Malam Sebelum Meninggal, Uje Pesan Kopi Termahal di Kafe

By Edward Panggabean

on Apr 28, 2013 at 10:36 WIB

Sebelum mengalami kecelakaan maut di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Ustad Jefri Al Buchori atau akrab disapa Uje sempat mampir ke Black Canyon Coffee di kawasan Kemang, Jaksel. Ia masuk bersama 4 orang temannya. Uje lalu duduk di meja nomor 3 bersama 2 temannya, sedangkan 2 teman lainnya di meja nomor 4.

Malam itu Uje tampak lemas. Kondisi pria kelahiran Jakarta, 12 April 1973, itu memang sedang tidak sehat. Ia mengajak teman-temannya keluar malam hari untuk sekadar menghilangkan kejenuhan setelah lama berada di rumah.

Setelah duduk, Uje menyeruput kopi luwak pesanannya. Dalam kondisi tubuh yang lemas, acapkali ia bercanda dengan seorang pramusaji. "Dia ngomong. Saya pesan kopi, yang paling mahal apa, kata Uje sambil bercanda," tutur Misbahul Barokah alias Ciko, pramusaji Black Canyon Coffee saat ditemui Liputan6.com, Jakarta, Jumat (28/4/2013) malam.

Pertanyaan Uje dijawab Ciko, "Ada Pak, kopi luwak," namun Uje meminta dilayani di mejanya. "Tapi bikinnya di sini ya kata Uje," lalu ditimpali Ciko "iya Pak bikinnya di sini," jawab karyawan yang baru bekerja 3 bulan di kafe itu.

Ciko menceritakan, Uje tiba di Black Canyon Coffee sekitar pukul 11.30 WIB. "(Uje) tiba sekitar 11.30. Dia ramai ada 5 orang, ada dua table (meja). Uje di table 3 sama 2 temannya, sedangkan table 4 ditempati 2 teman lainnya," ucap Ciko.

Selepas menyentuh tubuhnya di sofa berwarna abu-abu itu, Uje pun mengeluarkan smartphone miliknya. Ia kemudian menanyakan password atau kode wifi kepada Ciko.

"Sebelum pesan minuman, dia minta password wifi sini, saya sebutkan tomyumsoup, kemudian kurang dengar, karena dia pake handsfree. Lalu saya ulangi lagi password wifi tersebut, dia malah bercanda dengan menjawab, iya Pak Guru, itu kata Uje," imbuh pria berusia 22 tahun ini.

Dikatakan Ciko, awalnya dia tidak mengenal Uje. Sebab almarhum berusia 40 tahun itu menutup bagian kepala dengan topi berwarna hitam dan berbusana hitam-hitam.

"Awalnya saya enggak tahu itu Uje karena pake topi (merek) topinya enggak perhatin. Baju hitam, celana jins hitam mungkin. Tapi pas saya ambil pesanan ordernya kopi luwak ke anak bar. Saya baru tahu kalo itu Uje. Setelah dikasih tahu teman-teman," cerita Ciko.

Selain memesan kopi luwak, Uje memesan aqua reflektion. Sedangkan rekan-rekan Sang Ustad ada yang memesan orange juice, black coffee dan french fries atau kentang goreng.

"Dia juga pesan aqua reflektion juga, sementara teman lainnya kopi hitam sama french fries," ujar dia. Ia terkejut ketika pagi harinya dikabarkan telah meninggal.

Uje mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Gedung Hijau Raya, Pondok Indah, Jumat 26 April dini hari. Ayah 4 anak itu mengendarai motor gede Kawasaki E650 bernopol B 3590 SGQ dengan kecepatan tinggi.

Bahkan, seorang saksi menyatakan tak mampu mengejar Sang Ustad dengan kecepatan 100 km/jam. "Mereka semua mengendarai motor. Ustad (Uje) jalan duluan. Kata (saksi) yang ikut saat itu, 'Saya di atas 100 km per jam saja tidak ngejar," ungkap Kang Asep saat ditemui di kediaman Uje di Perumahan Bukit Mas Bintaro, Rempoa, Tangerang Selatan, Jumat 26 April lalu.

Moge milik Uje menabrak pohon palem kedua di tepi jalan. Tubuh Sang Ustad terpental sekitar 3-4 meter, kemudian mogenya masih melaju hingga 30 meter.(Ais)
Suka artikel ini?
Edward Panggabean
Edward Panggabean

  Full bio »

0 Comments