Suku Asmat yang Tak Lagi Berperang

  • Program Khusus
  • 0
  • 20 Apr 2003 15:48

200403bAsmat.jpg
Liputan6.com, Papua: Teriakan ratusan orang berperahu yang bersahutan membelah kesunyian pagi di tepian Sungai Sirets, Teluk Flamengo, Agats, Merauke, Papua, awal Februari silam. Gemuruh suara dan wajah-wajah garang bercoreng arang, berlumur kapur serta lumpur seakan memberi tanda bahwa perang besar bakal meletus. Sejatinya, para lelaki Suku Asmat dari Kampung Ewer yang tinggal di sisi lain Sungai Sirets akan menyerang penduduk Syuru, yang berada di seberang sungai. Nyanyian perang yang dilantunkan musuh pun terdengar oleh orang Syuru dengan bersiap-siap menghadang agresi orang Ewer.

Tak heran, jika orang Syuru sudah mempersiapkan segala perangkat perang dan bersiaga. Bahkan, ketika matahari kian tinggi, mereka beramai-ramai menuju tepi sungai menyambut kedatangan penyerang yang telah menantang perang. Dengan semangat yang berkobar-kobar, kedua kelompok yang saling bermusuhan itu sudah berhadapan. Namun, jangan salah sangka. Peristiwa ini bukanlah peperangan yang sebenarnya. Bahkan, sebaliknya. Acara ini dirancang untuk memperingati suatu peristiwa sekitar 50 tahun silam ketika seorang penginjil dari misi Katolik datang ke Asmat dan memperkenalkan mereka pada sebuah keyakinan keagamaan yang baru.

Peristiwa ini memang mempunyai makna tersendiri bagi mereka. Sejatinya, peristiwa tersebut mengingatkan mereka agar tak kembali pada tradisi-tradisi primitif di masa silam. Saat mereka masih mempraktikkan kanibalisme, menganut animisme, dan mengobarkan perang demi perang. Memang, bagi penduduk yang melingkupi dataran rendah seluas 37 ribu meter persegi di sisi selatan Pulau Cenderawasih, perang telah menjadi sebuah mekanisme penting untuk mempertahankan keberlangsungan kelompok. Perebutan wanita untuk memperbanyak keturunan dan memperluas jaringan kekerabatan kerap menjadi alasan terjadinya peperangan. Pertikaian juga membuat mereka melakukan praktik kanibalisme agar roh orang yang dibunuh tak menghantui mereka yang membunuhnya. Agaknya, kebiasaan ini sangat kontradiktif dengan apa yang dikenal masyarakat dunia terhadap suku yang jumlah populasi orangnya diperkirakan mencapai 85 ribu jiwa. Di mata internasional, masyarakat suku itu dipandang memiliki keahlian tinggi dalam seni ukir kayu bermotif zaman batu.

Kini, tradisi perang seperti itu tinggal sejarah masa lampau. Sebuah kisah yang menutup dari dunia luar telah berlalu. Lompatan itu dimulai semenjak kedatangan misi Katolik pada 1953. Misi asal Benua Eropa bahkan telah membuat banyak perubahan kepada mereka. Kapak besi, pisau logam, tembakau yang dibawa para misionaris pada saat itu telah membuat orang Asmat terpukau. Diawali dari benda-benda inilah, gereja pun menancapkan pengaruhnya di sana.

Misi katolik memang tak dipungkiri telah membawa perubahan cukup besar dalam pola pikir orang Asmat. Fungsi rumah adat, misalnya. Bila sebelumnya rumah Jeuw atau rumah adat hanya boleh dimasuki kaum lelaki untuk mengatur siasat perang, tempat itu kini diisi dengan kegiatan yang lebih diarahkan pada upacara-upacara untuk membangun kebersamaan sosial. Tak hanya itu, jika sebelumnya di rumah Jeuw orang Asmat memuja Dewa Pencipta atau fumeripits, kini di tempat yang sama mereka kerap melakukan misa.

Namun, tak semua tradisi lama ditinggalkan orang Asmat. Sebagai masyarakat rawa, mereka masih menggunakan perahu tradisional yang disebut ciintak. Mereka juga masih bertahan dalam tradisinya sebagai masyarakat pemburu dan peramu obat-obatan. Sejatinya, meski pusat agama Katolik Vatikan menetapkan kawasan Agats--pusat masyarakat Asmat--sebagai wilayah yang memiliki keuskupan tersendiri, kebudayaan tradisional Asmat justru berkembang dan dilestarikan. Tak heran, bila nuansa ajaran Katolik di wilayah yang berdiri di atas rawa-rawa ini berpadu secara harmonis dengan budaya lama Asmat.(ORS/Tim Potret)

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler