Menguak Misteri Kubah Sangiran

  • Citizen6
  • 0
  • 20 Jul 2012 07:06

120720adomesangiran.jpg
Citizen6, Yogyakarta: Bertempat di Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, angkatan 2011, Senin (9/7) 2012 diadakan Kuliah Kerja Lapangan 1 yang bertemakan pengenalan bentang lahan Jawa Bagian Tengah. Pada KKL 1 ini, Jawa bagian tengah dibagi menjadi menjadi tiga zona yaitu zona selatan, zona tengah, dan juga zona utara.

Untuk Zona selatan pulau jawa bagian tengah lebih didominasi bentukan lahan asal proses struktural patahan, dan juga proses solusional yang terdapat di daerah gunung kidul. Sedangkan zona tengah pulau jawa bagian tengah lebih didominasi bentukan lahan asal proses volkanik dan fluvial. Beda lagi dengan zona utara pulau jawa bagian utara, yang lebih didominasi bentukan lahan asal proses struktural lipatan. Setiap zona memiliki karakteristik, potensi, dan permasalahan yang berbeda - beda. Oleh karenanya perlu perlakuan dan manajemen yang berbeda.

Dome sangiran merupakan zona transisi antara zona selatan dengan zona tengah pulau jawa bagian tengah yang sangat menarik bila dikaji lebih dalam. Sangiran sendiri merupakan sebuah daerah yang terletak di kaki Gunung Lawu. Di daerah ini terdapat banyak kubah yang diakibatkan karena adanya proses lipatan. Kubah sangiran sendiri memiliki bentukan lahan yang berasal dari proses struktural lipatan, dan proses diapirisme, sehingga mengakibatkan adanya lipatan lokal yang menekan. Hal ini dikarenakan adanya dorongan tektonik atau tekanan morfologi yang besar di sekitar kubah,
seperti tekanan dari Gunung Api Lawu yang menekan ke utara. Lalu di utara juga terdapat perbukitan rembang, yang menyebabkan adanya tekanan ke daerah selatan. Karena saling menekan inilah timbul adanya lipatan di antara gunung dan pegunungan tersebut. Ditambah lagi dengan karakteristik batuannya yang lempung dan elastik, maka terjadi sebuah lipatan, dan terbentuklah Dome Sangiran (kubah sangiran).

Tetapi apabila intensitas curah hujan cukup besar di kawasan kaki Gunung Lawu, bisa menyebabkan terjadinya erosi, dan terbentuknya sungai pada bagian puncak kubah. Sehingga mengakibatkan terbukanya lapisan batuan yang banyak meninggalkan fosil. Contohnya yang paling terkenal ialah fosil manusia jawa purba (Homo Erectus) yang hidup pada Kala Pleistosen Awal dan Pleistosen Tengah, dan mungkin juga pada Pelistosen Akhir.

Setelah mengunjungi kubah sangiran, kami mengunjungi Museum Sangiran. Museum ini berisikan informasi tentang awal mula terbentuknya bumi, dan macam - macam fosil yang terdapat di kubah sangiran. Fosil - fosil di museum ini antara lain fosil manusia purba, fosil gajah purba (sejenis mammoth), fosil buaya purba, dan juga terdapat peralatan - peralatan peninggalan manusia purba seperti mata kapak, batu untuk membuat api, dan sebagainya.

Karena keunikan proses geologinya yang banyak dan spesifik, lokasi Sangiran di alokasikan sebagai Cagar Budaya (Kawasan lindung). Tetapi sangat disayangkan, masih banyak masyarakat disekitar lokasi yang tidak sadar, dan terus melakukan pembangunan. Tapi hal yang paling fatal adalah, masyarakat juga diketahui telah melakukan jual beli fosil. Dikarenakan fosil di sangiran ini merupakan fosil dengan jumlah yang mewakili 65% dari seluruh fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia, dan 50% dari jumlah fosil sejenis yang ditemukan di dunia. Oleh karenanya fosil - fosil ini amatlah langka dan bernilai tinggi.

Di sekitar lokasi masih banyak lahan pertanian yang seharusnya menjadi lahan konservasi. Pertanian di daerah ini menanam tanaman musiman, karena sulitnya mendapatkan air pada musim kemarau. Apabila musim kemarau datang, tanah di sekitar lokasi menjadi retak - retak. Sedangkan pada saat musim hujan mengalami genangan dikarenakan karakteristik tanahnya lempung, dan sulit untuk menyimpan air. (Pengirim: Dony Octa S).

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler