Panti Sahabat Kita, Sahabat Orang Gila

  • Sosial & Budaya
  • 0
  • 08 Apr 2012 12:22
Liputan6.com, Purworejo: Berbagai krisis yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah mengakibatkan peningkatan jumlah penderita sakit jiwa. Banyak dari penderita sakit jiwa telantar dan berkeliaran di jalan-jalan. Masyarakat mengenalnya sebagai orang gila atau gelandangan. Tak sedikit pula yang dipasung.

Pada umumnya masyarakat menganggap orang sakit jiwa sudah tidak ada gunanya. Tak berarti lagi. Karena ditolak, mereka merasa takut berkomunikasi dengan masyarakat. Untuk itu, Panti Sahabat Kita di Purworejo, Jawa Tengah, berupaya membantu penderita gangguan jiwa untuk percaya diri dan yakin bahwa mereka masih berguna.

Panti Sahabat Kita berbeda dengan rumah sakit atau klinik dalam menangani pasien gangguan jiwa. Di rumah sakit, pasien datang untuk berobat lalu pulang ketika sembuh. Sedangkan di Panti Sahabat Kita, hanya dilakukan pendampingan sehingga pasien dapat sehat secara sosial. Mereka dibuat seolah-olah sedang ada di rumah.

Setiap pagi diisi dengan menyapu dan merapikan halaman. Pasien diajari tanggung jawab terhadap kebersihan kamarnya sendiri. Kelompok yang piket juga memiliki tugas rutin, salah satunya menyiapkan makanan di dapur. Para pasine dibimbing empat bruder dari Konggregasi Karitas asal Belgia yang di kepalai Bruder Bartolomeus.

Meski jiwa mereka tak bisa sembuh total, kemampuan fisik dan motoriknya mengalami banyak kemajuan dengan beragam keterampilan yang diajarkan seperti merangkai manik-manik dan musik. Doa kepada Tuhan menjadi penyejuk rohani baik saat memulai hari maupun saat akan memejamkan mata. Semua berserah kepada yang Maha Kuasa.

Salah satu pasien di Panti Sahabat Kita adalah Toni. Setelah menjalani terapi, Toni yang bisa bahasa Inggris, Mandarin, Jerman, dan Jepang menjadi karyawan honorer di sebuah sekolah menengah. Tugasnya menjaga perpustakaan sekaligus melayani para siswa yang ingin berlatih bahasa asing.

Setiap bulan panti yang mendapat predikat ketiga terbaik se-Jateng ini memerlukan biaya tak kurang dari Rp 25 juta. Jumlah ini harus dikumpulkan para bruder karena mayoritas pasien membayar dengan sukarela. Para brunder berharap ada perhatian pemerintah untuk membantu soal biaya operasional panti.

Para brunder juga berharap usaha mereka ditiru orang lain sehingga banyak lagi pasien gangguan jiwa disembuhkan. Orang-orang sakit jiwa ini dalam arti tertentu lemah, disingkirkan, dan dianggap tidak berguna. Padahal jika diobati, mereka bisa sembuh. Namun bila telanjur akut dan tidak diobati, penderita tidak bisa diapa-apakan lagi. Jadikan mereka sebagai sahabat.(JUM)
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler