Cerita Hidayat Nur Wahid di Balik 'Kisruh' PKS Vs KPK

  • Peristiwa
  • 0
  • 08 Mei 2013 16:36
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membantah halangi upaya para penyidik Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), yang akan menyita mobil di kantor DPP partai dakwah itu, pada Senin 7 Mei malam. PKS tak memberi izin penyidik KPK membawa mobil-mobil mewah itu lantaran tak ada surat perintah penyitaan.

Menurut Ketua Fraksi PKS DPR Hidayat Nur Wahid, anggapan PKS menghalangi KPK berasal dari pemberitaan media massa. "Kami tidak melawan KPK, sikap PKS sangat jelas mendukung KPK," ujarnya di Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/5/2013).

Hidayat pun menuturkan kronologi penyitaan beberapa mobil itu; pada Senin 6 Mei, sejumlah penyidik KPK mendatangi Kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Petugas keamanan di kantor itu pun menanyakan tentang surat tugas yang dibawa para penyidik. "Waktu itu, pihak KPK tidak bisa menunjukkan surat penugasan," ucap Hidayat.

Kemudian, lanjutnya, para petugas keamanan meminta para penyidik untuk datang pada keesokan pagi sembari membawa surat resmi. "Sampai Selasa sore, surat itu tidak dibawa," kata Hidayat.

Menurutnya, para penyidik KPK itu justru datang hanya membawa surat undangan untuk Ketua Majelis Syuro Hilmi Aminuddin dan Presiden PKS Anis Matta sebagai saksi bagi mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Tanpa surat resmi, menurut Hidayat, adalah penyebab terjadinya kehebohan.

"Apa sih susahnya KPK membawa surat dan secara definitif menyebutkan mobil yang diambil dan atas dasar apa. Saya yakin tidak ada masalah," tegas Hidayat.

Hidayat melanjutkan, tanpa surat resmi, para petugas keamanan pun tak memperkenankan penyidik membawa mobil-mobil yang ada di Kantor DPP PKS. "Penyidik akhirnya hanya menyegel mobil-mobil itu," ungkap Hidayat.

"Kawan-kawan melihat tidak ada surat, merasa harus mengamankan. PKS tidak ada masalah dengan penegakan hukum," imbuhnya.

Lima mobil yang disegel KPK yakni VW Carravelle, Mazda CX9, Fortuner B 544, Mitsubishi Pajero Sport, dan Nissan Navara. Dari kelima mobil itu, Hidayat mengaku hanya mengetahui mobil Mazda, yang merupakan mobil pribadi Luthfi Hasan Ishaaq.

"Sisanya saya tidak tahu punya siapa. Tapi secara umum jika berada di partai, maka digunakan untuk operasional partai," tegas Hidayat. (Mut)
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler