Sukses

Pusaka di Pulau Buano

Liputan6.com, Jakarta: Ada banyak kisah tentang generasi pewaris. Ada banyak cerita tentang mereka yang teguh pada tradisi. Di Pulau Seram, pulau paling besar dalam jajaran Kepulauan Maluku, mereka yang hidup dan tumbuh dalam warisan kuno adalah cerminan dari kebiasaan hidup para pendahulu.

Pulau Seram menyimpan banyak kebudayaan. Semisal di Tanah Buano, kampung kecil dengan tradisi besar adat Seram. Kampung berjarak sekitar delapan jam perjalanan darat dan laut dari Ambon ini, adalah desa sederhana yang setia pada tatanan adat, warisan etnis Alifuru tempo dulu.

Ada sebuah prosesi penting. Peletakan tiang penyangga di rumah pusaka milik marga Sombalatu yang menetap di Buano utara. Rumah pusaka adalah identitas penting bagi warga Buano. Rumah ini tak sekadar cermin adat, tapi juga wujud pemersatu antar marga yang hidup berdampingan di desa.

Puana adalah nama untuk penduduk asli Buano utara. Diberikan turun temurun sejak sekitar 700 tahun silam, bahasa yang mereka gunakan adalah Souw Puane. Jauh sebelum Islam datang, ketika sebagian besar menetap di pedalaman, mereka menganut kepercayaan leluhur yang disebut Hua Nana.

Meski telah lama meninggalkan kepercayaan nenek moyang, sejumlah aturan adat masih mereka jalani. Salah satunya adalah melestarikan rumah pusaka warisan pendahulu. Ada 30 marga dan rumah pusaka di Buano utara yang menjadi penanda bahwa dahulu kala hanya sebanyak itu rumah yang berdiri.

Kini, masing-masing rumah itu ditempati dati atau sesepuh dan menjadi tempat berkumpul keturunan masing-masing marga. Ciri rumah pusaka adalah bentuknya hampir mirip satu sama lain, memanjang dari arah matahari terbit ke arah matahari terbenam. Tak kalah penting, rumah pusaka juga menjadi tempat pelepasan anak perempuan yang hendak menikah.

Saat prosesi mauna tenun digelar, malamnya, para sesepuh adat berkumpul. Ini adalah prosesi wajib menjelang pemugaran rumah pusaka. Diiringi kendang dan tahuri (alat tiup berupa keong besar) tetua adat melantunkan tembang dalam Bahasa Tanah--bahasa kuno warga Buano.

Ketika pagi datang, tiba saatnya warga bersiap menuju hutan untuk menebang kayu mena lalukalat atau kayu panjang. Kayu itu sedianya akan menjadi penopang tiang-tiang utama rumah pusaka. Kayu tersebut sakral. Agar bisa sampai ke perkampungan, kayu harus dibawa hati-hati, termasuk dari hadangan marawang, keturunan marga Sambolotu yang telah keluar dari tatanan adat.

Tak jelas betul sejak kapan rumah pusaka Sombalatu berdiri. Terakhir kali, rumah pusaka ini dipugar pada 1957. Lebih dari 50 tahun berlalu, baru kali ini lagi rumah pusaka Sambolatu dipugar. Memunculkan gairah gotong-royong tiap marga yang hidup di Buano. Gairah abadi warisan leluhur Alifuru.(ASW/IAN)
    Artikel Selanjutnya
    Mekotekan, Tradisi 'Peperangan yang Mempersatukan Anak Muda Bali
    Artikel Selanjutnya
    Panjangilang, Perlengkapan Ritual yang Kian Tergerus Zaman