Meta Karuna di Altar Borobudur

  • Program Khusus
  • 0
  • 14 Mei 2012 01:50

120513potret.jpg
Liputan6.com, Temanggung: Waisak merupakan momen penuh berkah bagi umat Buddha. Menjadi bulan sarat kebajikan, warisan abadi Sidharta Gautama. Karena terlihat menjelang puncak perayaan Hari Tri Suci Waisak, kebaikan berpendaran di jalan-jalan. Sejumlah bhikkhu melakukan pindapatta, sebuah prosesi yang dalam bahasa Sansekerta bermakna menerima persembahan.

Bagi para bhikkhu, pindapatta adalah cara melatih hidup sederhana dan belajar menghargai pemberian. Makanan yang mereka terima adalah untuk kebutuhan jasmani, bukan demi kesenangan dan mencari kenikmatan ragawi. Sehingga menjadi manusia mulia adalah jalan Buddha, jalan pencerahan.

Ketika Waisak tiba, umat Buddha meyakini air menjadi unsur alam penting untuk prosesi. Air digunakan mengalirkan getaran kebaikan. Dan mata air umbul jumprit di Temanggung, Jawa Tengah, cikal bakal mengalirnya Sungai Progo menjadi pilihan lokasi pengambilan.

Sedianya air yang dikemas dalam sepuluh ribu botol dan tujuh puluh kendi akan diarak menuju Candi Mendut. Tak cuma air, api juga penting. Bagi umat Buddha, api adalah perlambang cahaya, menghapuskan kesuraman menjadi terang, menjadi penebus ketidaktahuan dalam gelap kehidupan.

Untuk mendapatkan api suci, umat Buddha mengambil di sumber Api Abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan. Sama seperti air, api akan disemayamkan sehari di Candi Mendut sebelum disakralkan di altar candi. Lewat api, umat Buddha ingin membersihkan segala jenis kotoran batin dan membakarnya menjadi repihan debu kehidupan.

Mencoba menerangi diri sendiri, menggali kesucian untuk pencerahan adalah jalan yang diajarkan sang Buddha. Pangeran Sidharta Gautama adalah manusia yang telah mencapai penerangan sempurna. Ia juga dikenal sebagai Sakyamuni, manusia bijak dari kaum sakya.

Bagi umat Buddha, selain sebagai pendiri sebuah keyakinan dan panutan secara mendasar Gautama dianggap Buddha yang agung. Ia adalah figur utama yang lewat prilaku dan khotbah yang dirangkum setelah kematiannya, menjadi cermin bagi umat menjalani takdir kehidupan yang jauh lebih baik.

Gautama adalah putra dari pasangan Sri Baginda Raja Suddhodana dan Ratu Mah Dewi. Dia lahir pada 563 Sebelum Masehi di Taman Lumbini. Ketika itu Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal.

Saat lahir, ia bersih bersih tanpa noda, sanggup berdiri tegak, dan seketika bisa ke arah utara. Gautama diramalkan menjadi seorang Chakra-Wartin atau akan menjadi Buddha.

Tak heran setiap Waisak, upaya menjalani ajaran Buddha pun tak pernah berhenti. Hari ini misalnya, Bhikkhu Wongsing Labhiko Mahatera menuntun umat bermeditasi menjelang detik-detik prosesi. Meditasi adalah hal penting untuk menggapai ketenteraman jiwa sampai waktu Waisak tiba.

Sesungguhnya Waisak tak semata parade ibadah kolosal, tapi juga peringatan tentang tiga peristiwa penting. Pertama kelahiran pangeran Sidharta Gautama. Lahir sebagai Bodhisattva, calon Buddha, Gautama adalah wujud manusia yang mencapai kebahagiaan tertingggi.

Kedua, pencapaian Gautama menuju penerangan sempurna hingga ia mendapat gelar sebagai sang Buddha agung. Kemudian terakhir adalah fase parinibbana, tahap ketika Buddha wafat di usia 80 tahun. Inilah periode saat semua mahkluk kehilangan dan harus merelakan kepergian Gautama.

Saat senja jatuh di Borobudur, para bhikku dan bhikkuni kembali melakukan pradaksina. Prosesi ini mirip seperti yang dilakukan di Mendut, berkeliling tiga kali di altar candi. Lilin yang mereka bawa adalah wujud penghormatan kepada Buddha.

Puncak Waisak, Borobudur adalah pelepasan ribuan lampion. Satu per satu umat menuliskan harapan sebelum lampion dilepas ke langit.

Melalui cahaya, umat Buddha berharap banyak berkah yang dicapai. Melahirkan meta karuna atau kedamaian dan cinta kasih seperti warisan abadi sang Buddha.(AIS)
Terpopuler