Dahsyat! Anjloknya Tanah Jakarta Terekam dari Luar Angkasa

on

Sudah lima hari banjir belum mau pergi dari Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Empat kelurahannya -- Pluit, Penjaringan, Penjagalan, dan Kapuk masih terendam. Ribuan warga masih mengungsi, sebagian menempati lokasi yang tak layak ditinggali.

Entah kapan banjir surut, tak ada yang bisa memastikan. Ancaman baru justru di depan mata, berupa potensi terjadinya pasang laut atau rob yang diprediksi bisa mencapai semeter pada Kamis (24/1) hingga dua hari ke depan.

Setidaknya ada sejumlah hal yang disebut sebagai penyebab banjir di Penjaringan, di antaranya Waduk Pluit yang meluap, tingginya curah hujan, dan pompa yang mati. Namun ada penyebab lain yang sejatinya nampak secara kasat mata: permukaan tanah yang makin anjlok.

Deformasi berupa penurunan permukaan tanah di Jakarta Utara sempat diabadikan dari luar angkasa melalui satelit yang mengorbit Bumi.

Foto tersebut dirilis situs Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA) pada 2 April 2012.

"Peta ini mempresentasikan deformasi permukaan tanah dari tahun 2007 hingga 2011 di ibukota Indonesia, Jakarta," demikian keterangan yang disampaikan ESA di situs www.esa.int.

Terutama di Teluk Jakarta, yang ditandai dengan kotak bergaris biru. "Terdeteksi terjadi penurunan tanah lebih dari 20 centimeter per tahun."

Saat peta ESA dicocokkan dengan peta DKI Jakarta, bisa dilihat wilayah yang berada di garis biru adalah sebagian Pluit, Penjaringan, Pademangan, hingga Tipar. Dan jika dikalkulasi total, penurunan tanah di kawasan itu diperkirakan lebih dari 1 meter.

Tanah Turun, Drainase Gagal

Penurunan tanah tentu saja berimplikasi pada makin parahnya banjir. "Secara kasat mata implikasinya kegagalan sistem drainase," kata pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna kepada Liputan6.com, Selasa (22/1/2013) malam.

Penurunan elevasi tanah akan membuat air yang menggenang stagnan dan makin lambat mengalir. Apalagi ditambah fakta, sejumlah wilayah Jakarta ketinggiannya berada di bawah permukaan air laut.

Untuk kasus Pluit, Yayat menduga, ada indikasi penurunan tanah yang diperparah pasang laut. "Makin banyak penurunan tanah , makin menambah wilayah genangan baru," kata dia.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk menanggulanginya?

Untuk mengatasi banjir, yang harus dilakukan adalah membuat penampungan air sementara atau fodder. "Kemudian dari sana air akan dipompa ke laut," kata Yayat.

Sementara, untuk menghentikan laju penurunan tanah, jawabannya, tak lain tak bukan adalah dengan menghentikan pengambilan air tanah. "Selama air baku tak disediakan dengan baik, sementara kebutuhan tinggi. Diperparah daratan banjir terbentuk dari tanah aluvial, endapan pasir -- tanah muda, permukaan tanah akan terus turun."

Bukti penurunan tanah sudah bisa dilihat dengan amblesnya sejumlah bangunan. "Ambles bahkan sudah dialami sejumlah gedung, rumah-rumah fondasinya turun dan retak-retak," kata dia.

Pengaruhnya sudah terasa, yang kini bisa dilakukan adalah melakukan aksi untuk menghentikannya. "Penurunan terparah ada di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat," kata Yayat.(Ein)

Credit Ein

Suka artikel ini?

0 Comments