CCTV Gunung Papandayan Dipindah ke Tangkuban Perahu

on

Alat pemantau CCTV di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dipindahkan sementara ke Gunung Tangkuban Perahu, Bandung Barat. Pemindahan ini untuk memantau perkembangan gunung api itu yang saat ini berstatus siaga.

"CCTV di Gunung Tangkuban Perahu rusak tersambar petir penggantinya masih harus menunggu, untuk sementara kami pindahkan CCTV Gunung Papandayan ke Tangkuban Parahu," kata Kepala Bidang Pengawasan Gunung Api PVMBG Badan Geologi Hendrasto di Bandung, Jabar, Kamis (7/3/2013).

Menurut Hendrasto, CCTV di Gunung Tangkuban Perahu tersambar petir sekitar sebulan lalu, termasuk transmisi di PGA Tangkuban Perahu. Sehingga pengamatan gunung api yang pada Kamis 21 Februari lalu naik menjadi waspada itu, mengalami kesulitan dalam pemantauan visual. Saat ini CCTV Papandayan tengah dibawa ke Bandung dan rencananya dipasang petugas pada Jumat besok.

"Pengamatan visual sangat perlu untuk melihat embusan asap dan lontaran letusan freatik. Pemantauan selama ini dilakukan secara manual ke lokasi meski tingkat bahayanya cukup tinggi," ujar Hendrasto.

Selain di Gunung Tangkuban Perahu, CCTV di Gunung Galunggung dan Ijen juga mengalami kerusakan akibat tersambar petir. Akibatnya pengamatan visual terganggu. "Kami masih menunggu CCTV yang baru karena masih masa garansi, tapi harus menunggu lama. Jalan keluarnya pindahkan CCTV Papandayan," katanya.

Sementara perkembangan dari Gunung Tangkuban Perahu menurut Hendrasto, masih status siaga. Tremor dalam masih terjadi pada Jumat pagi pukul 06.00 WIB sekitar 2 menit, serta tremor dangkal sekitar 3 menit.

"Pengamatan masih dilakukan intensif, namun dari sisi deformasi di kawasan kawah mengecil, diharapkan energinya menurun," jelas Hendrasto.

Namun secara umum, papar Hendrasto, pengumpulan energi di Gunung Tangkuban Perahu masih meningkat. Namun dikeluarkan dalam beberapa letusan freatik yang terjadi beberapa kali dalam 2 pekan terakhir ini.

"Letusan freatik yang dibarengi material vulkanik yakni debu itu merupakan pelepasan energi, terakhir terpantau pada Rabu 6 Maret kemarin," kata Hendrasto.

Ia menyebutkan, masyarakat untuk tetap waspada dan tidak termakan isu-isu yang menyesatkan terkait gunung api itu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi  (PVMBG) tetap merekomendasikan pengosongan kawasan itu kawah dalam radius 1,5 kilometer.

 "Letusan freatik biasanya diikuti dengan keluarnya gas beracun yang menjadi karakter letusan Gunung Tangkuban Parahu," imbuh Hendrasto.

Hendrasto menyebutkan, letusan yang mengakibatkan kaldera di gunung api itu terjadi sekitar 150 ribu tahun lalu dan terakhir letusan besar terjadi pada 1910.  "Selama ini letusan di gunung itu berupa letusan freatik, belum ada yang sebesar 1910," kata Hendrasto.(Ant/Ais)
Suka artikel ini?

0 Comments