Mengenal Almarhum Putra Bungsu Wiranto

By Luqman Rimadi

on May 30, 2013 at 01:10 WIB

Cerita anak Jenderal yang pongah, sombong, dan 'borjuis' sama sekali tak melekat pada almarhum Zaenal Nur' Rizki. Padahal, pria kelahiran Gorontalo, 8 Maret 1990 itu bukan hanya anak petinggi TNI AD, tapi anak bungsu dari Panglima ABRI tahun 1998-1999, Jenderal TNI Wiranto. Zaenal dikenal sebagai sosok yang sangat-sangat sederhana. Dia memilih untuk merantau. Seakan menjauh dari stereotipe seorang anak jenderal. Tidak tanggung-tanggung, Zaenal terbang ke Afrika Selatan pada 2011, ke Negerinya Nelson Mandela.

Dia pergi bukan untuk mengabdi sebagai tentara seperti sang ayah. Bukan pula sebagai pejabat negara. Zaenal merantau untuk memperdalam ilmu agama Islam. Adik dari Amalia Siyanto dan Ika Mayasari ini memilih untuk mendalami Islam di Perguruan Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Uloom Zakariyya, Johannesburg. Zaenal mengambil jurusan Tafsir dan Hafiz Al Quran.

Zaenal dinilai sebagai pria yang cerdas. SD Al Azhar menjadi pendidikan formal pertama. Dilanjut ke SMP Sudirman dan pindah ke SMP di Sentul Boarding School, Bogor. Bangku SMA dihabiskan di Lab School, Rawamangun, Jakarta Timur. Zaenal akhirnya lolos dan menjadi mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

"Tepatnya 2 tahun lalu, mengambil jurusan Hukum Internasional," ujar Wiranto saat berbincang-bincang dengan Liputan6.com di kediamannya di Kompleks Perumahan Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat, Bambu Apus, Jakarta Timur, Rabu malam (29/5/2013).

Namun, hanya satu semester Zaenal mengenyam bangku UGM. Dia putuskan kembali ke Jakarta dan ikut sang kakak itikaf di beberapa masjid. Apa gerangan yang membuat Zaenal gelisah? Hingga mengambil keputusan besar meninggalkan bangku kuliah di kampus favorit. "Ia mengambil keputusan, lebih baik mendalami agama dulu karena merasa ada yang salah selama ini dalam hidupnya," cerita Ketua Umum Partai Hanura ini.

Pemuda yang hobi menyanyi, baca puisi, dan membaca Al Quran ini tidak hanya sukses melumat mata pelajaran formal di sekolah. Tapi juga melahap ilmu-ilmu Islam. Setiap hari menghafal hadits, belajar bahasa Urdu dan Arab. "Selepas lulus SMA, langsung tertarik dahwah dan bergabung dengan sebuah komunitas dakwah. Satu komunitas dengan mantan personel Sheila on Seven, Sakti," kata sang ibunda, Rugaiyah Usman atau yang dikenal Uga Wiranto saat berbincang dengan Liputan6.com.

Zaenal merupakan pengantin baru. Sekitar 2 bulan lalu, tepatnya 13 Maret 2013, Wiranto dan Uga terbang ke Johannesburg untuk menikahkan si bungsu dari tiga bersaudara itu. Zaenal menikah dengan gadis berdarah Indonesia yang sudah menjadi warga negara Afrika Selatan. "Nama istrinya Salsabila. Ibunya asli Ujung Pandang, ayahnya dari Solo," jelas Uga.

Menantu Wiranto itu putri seorang pilot maskapai internasional. Namun siapa nama besannya, Wiranto enggan membeberkannya. 2 Hari lalu pria berusia 23 tahun ini mengalami demam tinggi dan meninggal dunia. Wiranto mengira demam yang diderita anaknya hanya demam biasa. Ternyata sakit putra satu-satunya itu cukup parah.

"Kemudian masuk rumah sakit, dan setelah 2 hari di rumah sakit. Akhirnya, kami pun harus merelakannya menghadap kepada Yang Kuasa," ujarnya. Menurut Wiranto, sakit demam itu tak hanya diderita anaknya di asrama. "Jadi memang hampir sepertiga mahasiswa di sana kena demam. Memang musimnya lagi dingin."

'Pulang' ke Jakarta

Takdir sudah berkata lain. Zaenal sedianya pulang ke Indonesia hari ini. Tiket pulang ke Indonesia yang sudah dibeli, tertanggal untuk jadwal penerbangan hari ini ke Jakarta. "Rencananya hari ini almarhum akan pulang ke Indonesia. Dia sudah membeli tiket. Tiket yang sudah dibeli itu tertanggal jadwal penerbangan hari ini," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu Hanura, Yuddy Chrisnandi dalam perbincangan dengan Liputan6.com.

Pukul 01.00 dini hari kemarin telepon berdering di kediaman Wiranto. Suara dari seberang sana menyapa dan berbincang. Kabar duka sudah disampaikan sebelumnya. Di Afrika Selatan sekitar pukul 18.00 WIB atau selepas magrib. Lawan bicara Wiranto itu memohon izin agar Zaenal dapat dimakamkan di sana. Wiranto mengizinkan, melepas penuh ikhlas. Mengapa Wiranto dan Uga begitu ikhlas anaknya dimakamkan di negeri orang? Banyak pertimbangan.

"Tempatnya jauh dari Johanesburg. Masih dua jam ke Lenasia. Itu daerah pemukiman umat Islam. Kalau kita paksakan ke Tanah Air, perlu usaha ekstra keras. Kami nggak tahu bagaimana izin pengembalian jenazah di sana. Bisa keluar apa nggak," kata Wiranto. Akhirnya keluarga memutuskan jenazah si bungsu dimakamkan di sana. Harus disegerakan. Zaenal dimakamkan di pemakaman umum muslim Lenasia, Johannesburg, Afrika Selatan. "Kalau kelamaan tidak baik, harus dibalsem lagi. Rute pesawat terbang pun sulit. Di sana tidak ada lapangan terbang. Jadi di manapun dimakamkan tidak masalah," ujar Wiranto.

Wiranto menyebut putra satu-satunya itu telah berjuang di jalan Tuhan atau fisabilillah. Si bungsu itu, menurut Wiranto, meninggal dunia dengan berakhir baik atau husnul khotimah. Wiranto dan keluarga ikhlas dan merelakan Zaenal dimakamkan di negeri orang. "Dia meninggal dalam keadaan mulia. Anak kami lagi belajar Al Quran. Katakanlah, dia meninggal dalam fisabillah dan husnul khotimah," kata Wiranto.

Berikut penggalan puisi 'Cinta dan Kematian' karya almarhum Zaenal yang dibacakan Wiranto usai salat gaib di kediaman:

........

Cinta pada Allah SWT adalah kekal abadi
Terhalang oleh harta akan dicukupkan
Terhalang oleh maut tak ada kematian

..........

(Ism)

Credit Ism

Suka artikel ini?
Luqman Rimadi
Luqman Rimadi

  Full bio »

0 Comments