by

Sri Sultan: Banyak Pemimpin Jauh dari Rakyat

192739
  • Politik
  • 0
  • Sabtu, 21 Januari 2012 19:39
Liputan6.com, Jakarta: Ketidakberpihakan para pemimpin negeri pada rakyatnya dinilai akibat adanya jarak hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya. Banyak pemimpin justru jauh dari rakyatnya, sehingga mereka acuh dan melupakan hak-hak rakyat dan negerinya.

"Para pemimpin sekarang ini masih berbudaya keakuan. Sehingga memaksakan kekamuan. Ini yang menimbulkan arogansi itu sendiri. Karena tidak mau masuk dalam siklus-siklus itu sendiri," ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam agenda Orasi Budaya di Omah Besari Sri, Jakarta Selatan, Sabtu (21/1).

Sehingga, lanjut Sri Sultan, tak heran jika hukum pun tidak memihak kepada rakyat. Para pemimpin melupakan hak-hak rakyatnya sendiri. Keadilan hanya berpihak kepada mereka yang memiliki kedekatan dengan para pemimpin itu sendiri. "Segala sesuatu hanya secuil saja untuk rakyat kecil," tandasnya.

Padahal menurut Sri Sultan, jika mengenang masa lalu, para pemimpin benar-benar memahami budaya dan nilai-nilai Pancasila. Sehingga para pemimpin memperhatikan rakyatnya dan lebih dekat dengan para pemimpinya.

"Pemimpin-pemimpin dulu itu memahami budaya kita seperti pak Soekarno dia selalu mempelajari budaya. Begitu juga dengan pak Hatta pada waktu mau nikah dengan istrinya yang menghadiahi buku sendiri, jadi mereka memahami budaya kita sendiri," ujarnya mencontohkan.

Karena itu Sri Sultan yakin, jika para pemimpin di negeri ini memiliki kedekatan dengan rakyat kecil, niscaya negeri ini akan adil dan makmur. Karena para pemimpin akan memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap rakyat dan negerinya sendiri.

"Saya banyak bergaul dengan seniman, budayawan, sastarawan, musisi dan sebagainya. Tapi saya bergaul dengan seniman lukis bukan saya ingin belajar melukis. Saya hanya ingin belajar apakah seniman itu punya kepakaan terhadap masalah di negeri ini," tandasnya.(IAN)

Comments
Sign in to post a comment