Pencak Dor Lirboyo, Meraih Rida Illahi

on

Singgahlah ke Kediri dan jangan bayangkan cuma ada banyak kudapan tahu, sebab label itu cuma membenamkan sejarah besar kota kecil di Jawa Timur ini. Kisah kebesaran Kerajaan Panjalu pada masa silam pun tak serta merta membuat Kediri tampak gagah. Karena identitas Kediri tak cuma segala jenis tahu dan kejayaan masa lampau pada abad ke-11.

Kediri sejak periode ke-20 kini menjelma menjadi kota santri yang kental dengan tradisi Nahdlatul Ulama. Dari ratusan pondok pesantren yang terserak, Lirboyo menjadi pesantren yang paling kondang.

Dari mulai satu, dua murid, kini telah banyak orang dari pelosok nusantara nyantri di Lirboyo. Ada kesadaran yang kuat untuk mempelajari tauhid dan fiqih. Sebagian besar dari mereka paham betul Lirboyo adalah tempat yang tepat untuk meraih rida Illahi.

Tapi Lirboyo tak sekadar kental dengan urusan spiritual. Di pesantren ini, ilmu bela diri tumbuh mendarah daging. Kyai Haji Maksum atau lebih dikenal sebagai Gus Maksum, cucu pendiri Lirboyo, Kyai Haji Manaf Abdul Karim yang kegelisahannya membuahkan tradisi panjang di Lirboyo.

Bagi Gus Maksum, bukan pesantren namanya jika tak ada pencak silat sebab pencak adalah warisan leluhur Tanah Air paling tulen. Tradisi panjang itu hingga kini terus berlangsung dan menjadi rutinitas para santri. Tradisi itu dikenal dengan sebutan pencak dor.

Sepeninggal Gus Maksum 10 tahun silam, ilmu kanuragan warisannya tak lekang dikenang. Perguruan Pagar Nusa pun tetap berdiri di bawah naungan kyai-kyai besar Nahdlatul Ulama. Kini di bawah payung besar Gabungan Silat Muslim Indonesia (Gasmi), santri-santi Lirboyo meneruskan perjuangan Gus Maksum.

Abdul Rohman, pemuda Brebes yang sejak 4 tahun mondok di Lirboyo kini menjadi satu di antara ratusan santri yang rajin turun di arena pencak dor. (Frd)

Credit Frd

Suka artikel ini?

0 Comments