Reog, Kesenian Mistis Ponorogo

on Sep 01, 2002 at 14:23 WIB

Liputan6.com, Ponorogo: Beberapa penari dengan mengenakan topeng harimau melenggok mengikuti alunan gending. Diteruskan dengan para penari jatilan yang menggambarkan pasukan penunggang kuda. Tak lama kemudian dua penari yang mengenakan barongan atau topeng kepala harimau berhias bulu merak menari-nari sambil bergulingan di tanah. Inilah sepotong adegan cerita dari kesenian Reog. Kesenian yang dilahirkan sekitar abad ke-12 ini sampai sekarang dipercaya selalu menjalin hubungan dengan alam lain saat pertunjukkan digelar.

Ponorogo, sebuah kota kecil di barat daya Jawa Timur, menjadi lokasi lahirnya kesenian unik ini. Kini Ponorogo yang dihuni sekitar sejuta jiwa itu memiliki lebih dari 300 grup Reog yang tersebar di 277 desa. Banyaknya grup Reog di kota ini menyediakan lapangan kerja sambilan bagi warga setempat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Di Desa Kauman, Kecamatan Sumoroto, misalnya. Di sela-sela kesibukan mengolah sawah, sejumlah warga mengisi waktu luang dengan berlatih Reog bersama kelompoknya sekaligus menjadi perajin topeng Reog. Selain digunakan buat kelompok sendiri, topeng Reog yang dihasilkan juga dijual kepada kelompok lain dengan harga mencapai Rp 5 juta per buah.

Mahalnya harga topeng Reog itu disebabkan sulitnya memperoleh bahan baku. Misalnya, bagian topeng berbentuk kepala harimau yang disebut Barongan, yang mesti dibuat dari kulit harimau asli. Sementara bagian hiasan kepala berbentuk kipas yang disebut Dadak, terbuat dari bulu burung merak yang juga asli. Belum lagi proses pembuatan yang memakan waktu berbulan-bulan karena membutuhkan ketelitian dan kecermatan.

Malam mulai menjelang di Desa Kauman. Dari pelataran sebuah rumah tua terdengar suara terompet dan gendang bertalu. Diterangi cahaya lampu petromak, para seniman yang tergabung dalam kelompok Reog "Bantar Angin" tengah sibuk berlatih. Namun kali ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan gladi bersih menjelang pertunjukan memenuhi undangan seorang tokoh desa. Untuk itu mereka akan mengantongi honor atau uang tanggapan sebesar Rp 4 juta.

Siang harinya, para seniman berkumpul di rumah pimpinan mereka, seorang warok yang biasa dipanggil Mbah Wo Kucing. Mereka pun berhias diri dengan dengan pakaian, atribut, dan make up yang khas. Di sela-sela kesibukan menghias diri, seorang seniman membakar kemenyan dan meletakkan sesaji di depan Barongan atau topeng kepala singa. Tujuannya meminta izin kepada roh penunggu desa yang disebut "Danyang" agar pertunjukan yang berbau mistis ini berjalan lancar. Setelah segala persiapan selesai, para pemain Reog melangkah menuju arena pertunjukan.

Berbeda dengan kesenian lainnya, iring-iringan rombongan Reog juga menjadi bagian dari pertunjukan. Sebuah prolog tentang asal-usul kesenian Reog itu mengacu pada cerita legenda di lingkungan Kerajaan Bantar Angin, Ponorogo, pada abad ke-12. Konon Raja Bantar Angin Kelono Swandono bermaksud meminang seorang putri dari Kerajaan Kediri. Ia pun mengutus orang kepercayaannya, Patih Bujang Anom, untuk menjemput sang putri.

Namun di tengah jalan, rombongan Patih Bujang Anom yang dikawal para tokoh sakti dan pasukan berkuda dihadang pasukan harimau dari gerombolan Singa Barong. Karena pasukannya terdesak, sang patih memanggil Raja Kelono Swandono lewat kekuatan batin. Raja akhirnya mampu mengalahkan pasukan Singa Barong dan berhasil meminang putri idamannya.

Legenda ini digambarkan kembali dalam pertunjukan Reog yang berlangsung di pekarangan sebuah rumah tua. Dibuka dengan beberapa penari yang beraksi memerankan warok, tokoh sakti Mandraguna yang mengawal Patih Bujang Anom. Diteruskan dengan para penari jatilan.

Awalnya jatilan ditarikan oleh para penari pria yang sekaligus menjadi gemblak atau laki-laki simpanan sang warok. Namun karena keberadaan gemblak semakin langka, belakangan jatilan ditarikan oleh para penari wanita. Pertunjukan semakin meriah dengan tampilnya penari bertopeng yang menggambarkan sosok Patih Bujang Anom. Disusul penari yang memerankan Kelono Swandono, raja sakti yang memimpin kerajaan Bantar Angin.

Puncak pertunjukan adalah tampilnya dua penari yang mengenakan barongan. Kedua penari yang dipercaya tampil dalam keadaan setengah sadar ini menjadi simbolisasi pasukan harimau dari gerombolan Singa Barong. Semua tahapan dalam pertunjukan ini kemudian menjadi pakem yang berlaku dalam setiap kesenian Reog dimana pun dilaksanakan.

Di sisi lain, keberadaan pemimpin kelompok Reog menjadi sosok tersendiri dalam kesenian ini. Sesuai tradisi, sebuah kelompok Reog dipimpin oleh seorang warok. Sebab itu, Kasni Gunopati yang dikenal dengan Mbah Wo Kucing dipilih pimpinan kelompok Reog Bantar Angin, sejak beberapa tahun silam. Kasni dipilih sebagai ketua kelompok Reog karena pria berusia 73 tahun ini telah menjadi seorang warok, sosok pendekar yang memiliki kemampuan supranatural, sejak 10 tahun silam.

Karena kemampuannya melebihi warok lain, Mbah Wo Kucing menjadi warok yang paling disegani seantero Ponorogo sekaligus menjadi penasehat spiritual warga setempat. Bagi dia, seorang warok harus memiliki keseimbangan antara kemampuan ilmu kanuragan atau bela diri dan rasa kasih sayang.

Untuk mencapai tahapan yang disebut kewaskitaan itu proses panjang harus ditempuh, mulai dari mendalami ilmu kanuragan dan kebatinan hingga mengasingkan diri dari dunia luar selama 40 hari. Dalam proses ini, sang warok juga berpantang berhubungan seks dengan perempuan. Kondisi ini memunculkan fenomena gemblak, yakni seorang pria muda yang dipelihara sang warok.

Keberadaan gemblak tentu saja menimbulkan penafsiran tersendiri. Banyak orang percaya gemblak sering dijadikan pemuas kebutuhan seksual sang warok, selama menempuh ilmunya. Namun, apapun isu yang ditiupkan tentang kehidupan seksual yang dijalani selama menuntut ilmu, kenyataannya warok tetap hidup normal. Bahkan dapat membina rumah tangga bersama istri dan anaknya. Hal itu pula yang dijalani Mbah Wo Kucing dalam kesehariannya sebagai warok sekaligus pemimpin kelompok Reog Bantar Angin.(PIN/Tim Potret)
Suka artikel ini?

0 Comments