Kemuliaan Sapi Bali

on

Liputan6.com, Gianyar: Puluhan warga di Desa Gegelang, Karangasem, Bali, mengarak sapi jantan berkeliling desa. Prosesi yang disebut mejaga-jaga ini merupakan ritual adat tahunan bertujuan menetralisir segala hal buruk dalam kehidupan.

Sementara yang diarak adalah sapi cula, yang sebelumnya disucikan dan telah dikebiri. Bagi warga Karangasem, tak ada urusan dengan penyiksaan atau pembantaian hewan dalam prosesi ini. Karena ritual ini warisan turun temurun nenek moyang dan jasad sapi diyakini menjadi perantara membersihkan aura negatif lingkungan desa.

Warga meyakini darah sapi memiliki khasiat mujarab. Mampu menyembuhkan beragam penyakit dan memperbaiki hidup di antaranya. Dari sekian binatang, sapi putih adalah bintang. Sapi ini menjadi simbol tertinggi ritual.

Dalam kitab Catur Weda, kitab suci umat Hindu, sapi adalah hewan yang diagungkan. Ia adalah ibu, pelindung bagi banyak orang.

Sapi tak dituhankan atau dipuja, tapi karena sebagai tunggangan Dewa Batara Syiwa, sapi mendapat kehormatan besar ketimbang kuda atau unta misalnya. Dua ritual ini adalah contoh, perlakuan umat Hindu Bali terhadap sapi. Sebab di Bali, terdapat dua jenis sapi, sapi suci dan sapi caru atau kurban.

Sesungguhnya tak semua sapi dianggap suci. Sapi berjenis lembu berbeda dengan jenis banteng. Lembu umumnya berwarna putih dan tipe banteng berwarna merah atau gelap.

Di Desa Taro, sapi-sapi putih yang disakralkan dirawat penuh rasa hormat oleh warga desa. Warga percaya bibit lembu ini dibawa Maharsi Markandeya ketika pertama kali datang ke Bali dari Gunung Raung, Jawa Timur.

Hewan suci dalam tafsir, baik di Catur Weda maupun Upanisad yang memuat ajaran filsafat, meditasi dan konsep ketuhanan sapi sakral yang dimaksud berjenis lembu. Sapi putih kerap dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap upacara adat.

Lembu putih dipercaya memiliki kekuatan yang mampu memberikan energi positif terhadap berlangsungnya rangkaian upacara. Keyakinan bahwa lembu putih merupakan binatang suci milik dewa, melahirkan perlakuan khusus terhadap binatang ini. Sikap yang tak santun serta sejumlah pantangan untuk mempekerjakan, memperjualbelikan, atau mengonsumsi dagingnya diyakini bakal mendatangkan kesialan.(AIS)
Suka artikel ini?

0 Comments