Perjuangan Keras Elizabeth Philips Bangun Desa Tlogoweru

on Oct 28, 2012 at 12:38 WIB

Liputan6.com, Demak: Tlogoweru menjadi salah satu desa paling makmur di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Desa ini telah menjadi model bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Perangkat desa berbagai penjuru Tanah Air datang belajar ke desa ini.

Kondisi ini tak pernah terbayangkan bakal terjadi empat tahun silam. Karena sebelumnya Desa Tlogoweru dikenal sebagai salah satu desa termiskin di Demak. Kekeringan di musim panas, banjir di musim hujan. Warga juga tak punya sumber air. Panen padi pun sering gagal karena diserang hama tikus.

Kini kondisi itu berubah 180 derajat berkat sosok seorang ibu rumah tangga, Elizabeth Philips alias Eliz. Peran Eliz diakui seluruh warga desa setempat. "Beliau itu motivator kalau saya bilang," tutur Pujo Arto, warga setempat, memuji sosok Eliz

Desa Tlogoweru memiliki 139 sumur air bersih dan sebagian besar warga punya ternak sapi sendiri. Desa ini juga memiliki tim pemberantas hama tikus yang memanfaatkan predator alami tikus dan burung hantu.

Di Desa Tlogoweru juga ada Balai Latihan Kerja (BLK). Warga di sana dilatih berbagai keterampilan mulai dari menjahit sampai menggunakan internet.

Bakti Eliz untuk orang lain bukan cuma di Desa Tlogoweru. Eliz antara lain juga membidani terwujudnya SMK Bagimu Negeriku di Semarang, Jateng. Sekolah kejuruan seluas 14 hektare dengan aneka fasilitas itu disediakan gratis bagi siswa tak mampu. Hal itu diakui Oniyustari dan Kesya, siswa dan siswi SMK Bagimu Negeriku. "Gratis semua," tutur Kesya.

Pencapaian Eliz dilalui dengan perjuangan keras. Upaya Eliz di Desa Tlogoweru awalnya tak berjalan mulus. Tapi kesabaran dan niat tulus Eliz akhirnya membekas di hati warga. "Kami pun waktu itu tidak bisa menerima begitu saja karena kami di masyarakat itu kan juga banyak menganut agama berbeda," ucap Kepala Desa Tlogoweru Soetedjo.

Mengatasi tantangan kehidupan sudah menjadi jalan hidup Eliz. Lahir dari keluarga tak mampu, dia sempat ditolak orangtuanya. Orangtua merasa kehadiran Eliz tak membawa keberuntungan. Eliz pun tumbuh menjadi remaja bermasalah.

Bukan hanya itu. Pada usia sekitar 20 tahun, Eliz jatuh dari bus yang mengakibatkan hilangnya penglihatan. "Busnya jalan saya jadi seperti orang dibanting. Saya enggak bisa jalan, berdiri saja enggak bisa." Lalu Eliz terdiagnosis terkena kanker otak. Ia sempat divonis hanya bisa hidup lima tahun setelahnya.

Dari serangkaian cobaan itu, tak membuat Eliz putus harapan. Justru sebaliknya, Eliz semakin giat membaktikan hidup untuk kesejahteraan orang lain.(AIS)
Suka artikel ini?

0 Comments