Yuliati Umrah, Ibu Anak Jalanan

on Nov 25, 2012 at 12:37 WIB

Anak-anak yang sedang bermain dan belajar di Taman Kank-kanak Alit adalah sebagian dari tiga ribuan anak-anak jalanan di Surabaya, Jawa Timur. Mereka bisa mendapat akses ke pendidikan dan kehidupan lebih sehat berkat upaya ibu rumah tangga Yuliati Umrah.

Yuliati, aktivis sejak masa kuliah ini tersentuh oleh berbagai masalah yang dihadapi anak-anak keluarga tidak mampu. Keprihatinan nasib anak jalanan pasca Orde Baru tumbang.

"Dampak berakhirnya masa Orde Baru 98, banyak toko dan mall yang tutup. Lalu ada sekitar 20 anak jalanan yang protes ke kita. Mereka bilang gara-gra kalian mahasiswa kita semua menganggur karena tidak ada toko yang mau membeli koran,"ujar Yuliati mengenang masa asal muasal mendirikan yayasan sosial.

Ia bersama sejumlah teman-temannya pun langsung bertindak. Tidak lama, Ia mendirikan Yayasan Arek Lintang (Alit) yang berarti anak bintang. Melalui Alit,  Yuliati membuka akses bagi anak-anak dan keluarga mereka menuju pendidikan dan taraf ekonomi yang lebih baik.

"Awalnya kita hanya kumpul-kumpul akhirnya iseng bikin lilin dan kerajinan dan berlanjut sampai sekarang," ujar Taufik tim kreatif kerajinan Yayasan Alit.

Saat ini, lebih dari 200 keluarga tidak mampu berada dalam bimbingan Yuliati. Anak-anak pun mendapat pendidikan dasar hingga kesempatan meraih potensi di bidang olah raga beberapa anak jalanan akhirnya jadi pelatih di yayasan. Seperti halnya yang dirasakan Ika, mantan anak jalanan.

"Saya senang disini bisa bikin kerupuk ataupun menjahit. Menurut saya Ibu Yuliati orangnya baik bisa membimbing dari kecil sampai besar meski saya tidak bersekolah" ujar Ika.

Yuliati yang kadang dikenal galak juga memberi pemahaman etika. Biaya operasional yayasan untuk menyiapkan makanan sehat dan berbagai hal lain sekitar Rp 40 juta rupiah per bulan, separuhnya tertutup sumbangan lembaga donor dari Jerman. Separuh lainnya harus diusahakan dengan berbagai cara. Seluruh keluarga termasuk sang suami yang ikut jadi relawan yayasan mendukung penuh kegiatan Yuliati. Termasuk, Ivan putra kedua Yuliati ikut membantu. Yayasan alit kini punya ruang pamer di salah satu mal di Surabaya untuk memajang hasil kerajinan anak jalanan dan keluarganya.

Kegiatan ini sangat diapresiasi Dinas Sosial Jawa Timur. "Memberi bimbingan kepada anak jalanan bukan hal yang mudah. Perlu kesabaran melatih mental serta pembinaan yang terus menerus," ujar Soedjono Kadis Sosial Pemprov Jawa Timur.

Selain, Yuliati juga melihat masih ada masalah budaya yang menghambat perlindungan terhadap anak-anak tidak mampu di Indonesia. "Masyarakat tidak mendapatkan informasi cukup mengenai hak dan kewajiban, negara tidak menjalankan secara maksimal perannya. Contohnya, kalau ada kejadian orang tua memukul anak atau menyuruh anak bekerja, tetangganya malah cuek, inilah yang harus dibabat. Padahal UU perlindungan Anak menyebutkan masalah anak adalah masalah publik  bukan lagi wilayah domestik,' imbuh Yulianti.

Ia juga mengingatkan kasus kekerasan anak bukan lagi delik aduan namun menjadi kriminal murni. Ia pun berharap dengan program pembinaan tahun ini Yayasan Alit 60 keluarga tidak mampu bisa jadi keluarga mandiri.(ADI)
Suka artikel ini?

0 Comments