Sukses

Seabad Maestro S. Sudjojono, Sang Pelukis Karya Zaman Belanda

Hanya segelintir seniman yang berhasil menampilkan esensi jiwa bangsa dan rakyatnya, salah satunya adalah pelukis S. Sudjojono. Bekerja sama dengan berbagai institusi, S. Sudjojono Center pun merayakan ulang tahun ke 100 sang maestro itu di sepanjang tahun 2013.

Perayaan bertajuk 'Seabad S. Sudjojono' merupakan suatu bentuk penghormatan, atas peran dan kontribusi seniman berbakat itu terhadap dunia seni rupa Indonesia serta pengaruh dan relevansi beliau terhadap perkembangan dunia seni rupa saat ini.

'Seabad S. Sudjojono' itu memiliki berbagai rangkaian kegiatan, dan sebagai puncak acaranya akan digelar sebuah pameran seni, kehidupan dan legacy S.Sudjojono selama 1 bulan.

"Dari tanggal 13 Desember 2013 sampai dengan 12 Januari 2014, di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Khusus pada pembukaan pameran tanggal 12 Desember 2013, Pasca Sarjana IKJ sebagai pendukung Seabad S.Sudjojono akan mempersembahkan pementasan teater," seperti dikutip dari pernyataan tertulis acara tersebut yang dilansir Sabtu 13 April 2013.

S. Sudjojono adalah sosok penting dalam dunia seni rupa Indonesia. Berbagai pihak menyebutnya sebagai “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia”, atas usahanya dalam mencari, membentuk dan membangun seni rupa yang berkarakter Indonesia.

Hal itu juga dilakukan tidak saja melalui karya-karya seninya, namun juga dari ide-ide dan pemikiran-pemikiran revolusionernya, tulisan-tulisannya serta dari keterlibatannya secara langsung dalam mendirikan beberapa asosiasi seni pertama pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Pada momen 'Seabad S. Sudjojono' yang istimewa itu, perhatian khusus diberikan pada salah satu karya agung sang maestro yaitu Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen.

Lukisan itu merupakan pesanan dari Gubernur Jakarta saat itu, Bapak Ali Sadikin sebagai bagian dari peresmian Museum Sejarah Jakarta tahun 1974.

Lukisan ini menggambarkan beberapa adegan dari satu peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia sebelum diraihnya kemerdekaan. Sultan Agung, raja Mataram pada saat itu menyerang pasukan JP Coen, Gubernur Jenderal VOC di Batavia (sekarang Jakarta). Demi kesempurnaan lukisan ini, tidak kurang dari 1 tahun S. Sudjojono menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan lukisan tersebut termasuk melakukan riset tunggal di Belanda selama 3 bulan untuk memastikan kebenaran fakta-fakta sejarah peristiwa tersebut. Bahkan termasuk memastikan bentuk baju prajurit Belanda dan muka JP Coen yang asli.

Karya lukisan tentang peristiwa sejarah perjuangan bangsa melawan penjajahan berukuran raksasa (3x10 meter) itu merupakan sebuah aset yang tak ternilai. Karena bukan saja bercerita tentang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga warisan seni lukis anak bangsa. Generasi muda dan yang akan datang berhak untuk dapat menikmati dan punya kebanggaan pada tanah airnya melalui lukisan tersebut.

'Seabad S Sudjojono juga dimaksudkan untuk mengetuk kesadaran dan apresiasi terhadap mahakarya itu, yang walaupun telah mengalami proses restorasi di tahun 2008 namun kondisinya masih mengkhawatirkan. Dengan usaha itu, diharapkan dapat meningkatkan pengertian akan nilai, peran dan pelestarian karya tersebut. (Tnt)