Ultah Pendiri Korut, Jong-un Luncurkan Rudal 'Perang' Hari Ini?

By Rizki Gunawan

on Apr 15, 2013 at 09:51 WIB

Selama berminggu-minggu, pemimpin muda Kim Jong-un sesumbar bakal meluncurkan rudal Musudan pertanda perang melawan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Tapi nyatanya sampai saat ini, rudal belum juga diluncurkan.

Spekulasi pun bermunculan. Beberapa media dunia, seperti dari BBC sampai News.com.au menduga kemungkinan besar peluncuran rudal bakal dilakukan hari ini, Senin (15/4/2013), karena bertepatan dengan hari kelahiran pendiri Korut Kim Il-sung yang merupakan kakek Kim Jong-un.

"Kim Jong-un menginginkan sesuatu yang spesial untuk membuat pemimpin abadi Kim Il-sung bangga," tulis News.com.au dalam artiket berjudul 'Is today D-Day for North Korea?', Senin 15 April.

"Senin 15 April, Korut akan merayakan hari kelahiran sang pelopor negeri, Kim Il-sung. Biasanya dalam kesempatan tersebut, Korut bakal menunjukkan kekuatan militernya, seperti meluncurkan rudal," sebut BBC dalam artikelnya berjudul 'Kerry urges North Korea to join regional dialogue', Minggu 14 April.

Pada hari kelahiran Kim Il-sung, pemerintah Korut selalu menetapkan hari libur nasional. Pada hari ini juga, pemerintah negara yang beribukota di Pyongyang itu untuk menjebloskan para penentang negara atau pemberontak ke penjara. Lalu apakah rudal Musudan bakal diluncurkan hari ini?

Warga Kelaparan dan Terisolir

Korut merupakan negara kecil yang kini berada dalam pusaran politik global. Semua mata mengarah ke sana, harap-harap cemas jika sesumbar pemimpin belia Kim Jong-un meluncurkan senjata nuklir, menjadi kenyataan.

Semenanjung Korea di ambang peperangan. Namun, tak banyak yang diketahui orang tentang kehidupan rakyat Korut. Sebaliknya mereka tak tahu apa yang terjadi di dunia luar. Propaganda gencar membuat mereka yakin benar diberkahi hidup di negara paling aman, makmur, paling sejahtera di muka bumi. Dengan pemimpin -- setara dewa -- yang bakal menjamin kehidupan mereka.

Namun faktanya bertolak belakang. Selain buta informasi tentang dunia dan secara harfiah, mereka juga mati kelaparan. Kebutuhan dasar tak sanggup dipenuhi. Sebuah realitas brutal di bawah Kim Jong-un, yang melanjutkan tirani ayahnya Kim Jong-il dan kakeknya Kim Il-sung.

Ukuran fisik warganya yang menyusut menjadi bukti tak terbantahkan. Orang Korut yang dulu lebih tinggi dari tetangganya di Korsel, kini mengecil. Kebanyakan pria sudah cukup beruntung jika tinggi badannya lebih dari 150 cm.

Penyusutan ukuran terkait malnutrisi. Juga terkait kelaparan massal yang terjadi pertengahan tahun 1990-an, di mana rakyat di sana terpaksa makan rumput dan gulma.

Dalam bukunya, "Nothing to Envy" yang ditulis jurnalis Amerika Serikat, Barbara Demick mengatakan, "resep" itu berasal dari seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit -- tanpa perban, tanpa obat, apalagi infus.

"Dokter itu tak bisa berbuat apapun ketika korban kelaparan datang ke RS, selain menyarankan untuk menggiling rumput dan gulma hingga halus, lalu dimasak menjadi sup kental," ungkap Demick. (Riz)

Suka artikel ini?
Rizki Gunawan
Rizki Gunawan

  Full bio »

0 Comments