Paus Fransiskus Bicara Soal Misteri 'Kain Kafan Yesus'

on Mar 31, 2013 at 13:23 WIB

Sejumlah orang meyakini, kain kafan Turin atau Shroud of Turin diyakini sebagai pembungkus jasad Yesus pasca penyaliban. Di lembaran kain tua itu, tercetak citra samar dari darah yang mengering: seorang pria tinggi berambut panjang dan berjenggot.

Noda darah tebal terlihat di pergelangan tangan dan pergelangan kaki-- sesuai dengan posisi Yesus ketika dipaku di tiang salib.

Meski menganggapnya sebagai relik suci, sekian lama Gereja Katolik menghindar untuk mengeluarkan pernyataan soal keasliannya.  Namun, secara eksplisit Paus Fransiskus menyinggung keterkaitan kain kafan Turin itu dengan Yesus dalam rekaman pesan videonya terkait penayangan soal kain suci itu di televisi Italia.

Paus asal Argentina itu mengatakan, "Pria dalam kafan itu  mengundang kita untuk merenungkan Yesus dari Nazaret."

"Wajah yang rusak itu, serupa dengan wajah pria dan wanita yang hancur oleh hidup yang tak menghormati martabat mereka, oleh perang dan kekerasan yang menimpa orang-orang lemah," kata Paus seperti dimuat Daily Mail, Minggu 31 Maret 2013.

Paus menambahkan, di saat bersamaan, wajah di kain kafan itu menunjukkan kedamaian yang agung. "Tubuh yang disiksa itu menunjukkan sebuah keagungan yang berdaulat".

Berbicara sebelum memimpin perayaan Paskah pertamanya di Basilika Santo Petrus Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan, mata sosok di kain kafan itu terpejam. "Namun secara misterius Dia mengawasi kita, dan dalam keheningan Dia berbicara kepada kita."

Sementara, awal minggu ini, para peneliti  mengungkap, kain sepanjang 14 kaki atau 4,2 meter itu berasal dari masa 300 SM sampai 400 Masehi, bukan Abad Pertengahan seperti argumentasi ilmuwan sebelumnya. Membuktikan kain itu tidak palsu. Temuan ilmiah terbaru dituang dalam buku Il Mistero della Sindone (Misteri Kain Kafan) yang diterbitkan tepat pada hari Jumat Agung.

Kain kafan, yang merupakan salah satu peninggalan Katolik yang paling kontroversial, pernah dideskripsikan oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai 'ikon penderitaan sepanjang zaman'.

Pernah Diincar Hilter

Sebelumnya, uji karbon pada 1988 menyatakan kain itu dibuat antara tahun 1260 sampai 1390. Jauh setelah kematian Yesus.

Kemudian, ahli seni Italia,  Luciano Buso mengungkapkan, kain kafan yang kini disimpan di Katedral Turin adalah replika, bukan yang asli. Itu adalah hasil karya seniman abad pertengahan, Giotto.

Kesimpulan ini ia dapat setelah melakukan penelitian berbulan-bulan terhadap foto kain kafan tersebut. Ia tak bisa menyentuh langsung. Salah satu dasar teori Buso adalah adanya angka 15 yang terselubung di kain tersebut. Kata dia, itu adalah indikasikan Giotto membuat kain tiruan itu pada tahun  1315.

Buso bersikukuh, 700 tahun lalu adalah hal yang biasa bagi seniman untuk membubuhkan tanggal di karya mereka, untuk menjamin keaslian karyanya. Meski demikian, praktek ini hanya diketahui segelintir orang tertentu untuk menghindari pemalsuan.

"Ia tak bermaksud memalsukan apapun, ini terlihat jelas dari tanda tangannya "Giotto 15" untuk menandai karyanya yang ia buat tahun 1315. Kain itu bukan palsu, ia hanya diminta membuat tiruannya," kata Buso seperti dimuat Daily Mail, 8 Juni 2011. Boso berspekulasi, adalah pihak gereja yang meminta pada Giotto, mengingat kondisi kain asli yang memburuk dan akhirnya binasa selama berabad-abad.

Kain kafan Turin juga pernah jadi incaran Adolf Hitler. Ia membuat skrenario pencurian -- setelah kunjungannya ke Italia pada 1938. Untungnya aksinya itu digagalkan aksi berani beberapa rahib Benediktian.

Meski antek-antek Hitler menemukan lokasi rahasia penyimpanan relik suci itu. Namun tangan mereka tak bisa menyentuh kain kafan Turin. Sebab, sekelompok biarawan mengelilingi altar tempat kain keramat tersebut tersimpan. Demikian dilaporkan kantor berita Italia, ANSA.

Pada 1943 ketika tentara Jerman mencarinya kafan itu di biara Montevergine, para biarawan di sana berpura-pura berdoa kusyuk di depan kain itu disimpan. Menghalangi aksi para kaki tangan Hitler.

Kain kafan Turin selamat, dan tetap tersembunyi di biara tersebut sampai tahun 1946 -- ketika dikembalikan ke Katedral Santo Yohanes Baptist di Turin.  Kini ia tersimpan aman dalam kotak kaca antipeluru yang dilengkapi pengendali iklim. (Ein)

Credit Ein

Suka artikel ini?

0 Comments