by

Sejarah Banjir Jakarta

  • Citizen6
  • 0
  • 16 Jan 2013 16:18
Jakarta sejak lama berada 2,5 meter di bawah permukaan laut (lihat pintu air Sunda Kelapa). Air buangan dari Ciliwung tidak dibuang ke Laut Jawa tapi dialihkn via kali Pakin menuju danau Pluit. Hal ini dilakukan karena jika pintu air itu dibuka maka Pak Presiden SBY tidak bakalan bisa berkantor. Karena kawasan Monas, Bundaran HI, Sudirman, Kuningan, dan sekitarnya bakal tenggelam.

Memperhatikan kenyataan demikian, banjir di Jakarta tidak lagi bisa kita hindari. Hanya orang yang tidak mengerti sejarah dan "sok jago" yang bilang bisa mengatasi banjir Jakarta. Oleh karena itu, banjir Jakarta seharusnya dikelola, untuk dimanfaatkan sepenuhnya bagi kesejahteraan bersama.

Banjir terbesar di Jakarta tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1918. Hampir seluruh Jakarta terendam. Kala itu wilayah Jakarta masih belum seluas sekarang. Salah satu yang paling parah adalah kawasan Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Desain tata kota Batavia tahun 1620 (nama sebelum Jakarta) dibuat oleh Simon Stevin menyerupai kota Amsterdam. Di mana sungai diluruskan dan kanal-kanal dibuat agar banjir bisa direkayasa menjadi potensi kota. Maka Batavia saat itu terkenal dengan sebutan Batavia Queen of The East.

Namun sayang seribu sayang, Pemerintah Perancis melalui Gubernur Jenderalnya di Batavia, Daendels, tahun 1808-1811 menghancurkan kota benteng/kastil Batavia itu, dan mengubur kanal-kanalnya menggunakan material tembok kota Batavia yang dihancurkannya itu.

Saat itu, Batavia dihantui penyakit kolera dari nyamuk mal-area (malaria). Di mana kanal-kanal jadi dangkal karena pengendapan. Kanal-kanal itu menjadi sarang nyamuk malaria itu. Daendels pun mendirikan kota baru di Lapangan Banteng, Weltevreden, menggunakan sebagian material tembok kota yang tersisa.
 
Asep Kambali
Pendiri Komunitas Historia Indonesia

(Ism)
Comments
Sign in to post a comment