by

Warga Korut.. Lapar Makanan, Dahaga Akan Kebenaran

  • Internasional
  • 0
  • Rabu, 10 April 2013 12:12
Korea Utara. Negeri kecil itu kini berada dalam pusaran politik global. Semua mata mengarah ke sana, harap-harap cemas jika sesumbar pemimpin belia Kim Jong-un meluncurkan senjata nuklir, menjadi kenyataan.

Semenanjung Korea di ambang peperangan. Namun, tak banyak yang diketahui orang tentang kehidupan
rakyat Korut. Sebaliknya mereka tak tahu apa yang terjadi di dunia luar. Propaganda gencar membuat mereka yakin benar diberkahi hidup di negara paling aman, makmur, paling sejahtera di muka bumi. Dengan pemimpin -- setara dewa -- yang bakal menjamin kehidupan mereka.

Namun faktanya bertolak belakang. Selain buta informasi tentang dunia dan secara harafiah, mati kelaparan.
Kebutuhan dasar tak sanggup dipenuhi.  Sebuah realitas brutal di bawah Kim Jong-un, yang melanjutkan tirani ayahnya Kim Jong-il dan kakeknya Kim Il-sung.

Ukuran fisik warganya yang menyusut menjadi bukti tak terbantahkan. Orang Korut yang dulu lebih tinggi dari tetangganya di Korsel, kini mengecil. Kebanyakan pria sudah cukup beruntung jika tinggi badannya lebih dari 150 cm.

Penyusutan ukuran terkait malnutrisi. Juga terkait kelaparan massal yang terjadi pertengahan tahun 1990-an, di mana rakyat di sana terpaksa makan rumput dan gulma.

Dalam bukunya, "Nothing to Envy" yang ditulis jurnalis Amerika Serikat, Barbara Demick mengatakan, "resep" itu berasal dari seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit -- tanpa perban, tanpa obat, apalagi infus. "Dokter itu tak bisa berbuat apapun ketika korban kelaparan datang ke RS, selain menyarankan untuk menggiling rumput dan gulma hingga halus, lalu dimasak menjadi sup kental."

Kenyataan pahit itu tak terjadi di tengah perang, namun di Korut tahun 1990-an, akibat kelaparan hebat akibat hujan yang terus turun. Juga kegagalan manajemen pemerintah.

Pemerintah Korea Utara selama bertahun-tahun mengandalkan pinjaman dan impor murah dari tetangga yang simpatik Cina dan Rusia. Semua itu berakhir ketika Uni Soviet hancur.

Neraka "Kamp" Tahanan

Jika kehidupan warga sipil sudah luar biasa susah, apalagi mereka yang hidup di dalam kamp tahanan seperti Shin Dong-hyuk (30). Kesalahannya? Hanya karena ia kebetulan dilahirkan.

Dua saudara kakek Shin membelot ke Korsel saat Perang Korea. Sebagai hukuman kakek yang tak bersalah itu dikirim ke Kamp 14, di mana ayahnya, lalu Shin dilahirkan.

Tiga generasi dalam keluarga Shin dihukum atas kesalahan kerabat mereka. Anak-anak yang kebetulan terlahir dalam kamp sama sekali tak tahu dunia luar. Tak tahu apakah bumi itu bulat atau kotak. Tak tahu ada Amerika Serikat -- yang dianggap musuh bebuyutan negerinya. Kamp 14 adalah seluruh dunianya.

Bagi Shin saat itu, tak ada mimpi untuk lari. Ia bahkan menikmati eksekusi tahanan yang gagal melarikan diri. Hingga suatu hari ia mendengar indahnya kehidupan dunia luar dari tahanan baru. Shin memutuskan kabur.

Saat mencari kayu bakar di pegunungan, ia kabur. Lolos, meski tubuhnya tersengat pagar listrik. Untuk kali pertamanya dalam hidup, ia merasakan kebebasan. Yang berarti bisa makan sepuasnya.

"Saat aku makan sesuatu yang lezat, tertawa bersama teman-temanku, atau mendapatkan uang. Aku sangat senang, namun hanya sementara. Selanjutnya aku khawatir lagi," kata dia dalam acara American 60 Minutes, seperti dimuat News.com.au (9/4/2013).

"Yang kukhawatirkan adalah orang-orang yang masih terjebak dalam kamp tahanan. Anak-anak yang dilahirkan di sana, dan seseorang yang mungkin sedang dieksekusi."

Shin menambahkan, masyarakat di sekitar kamp juga tak kalah kelaparan dan buta akan informasi.

Dan, meski Kim Jong-un tahu itu, mereka tak peduli, bahkan membiarkannya. Alih-alih memberi makan rakyatnya, pemimpin belia itu memilih nuklir, untuk menakut-nakuti dunia, dan memberikan kebanggaan semu pada warganya.(Ein)

(Ein)
Comments
Sign in to post a comment