Budaya Kaum Samin yang Mulai Bergeser

  • Program Khusus
  • 0
  • 26 Mei 2002 14:08

260502bpotret.jpg
Liputan6.com, Bojonegoro: Lantunan campur sari dan keroncong yang silih berganti terdengar dari rumah Hardjo Kardi menambah semarak pagi. Sesekali suara almarhum Nike Ardilla mendayu-dayu keluar dari pengeras suara yang sengaja dipasang di sudut rumah. Sejumlah warga terlihat mondar-mandir mempersiapkan perlengkapan hajatan besar. Suasana tadi langka terjadi di Desa Jepang, Morgomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, baru-baru ini. Maklum, penduduknya terkenal fanatik dan menganut aliran saminisme yang dianggap anti-modernisasi dan kemapanan. Terlebih lagi Hardjo, sang tuan rumah adalah pemimpin tertua dari generasi keempat keturunan Samin Suro Sentiko, pendiri ajaran saminisme.

Rupanya, perhelatan tadi membuktikan pengikut saminisme tak seperti dulu, tertutup dan terbelakang. Gegar budaya pun mulai menyeruak dalam darah penduduk Samin. Sendi-sendi kehidupan desa yang terletak di perbukitan itu telah berubah. Televisi dan radio bukan menjadi barang langka. Tata cara mencari penghasilan pun sudah berubah. Sejumlah warga terlihat membuka warung, yang dulu dianggap melanggar aturan saminisme tentang kolektifitas kepemilikan. Anak-anak Suku Samin juga sudah terbuka. Buktinya, sekarang mereka boleh menganut agama Islam di luar "agama Nabi Adam"--yang dianut selama ini. Keterbukaan tadi sedikit demi sedikit terus diserap, menjadikan kehidupan Desa Jepang tak ubahnya desa maju yang berkembang mengikuti zaman.

Meski jumlah mereka berkurang, Desa Jepang bisa dibilang "markas besar" buat para pengikut saminisme. Sebagian di antara mereka sudah menyeberang ke Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sayang, sampai sekarang tak jelas berapa jumlah pengikut saminisme sebenarnya.

Aliran saminisme lahir pada abad ke 19 di Kabupaten Sumoroto, Tulungagung, Jatim. Bupati Raden Mas Adipati Brotodiningrat (berkuasa antara 1802-1806) sebagai bupati keempat, memiliki dua putera yaitu Raden Ronggowirjodiningrat dan R. Surowidjojo. Melihat kekejaman penjajah Belanda, Surowidjojo pergi mengembara. Di perjalanan, ia merampok orang-orang kaya yang menjadi antek Belanda. Hasil rampokannya dibagi-bagikan ke orang miskin. Sisanya digunakan untuk mendirikan gerakan pemuda yang bernama Tiyang Sami Amin--cikal bakal aliran saminisme, pada 1840. Nama kelompok tersebut diambil dari nama kecil Surowidjojo, Samin.

Surowidjojo terus memperluas daerah perlawanan, hingga tepi Bengawan Solo. Di sana, ia memimpin pemberontakan, seperti menolak membayar pajak dan bekerja sama dengan kaki tangan Belanda. Sebagai penerus Surowidjoyo, lahirlah R. Abdul Kohar di Desa Ploso, Kabupaten Blora, pada 1859. Ia terkenal dengan sebutan Samin Suro Sentiko atau Samin Anom. Samin muda pun mulai mendirikan pusat-pusat perlawanan, antara lain di Tapelan, Kutuk, Gunung Segara, Kandangan, dan Tlaga Anyar, dengan jumlah pengikut sampai 5.000 orang.

Di sela-sela perjuangan melawan Belanda, Samin Suro Sentiko mengajarkan ajaran Pandom Urip yang berpedoman pada keluguan dan kesederhanaan. Prinsip tersebut wajib diterapkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Tapi, ulah Kohar membuat Belanda jengkel. Samin Suro Sentiko ditangkap Belanda pada 1907 dan dibuang ke Sawah Lunto, Sumatra Barat. Ia meninggal di tempat pembuangannya tujuh tahun kemudian.

Kisah perlawanannya dilanjutkan Ki Suro Kamidin, sang menantu. Syahdan, Suro Kamidin mendapat wangsit bahwa ia akan mendapat bantuan mengusir Belanda dari Jago Trondol asal timur. Tapi, Suro Kamidin diminta menyediakan garam dan menanam kapas di seluruh wilayah kekuasaan karena Jago Trondol tadi sangat kejam. Rupanya, yang disebut Jago Trondol tadi adalah pasukan Jepang. Belakangan, markas Suku Samin akhirnya terkenal menjadi Desa Jepang.

Tahun berganti, ajaran Samin bergeser menjadi agama Nabi Adam yang lebih mirip pada aliran kepercayaan dan mengarah dalam sebatas perilaku batin. Mereka tetap memegang pranata sosial yang kuat sesuai dengan intinya kerukunan. Contohnya, tidak dengki, sirik, kemeren, dan semena-mena terhadap sesama. "Ajaran dan tujuan sama, jalannya yang berbeda," kata Hardjo. Kekuatan antarwarga yang eksklusif itulah yang membuat Suku Samin terasing dari dunia luar. Banyak hal dilarang dalam ajaran Samin, termasuk di antaranya bersekolah.

Kini, Desa Jepang masih berdiri kokoh dipimpin Hardjo Kardi yang tak lain anak dari Ki Suro Kamidin. Ia menyampaikan ajaran sesuai dengan buku yang diperoleh dari ayahnya. Ia pula yang menjadi panutan warganya, di samping formatur di desanya. Hardjo pula yang membuka komunikasi dengan dunia luar agar rakyatnya tak ketinggalan zaman. Karena itu, nama pria berumur yang masih terlihat awet muda itu terdengar cukup harum.

Menjelang malam, undangan mulai datang berduyun-duyun. Pertunjukan Wayang Tenggul dengan dalang Susanto yang terkenal piawai di Bojonegoro siap menghibur dengan lakon Babat Tanah Samin. Wayang Tenggul adalah kesenian tradisional Bojonegoro yang hampir punah. Bentuknya mirip wayang golek dari Jawa Barat yang disajikan dalam bahasa Jawa. Konon, wayang itu adalah satu-satunya sarana penyambung lidah semangat perjuangan di masa pendudukan Nippon. Karena itu, Hardjo sengaja menggelar lakon tadi, untuk mengingatkan warga terhadap perjuangan anak bangsa Suro Sentiko melawan penjajah di Indonesia. Perjuangan ala Kaum Samin.(KEN/Tim Potret)

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler