Tolak Kenaikan BBM!

  • Program Khusus
  • 0
  • 30 Mar 2012 06:08

120330sigi.jpg
Liputan6.com, Jakarta: Sejumlah mahasiswa yang mencoba bergerak ke Istana dihadang aparat keamanan di daerah Gambir, Jakarta Pusat. Semburan air dari mobil water cannon tak digubris, massa tetap berusaha merangsek sambil melempar batu. Bentrokan pun tak terhindarkan. Keuletan polisi siap diuji, tameng dan senjata disiagakan, rentetan tembakan peringatan hingga gas air mata diletuskan.

Pendemo didesak mundur, gas air mata menahan gerakan pendemo melawan aparat. Polisi pun terus menyerbu. Tak ayal, suasana beranjak emosional, sulit berpikir jernih, polisi sampai salah sasaran. Mereka nyaris baku hantam dengan sejumlah wartawan.

Serombongan pendemo diciduk aparat. Namun, belakangan dengan alasan kemanusiaan mereka dilepas. Tak hanya di Jakarta, unjuk rasa anti kenaikan BBM berlangsung anarkis di Ternate, Maluku Utara. Bandara Baabullah diserbu, fasilitas keselamatan bandara tak luput dari amukan massa.

Aparat yang bertindak sempat tak bisa menahan emosi, bentrokan kedua kubu tak terhindarkan. Bandara Baabulah pun ditutup akibat kerusuhan demo anti kenaikan BBM bersubsidi ini.

Aksi demo menolak kenaikan di BBM di Makassar, Sulawesi Selatan, juga diwarnai bentrok antara mahasiswa, warga dan polisi. Bentrokan di depan UIN Alauddin Makassar ini diduga memicu kemarahan warga karena mahasiswa berdemo memblokir jalan. Mereka menutup salah satu akses yang menghubungkan Makassar dengan Kabupaten Gowa. Bentrok berlangsung mencekam, karena selain batu dan senjata tajam, senjata api rakitan Papporo juga digunakan.

Demonstrasi di Makassar juga menyasar obyek yang berbeda, pos polisi. Kegeraman pendemo dilampiaskan dengan membumihanguskan pos polisi. Di lain kesempatan, unjuk rasa ratusan mahasiswa Makassar ini malah diwarnai keributan sesama pendemo. Keributan terjadi saat seorang pemuda merekam gambar aktivitas pengunjuk rasa.

Tak terima aksinya diambil gambar, si pemuda yang diduga sang penyusup babak belur diamuk massa. Setiap kenaikan harga BBM selalu diwarnai demonstrasi yang beberapa diantaranya berakhir anarkis.

Unjuk rasa mahasiswa yang berujung bentrok dengan aparat kembali terjadi di Jakarta, Kamis (29/3) malam. Pendemo memblokade Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, mahasiswa sebagai bentuk penolakan rencana kenaikan BBM. Pos polisi yang dirusak massa membuat situasi tak terkendali. Serangan batu dan botol pun dibalas tembakan gas air mata aparat.

Suasana tambah mencekam saat kendaraan roda dua milik petugas terbakar di tengah pertikaian. Selanjutnya, mobil Reserse Brimob juga menjadi sasaran pembakaran. Akses keluar dari jalan ini ditutup rapat polisi hingga membuat pendemo yang terjebak bertahan di area kampus.

Suara letusan senjata menyalak kencang berkali kali hingga pasukan bermotor polisi bersenjata yang bersiap mengejar pendemo tak membuat nyali mahasiswa ciut. Bahkan, serangan batu, kayu dan botol menghambat gerak aparat. Polisi terus mendesak mundur kelompok pendemo yang tetap membalas dengan serangan sporadis. Pengejaran pun berlanjut dengan penggeledahan kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. Sweeping terhadap pendemo dilanjutkan.

Ketegangan yang mencekam juga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, semalam. Mahasiswa Univeritas Muhammadiyah atau Unismuh Makassar yang berunjuk rasa terlibat bentrok dengan warga dan polisi. Bentrokan diduga dipicu akibat kekesalan warga dan
polisi atas ulah mahasiswa yang menutup akses jalan hingga merugikan warga khususnya pengguna jalan.

Warga menilai mahasiswa sudah melampaui kodratnya sebagai kaum intelektual muda. Mahasiswa pun berhadapan dengan warga dibantu polisi. Perang batu, bom molotov, busur panah, kayu dan bambu mewarnai insiden tersebut.

Dalam insiden itu mahasiswa yang dipukul mundur sempat menyerbu Kantor Mapolsekta Rappocini, tak jauh dari lokasi kejadian. Puluhan orang pengunjuk rasa di antaranya ditahan. Bahkan menjadi bulan-bulanan warga.

Sejumlah sepeda motor milik mahasiswa juga menjadi sasaran pengrusakan warga. Meski berhasil dipukul mundur hingga masuk ke dalam kampus, namun perlawanan Mahasiswa Unmuh Makassar tetap terjadi hingga berita ini diturunkan.

Parlemen jalanan sering dijadikan senjata akhir menolak kebijakan pemerintah yang dianggap tak berpihak rakyat. Kendati demikian, unjuk rasa bukan untuk menghadapi rezim yang otoriter. Demonstrasi sejatinya menggunakan ruang kebebasan berdemokrasi secara bertanggung jawab bukan untuk menjatuhkan kekuasaan. Bebas dalam berdemokrasi bukan berarti bertindak anarkis.(ADI/AIS)
Terpopuler