Irma Suryati, Memberi dalam Keterbatasan

  • Sosial & Budaya
  • 0
  • 22 Apr 2012 12:22
Liputan6.com, Kebumen: Setiap orang menginginkan kehidupan yang sempurna. Tapi jika kenyataan berbeda dengan harapan, bukan berarti tak ada jalan menuju kesempurnaan. Inilah filosofi hidup Irma Suryati, seorang penyandang cacat di Kebumen, Jawa Tengah, yang menembus keterbatasan fisiknya dan menemukan kebahagiaan dengan memotivasi orang lain agar tidak menyerah pada kekurangan.

Sejak usia lima tahun, Irma menderita polio dan sejak itu pula dia harus menggunakan kayu penyangga untuk membantunya berjalan. Berawal dari rasa kecewa terhadap dunia kerja yang belum bisa menampung penyandang cacat pada tahun 1996, Irma memutuskan untuk mandiri. Irma berusaha menciptakan sumber penghasilan sendiri tanpa bergantung pada pemberi kerja.

Berhasil mengasah kreativitas dan kemampuannya, Irma mulai mengajak teman-teman penyandang cacat mengikuti jejaknya. Setelah menikah dengan Agus Priyanto, upaya Irma untuk menyebarkan semangat kemandirian bagi sesama penyandang cacat semakin mendapat dukungan. Rumah mereka di Desa Karangsari, Buayan, Kebumen, dijadikan tempat menginap sekaligus pelatihan para penyandang cacat.

Hasil karya berupa aneka barang kerajikan menjadi bukti nyata keberhasilan Irma memotivasi para penyandang cacat. Kini, setiap hari Irma menerima undangan dari organisasi dan yayasan di tingkat desa dan kecamatan untuk memberi pelatihan.

Workshop atau pelatihan singkat yang menghadirkan Irma sebagai instruktur selalu dipenuhi puluhan warga yang terdiri dari kaum ibu dan remaja. Selain untuk mempelajari keterampilan membuat berbagai macam kerajinan tangan, para peserta pelatihan juga ingin mendapatkan motivasi sukses dan inspirasi dari Irma.
 
Tak hanya sebatas memberi pelatihan kepada para penyandang cacat dan warga desa, Irma juga membantu memasarkan hasil karya binaannya. Tidak kurang dari 5.000 orang telah menjadi mitra binaan Irma. Produk hasil kerajinan tangan seperti keset dan hiasan dinding telah merambah Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra, bahkan diekspor ke Australia.

Tak heran berbagai penghargaan dianugerahkan pada Irma atas prestasi dan perjuangannya. Lantas, sudah puaskah Irma atas pencapaian yang diraihnya? Bagi Irma tak ada kata puas karena masih impian yang ingin direngkuhnya.
 
Yang jelas, tenggelam dalam rasa kecewa, putus asa, dan menyerah pada nasib, bagi Irma tidak akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Keuletan dan kerja keras dalam segala keterbatasan dibuktikan Irma mampu menyalakan semangat hidup, tak hanya bagi para penyandang cacat lain, namun juga masyarakat sekitarnya.(ADO)
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler