Manusia Belerang

  • Program Khusus
  • 0
  • 10 Jun 2012 22:53

120610potret.jpg
Liputan6.com, Jakarta: Ijen adalah satu dari 45 gunung berapi aktif di Indonesia. Empat kali sudah pasak bumi di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur ini, meletus. Empat kali letusan yang menyisakan keajaiban alam berupa danau kawah terbesar di dunia.

Pertama kali meletus dipengujung abad 18 dan terakhir sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka. Belakangan ini Gunung Ijen kembali bergejolak. Turun naik dari level waspada ke siaga dan sebaliknya.

Tak ada gunung seunik Ijen. Kawah raksasa luasanya sekitar lima ribu hektare lebih memang menjadi pembeda tak terbantahkan bahwa Ijen memang memiliki pesona tersendiri. Sifat asam kawahnya tak membuat para pendaki atau pelancong gentar.

Bahkan dibalik aktivitasnya yang membahayakan setiap mahluk hidup terutama aroma sulfur atau belerang yang menusuk hidung, Ijen ibarat ladang harta karun bagi warga sekitar. Bongkahan belerang dengan jumlah melimpah menjadi sumber rejeki yang tak pernah habis dan dikelola secara turun temurun.

Ada 400 lebih penambang belerang yang setiap hari turun naik. Ada 400 lebih harapan pula yang tak pernah selesai mempertaruhkan nyawa demi perjalanan hidup keluarga.

Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Inilah kampung para penambang. Kampung yang sebagian warganya menjadikan belerang sebagai andalan utama mata pencaharian.

Ketimbang menjadi buruh tani atau perkebunan, mereka lebih memilih menjadi penambang. Alasannya, rupiah yang mereka terima jauh lebih besar.

Per hari para penambang bisa mendapat hampir Rp 80 ribu. Bandingkan dengan pekerjaan lain di desa yang belum tentu dapat Rp 30 ribu dalam sehari.

Sebagian besar penambang adalah orang-orang malam. Rata-rata mereka bergerak ke kawah selepas pukul dua dini hari ketika suhu gunung jatuh di bawah sepuluh derajat Celcius.

Dari gelap ke terang jumlah penambang yang menuju kawah pun kian bertambah. Butuh waktu hampir dua jam untuk sampai tujuan melewati jalur tak beraturan sejauh empat kilometer.

Ini jelas bukan pekerjaan ringan. Untuk bernapas saja perlu perjuangan. Para penambang biasanya bekerja sambil menggigit kain sebagai penyaring udara.

Risiko mematikan menanggung beban pikulan hampir satu kwintal juga bukanlah halangan. Bahkan cerita tentang pingsannya penambang setelah mengirup gas beracun pada masa silam sama sekali tak membuat mereka berpikir ulang mencari pekerjaan lain.

Bagi warga kematian adalah urusan Tuhan dan menjadi penambang adalah suratan. Selama mereka masih bernapas dan butuh makan, belerang Ijen adalah tumpuan.

Adalah IM Suwarno. Sejak usia tujuh belas tahun ia sudah ikut sang ayah menjalani rutinitas sebagai penambang kawah Ijen. Kini usianya telah menginjak 48 tahun. Bersama puteranya IM Suwarno terus menjalani hidup sebagai penambang belerang. Meski punya usaha warung kelontong bagi dia menambang adalah pekerjaan utama.

Bertahun-tahun turun naik gunung dalam aroma sulfatara, sejauh ini pernapasannya tak terganggu. Ia cuma bermasalah pada lutut dan gigi yang nyaris tanggal semua. Kedua masalah ini adalah problem yang nyaris dialami seluruh penambang belerang Ijen. Masalah yang sedikit banyak dipengaruhi medan berat dan efek asam amino.

Sebetulnya, sejarah penambangan belerang Ijen bermula pada era kolonial pada 1911. Ketika itu penjajah memaksa masyarakat sekitar menjadi kuli angkut belerang untuk dijual.

Seiring kemerdekaan eksploitasi kolonial itu berakhir dengan sendirinya. Kini belerang-belerang hasil buruan ini masuk ke pabrik pengolahan dibawah naungan Candi Ngrimbi, perusahaan yang mendapat hak eksplorasi sejak tahun 1970.

Repihan pasir pada bongkahan belerang ini kemudian dibersihkan. Wajan besar adalah wadah agar belerang mencair dan berubah bentuk menjadi adonan. Setelah melewati proses pembekuan maka siaplah belerang yang diangkut dengan susah payah ini, dipasarkan ke sejumlah industri farmasi dan pabrik gula.(IAN)


Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler