sekolah, ingin les, tapi tidak punya uang," ujar Een saat ditemui Liputan6.com di kediamannya, RT 01 RW 06 Dusun Dusun Batukarut, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa 4 Juni 2013.

Een ikhlas. Kalaupun ada imbalan buatnya, ia berharap itu datang dari Yang Maha Kuasa. "Saya hanya berharap ridho Allah SWT karena karakater saya dari kecil memang begini. Bukan saya nggak butuh uang, karena di dunia ini butuh uang. Saya mungkin sangat butuh dibanding yang sehat, tapi saya ikhlas karena hanya berharap ridho Allah SWT. Dan saya yakin Allah SWT akan mengganti dengan yang terbaik," ujarnya yakin.

Manusia memang tak bisa hidup tanpa materi. Yang penting, manusia harus seimbang menjalankan hak dan kewajibannya.

"Wajar kerja keras kita dapat imbalan, karena itu hak. Tapi kadang sekarang banyak hak tak diimbangi kewajiban. Hanya nuntut hak, kewajibannya diabaikan, saya nggak ingin seperti itu. Tentang materi Allah SWT yang mengatur, selama kita berusaha dan berdoa, insya Allah akan dibalas," ucap Een.

Perempuan berumur 50 tahun ini yakin sebesar apapun kebaikan yang dilakukan seseorang, itu akan kembali pada diri orang tersebut. "Karena Allah akan balas perbuatan baik meski sebiji jarah. Saya di kamar ini nggak bisa buat apa-apa. Datang ke dunia ini, saya nggak bisa membaca huruf, saya nggak punya apa-apa. Saya hanya mencoba memberikan kasih sayang kepada sesama, tidak lebih, dan ilmu yang saya dapat akan saya berikan."

"Sedekah tak hanya dengan harta tapi dengan ilmu, insya Allah apa yang kita miliki tidak akan berkurang," ujar Een.

Saat mendidik anak-anak, tak ketinggalan Een mengajarkan tentang kesederhanaan dan keyakinan spiritualitas. Dengan contoh-contoh sederhana. "Dulu sebelum ada whiteboard, anak-anak belajar menggunakan kapur. Terkadang, kita butuh kapur, terus saya bilang ke mereka untuk memunguti potongan kapur sisa di sekolahan, bukan mengambil yang utuh, itu mencuri," kenangnya.

"Kemudian Allah kasih jalan dengan whiteboard, tiba-tiba ada yang datang menawarkan whiteboard. Lalu saya bilang ke anak-anak, ternyata Allah tahu kesulitan umatnya, Allah mengatur semuanya. Ketika saya ingin komputer agar anak-anak pandai tidak ketinggalan dengan anak kota, beberapa ada yang kasih. Itu kan bukti Maha Agungnya Allah," ujar Een. (Ein/Sss)

Credit: Ein

Terpopuler