Parpol Lebih Suka Cara Instan Rekrut Caleg

By Rochmanuddin

on May 03, 2013 at 13:55 WIB

Munculnya fenomena calon legislatif dari kalangan selebriti akibat kegagalan partai politik. Parpol yang cenderung pragmatis lebih memilih kalangan selebriti sebagai calon legislatifnya. Parpol juga lebih suka memilih cara instan dalam merekrut caleg.

"Ini gejala yang menunjukkan kekeroposan dan defisit kaderisasi parpol akibat tidak mengembangkan kader sejak awal. Ini karena kepemilihan pragmatis," ujar pengamat sosial politik Universitas Gajah Mada Arie Sujito di Jakarta, Jumat (3/5/2013).

Sikap pragmatisme parpol, kata Sujito, terlihat ketika parpol lebih mengutamakan pemenuhan kuota daftar calon legislatif sementara (DCS) ketimbang kualitas. Parpol juga cenderung lebih memilih unsur popularitas ketimbang kualitas calegnya.

"Parpol enggan belajar dari pengalaman sebelumnya. Parpol lebih suka cara instan dalam merekrut caleg ketimbang memupuk sejak awal. Tidak mau memperbaiki pengalaman sebelumnya. Parpol tidak peduli," tuturnya.

Kondisi seperti ini, lanjut Sujito, justru dapat mengancam eksistensi parpol itu sendiri. "Kalau parpol lebih mengutamakan kuantitas maupun popularitas bukan atas kemauan atau keinginan masyarakat, ini tentu menjadi bumerang bagi partai itu sendiri," jelasnya.

Dia menyatakan, tak ada alasan bagi parpol untuk menyiapkan calon legislatif yang mumpuni. Karena jelas, setiap parpol memiliki kesempatan selama 4 tahun untuk menyiapkan caleg yang mumpuni. "Enggak ada alasan bagi parpol tak punya kesempatan, KPU sudah menyiapkan waktu selama 4 tahun," imbuhnya.

Menanggapi terkait peluang para caleg selebriti ini, menurutnya, tergantung kecerdasan pemilih atau masyarakat. Jika masyarakat lebih cerdas dan tidak tergiur uang maupun popularitas, maka peluang para caleg selebriti ini tidak terlalu besar.

"Tapi tentunya pemilih harus benar-benar melihat track record para calon legislatif," pungkas Sujito. (Frd)

Credit Frd

Suka artikel ini?
Rochmanuddin
Rochmanuddin

  Full bio »

0 Comments