TNI-GAM Bentrok, Dua Tentara Terluka

on May 22, 2003 at 05:28 WIB

Liputan6.com, Aceh Besar: Anggota TNI yang terluka dalam pertempuran antara personel TNI Batalyon 305 Kujang dengan Gerakan Aceh Merdeka di kawasan Lampu Uya, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu (21/5) petang tadi dilaporkan bertambah satu. Setelah sebelumnya diberitakan seorang lain personel TNI tertembak di kaki [baca: Patroli TNI Dihadang GAM]. Mereka diserang dari arah desa tersebut sampai-sampai sebuah panser tak bisa menerobos masuk dan terhenti di tengah jalan karena tak bisa berjalan mundur. Sementara korban GAM hingga kini masih belum diketahui.

Sejak Rabu pagi hingga malam ini, pasukan TNI juga diberitakan menyerang Pulau Nasi, pulau kecil dari arah barat laut Banda Aceh, yang disinyalir menyimpan 60 orang kekuatan GAM. Kekuatan TNI yang dikerahkan meliputi dua tim katak, satu peleton Marinir, dan satu kompi Batalyon 112. Mereka menyerang dari arah udara, darat, dan laut. Sedangkan prajurit Batalyon 305 ditugaskan menjaga Dermaga Pekanbada, agar GAM tak dapat melarikan diri ke daratan Aceh lewat jalur tersebut. Kemungkinan, jumlah pasukan ini masih akan ditambah jika diperlukan.

Hingga Rabu malam, Aceh juga masih dipanaskan oleh pembakaran gedung sekolah, yang menurut Dinas Pendidikan NAD jumlahnya sudah bertambah dari 206 menjadi 250 gedung, terutama di daerah-daerah basis GAM. Sementara pelakunya belum diketahui sampai sekarang. Menanggapi aksi tersebut, Panglima Daerah Militer Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Endang Suwarya selaku penguasa daerah militer mengeluarkan maklumat bernomor 2/NKRT/V/2003 tentang Perintah Tembak di Tempat. Peraturan yang berlaku mulai ditetapkan di Banda Aceh, tertanggal 21 Mei 2003 itu berisi tentang tindakan tegas diperuntukkan bagi setiap orang yang kedapatan merampok, merampas harta benda, dan menculik; setiap orang yang melakukan perusakan, pembakaran rumah tinggal, rumah toko, kendaraan pribadi, gedung sekolah, kantor pemerintah maupun swasta, dan instansi-instansi penting seperti Perusahaan Listrik Negara, Telekomunikasi, Radio Republik Indonesia, dan Televisi Republik Indonesia; serta setiap orang yang merusak tempat-tempat ibadah, pusat-pusat keramaian seperti pasar dan pusat perbelanjaan.

Lalu lintas jalur Bireun-Lhokseumawe yang biasanya ramai pun diinformasikan lengang. Hanya beberapa kendaraan pengangkut wartawan terlihat melintas. Sementara jumlah personel TNI/Polri yang berpatroli bertambah dan semakin ketat. Setiap kendaraan yang lewat jalur itu diperiksa. Sebagian besar kedai-kedai tutup dan warga memilih diam di dalam rumah. Maklum, Rabu pagi tadi ditemukan dua bom aktif, masing-masing seberat 50 kilogram di tepi jalan di Kecamatan Jeumpa, Bireun [baca: Dua Bom Aktif Ditemukan di Bireun].

Sementara dari Rumah Sakit Angkatan Darat Banda Aceh Rabu siang, diberitakan dua pasien korban perang TNI-GAM masih dirawat di sana. Pertama Prajurit Satu Syahruddin anggota Batalyon Infanteri 712 yang terluka tembak di lengan saat pertempuran di Bireun, Selasa kemarin. Yang kedua adalah seorang warga sipil bernama Jafarsyah alias Dedet, yang menderita luka bakar gara-gara berusaha menyelamatkan dua anaknya saat rumahnya terbakar. Bangunan tersebut dibakar dua orang tak dikenal.

Di lain pihak, jenazah Brigadir Polisi Dua Eko Sandi Yudha, anggota Brigade Mobil Kepolisian Daerah Jawa Timur yang gugur dalam pertempuran di Aceh, petang tadi, tiba di rumah duka di Desa Ngampelsari, Kecamatan Candi Sidoarjo. Tentara yang masih bujangan itu pertama kali menjejakkan kaki di Aceh pada Februari silam. Kontan, kedatangan putra pertama dari tujuh bersaudara ini disambut tangis pilu dari keluarganya. Namun, Suwandi, ayah korban yang menjabat Kepala Desa Ngampelsari menyatakan mengaku rela melepaskan kematian putranya dengan tangan terbuka. "Saya serahkan kepada Allah kalau garis tangan kepergiannya untuk tugas negara," kata pria yang purnawirawan TNI itu. Setelah disemayamkan di rumah duka, jasad Eko dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Islam desa setempat.

Selain korban tewas, jumlah orang hilang di Tanah Rencong juga bertambah [baca: Sejumlah Mayat Ditemukan di Bireun]. Kali ini menimpa istri dari M. Jamal, juru kamera TVRI setempat. Perempuan itu diyakini raib sejak Selasa kemarin sekitar pukul 06.30 WIB. Kasus ini masih ditangani Kepolisian Resor Banda Aceh dan masih belum menemukan titik terang.(MTA/Tim Liputan 6 SCTV)
Suka artikel ini?

0 Comments