Kisah Teladan Hidup Presiden Paling Miskin di Dunia

on Nov 16, 2012 at 10:00 WIB

Liputan6.com, Montevideo: Ini jamak terjadi di seluruh dunia, ketika politisi dan pemimpin yang mengaku "wakil rakyat" bergaya hidup mewah, jauh dari mereka yang diwakili. Tapi ada perkecualian di Uruguay. Di mana seorang presiden memilih tinggal di peternakan bobrok, alih-alih di istana megah.

Inilah pemandangan di tempat tinggal Presiden Uruguay, Jose Mujica: pakaian yang dijemur di bawah matahari, air yang ditimba dari sumur, rumput dan ilalang yang tumbuh di sana sini. Hanya ada dua petugas polisi yang berjaga di luar, serta Manuela, seekor anjing berkaki tiga. Gaya hidupnya jauh berbeda dari kebanyakan kepala negara.

Mujica memilih tinggal di peternakan milik istrinya, di tepi jalanan berdebu, di luar ibukota Montevideo. Gaya hidupnya yang tak biasa dan fakta ia memberikan 90 persen gajinya untuk amal, setara US$12.000 atau Rp115,5 juta, membuatnya dijuluki "presiden paling miskin di dunia".

Orang mungkin heran dengan cara hidupnya, tapi bagi Mujica, ini adalah pilihan. Penghasilan yang ia ambil hanya US$775 atau Rp7,45 juta, setara dengan penghasilan rata-rata rakyatnya. Harta pribadi yang ia laporkan  US$1.800 atau Rp17,3 juta, senilai satu-satunya mobil yang dimiliki, Volkswagen Beetle keluaran 1987.
 
Pelajaran masa lalu

Mujica terpilih sebagai presiden tahun 2009 lalu. Pada tahun 1960-1970-an, ia menjadi bagian dari pasukan gerilyawan Tumaparos, milisi berhaluan kiri yang terinspirasi revolusi Kuba.

Selama itu, Mujica enam kali ditembak, menghabiskan 14 tahun hidupnya di penjara. Kebanyakan ia ditahan di lingkungan yang keras dan terisolasi, sampai akhirnya dibebaskan pada tahun 1985, saat Uruguay kembali demokratis.

Ditahan selama bertahun-tahun mengubah pola pikirnya. "Aku disebut sebagai 'presiden termiskin", tapi aku tak merasa miskin," kata dia. "Menurutku yang pantas disebut miskin adalah mereka yang bekerja keras hanya untuk mempertahankan gaya hidup mewah. Selalu menginginkan lebih dan lebih."

"Ini hanya soal pilihan. Jika tak punya banyak harta, Anda tak perlu bekerja keras seumur hidup, seperti budak, hanya untuk mempertahankannya."

Mujica menyampaikan hal senada saat berbicara pada KTT Rio+20 Juni lalu. Menyindir pembangunan berkelanjutan yang meniru model pembangunan dan konsumsi di negara kaya. "Saya bertanya pada Anda semua: apa yang akan terjadi pada planet ini, jika pada Suku Indian, misalnya, di terapkan proporsi mobil per rumah tangga seperti di Jerman? Berapa oksigen yang masih tersisa untuk kita hirup?," kata dia.

Dia menegaskan, sumber data planet ini tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan 7 sampai 8 miliar penduduknya jika level konsumsi disamaratakan.

Kritik 

Meski gaya hidup Mujica mendapat pujian dan simpati, ia tak lantas kebal terhadap risiko perjalanan politik yang naik turun.

Oposisi melancarkan kritik, pemerintahannya dianggap tak berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi, belum mampu meningkatkan pelayanan publik terutama bidang kesehatan dan pendidikan. Dan, untuk kali pertamanya pasca terpilih sebagai presiden 2009 lalu, popularitasnya melorot tajam, di bawah 50 persen.

Tahun ini, Mujica bahkan menjadi sorotan gara-gara dua langkah kontroversialnya. Pertama, ia tak memveto keputusan kongres yang melegalkan aborsi hingga usia kehamilan 12 minggu.

Ia juga dikritik karena mendukung legalisasi konsumsi ganja dalam UU, yang akhirnya memberi kewenangan negara untuk memonopoli perdagangannya. "Menurutku, konsumsi ganja bukan hal yang paling mengkhawatirkan. Masalah utama justru pada perdagangan narkotika," kata Mujica, mengutarakan alasannya.

Pria paro baya berusia 77 tahun itu juga tak terlalu ambil pusing dengan soal rating popularitasnya yang anjlok, apalagi menurut aturan ia tak bisa mencalonkan diri kembali pada 2014 mendatang.

Mujica tak khawatir lengser dari jabatannya sebagai presiden, hidup hanya dari uang pensiun yang diberikan negara. Dan tak seperti kepala negara lain, ia mungkin tak akan terlalu merasakan efek penurunan finansial. Hidup nyaman, menghabiskan masa tuanya dalam kesederhanaan. (BBC)
Suka artikel ini?

0 Comments