Wisata Tsunami Aceh

  • Sosial & Budaya
  • 0
  • 07 Apr 2012 08:55

120407ajalan-aceh.jpg
Liputan6.com, Banda Aceh: Gempa dan tsunami yang menimpa masyarakat Aceh telah berlalu tujuh tahun lamanya. Namun tragedi itu meninggalkan berbagai kenangan dan cerita duka yang tidak akan pernah dilupakan sepanjang hidup masyarakat, khususnya mereka yang langsung mengalami kejadian tersebut.

Semangat kehidupan untuk bangkit kembali dan menatap masa depan cerah akan terus dilakukan pascabencana. Bencana besar sudah seharusnya diubah dari tragedi yang menyedihkan menjadi peluang mencapai kehidupan yang lebih baik melalui berbagai aspek pembangunan, salah satunya industri pariwisata.

Aceh yang terletak di kawasan paling barat Indonesia siap memajukan industri pariwisata yang mengkedepankan karakteristik daerah khususnya pengembangan wisata tsunami dengan berbagai peninggalannya. Sebuah perjalanan untuk mengenang kembali ombak dahsyat yang menerjang Bumi Serambi Mekah.

Sebelum memulai wisata tsunami, ada baiknya untuk mampir ke kedai kopi yang banyak berdiri di Banda Aceh. Hampir di setiap sudut kota, ada warung kopi. Salah satu kopi yang banyak digemari masyarakat adalah kopi sanger. Kopi ini tak terlalu keras karena dicampur dengan susu kental manis.

Segar setelah nyeruput kopi, petualangan wisata tsunami dimulai. Perhentian pertama adalah Desa Lampulo. Di desa ini terdapat sebuah kapal yang nyangkut di atas sebuah rumah. Tujuh tahun silam, saat tsunami menerjang ada belasan kapal yang nyangkut di rumah-rumah warga. Tapi hanya yang satu ini yang dipetahankan.

Tujuan berikutnya adalah museum tsunami di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh. Di dalamnya ada lorong sempit dengan air terjun yang mengeluarkan suara gemuruh di kedua sisinya. Kondisi ini mengingatkan dahsyatnya tsunami. Dalam museum ini juga terdapat foto-foto korban dan kisah dari korban selamat.

Wisata tsunami berlanjut ke salah satu bukti nyata dahsyatnya gelombang tsunami: Kapal PLTD Apung. Pada 26 Desember 2004, kapal berbobot sekitar 2.600 ton ini terseret ombak besar dari lautan Ule Lheue hingga ke Kampung Punge Blang Cut yang berjarak sekitar lima kilometer dari pantai.

Kurang afdol jika ke Tanah Rencong tanpa mampir ke Sabang alias Pulau Weh. Dari gunung sampai lautan semuanya begitu alami. pemandangan yang mempesona. Pulau di sebelah utara pantai barat Aceh ditempuh dengan jarak sekitar 45 menit dari Dermaga Ule Lheu Kota Banda Aceh, dengan kapal cepat.

Selain Keindahan bahari, Pulau Weh memiliki tugu Nol Kilometer. Dari titik kilometer nol ini, seseorang bisa langsung melihat ke laut lepas. Dapat dilihat juga tiga buah pulau kecil yang sebelum tsunami merupakan satu kesatuan. Di sekitar tugu juga banyak monyet liar yang berkeliaran.

Satu lagi tempat menarik di Sabang yakni benteng Jepang. Benteng bekas peninggalan penjajahan Jepang ini terletak di atas bukit kota atas Sabang yang kini menjadi bukti sejarah. Dari atas benteng ini dapat dinikmati keindahan panorama Sabang. Sayang peninggalan bersejarah ini kurang dirawat.

Padahal turis bule sangat terkesan dengan benteng Jepang ini. "Aceh fantastis. masyarakatnya menyenangkan, pantai dan airnya sangat alami, dan bahkan terumbu karangnya masih alami. kami sangat menikmatinya," kata turis asal Inggris, John. "Kami disambut sangat baik. luar biasa sekali," kata Norma.

Berwisata ke Sabang, harus melihat pemandangan bawah laut. Perairan laut di sekitar Pulau Sabang berwarna kehijau-hijauan yang menandakan alam bawah lautnya indah. Anda dapat menikmati keanekaragaman terumbu karang dan ikan-ikan karangnya yang sangat indah. Snorkeling atau menyelam dapat Anda lakukan.

Sabang memang surganya para penyelam. Bukan tanpa alasan karena pemandangan bawah lautnya sangat mempesona. Tak heran Pulau Weh dijadikan salah satu destinasi menyelam utama bagi para turis domestik dan mancanegara. Di sini, semua masih alami tak ada yang mengalami kerusakan.(JUM)

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler