Aksi Teror Semakin Sporadis

on

Liputan6.com, Jakarta: Biadab. Melakukan pengeboman saja sudah termasuk tindakan yang terkutuk, apalagi dilakukan di dalam masjid dan saat orang sedang menunaikan salat. Tak mengherankan, banyak orang yang mengutuk keras aksi Muhamad Syarif melakukan bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikra, Kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat, Jumat pekan ketiga April silam.

Tampaknya Syarif sengaja membidik Kepala Polresta Cirebon Ajun Komisaris Besar Polisi Herukoco sebagai sasarannya. Pelaku saat itu langsung duduk di sebelah Kapolresta. Insiden itu menewaskan pelaku bom bunuh diri, M. Syarif dan melukai puluhan orang, termasuk Kapolresta Cirebon. Sebagian korban adalah polisi.

Tindakan Syarif berbeda dengan kelompok teroris yang kita kenal di Indonesia. Selama ini teroris kerap menyerang gedung atau objek vital yang menjadi simbol kepentingan Amerika Serikat ataupun Yahudi di antaranya hotel, kafe, dan kedutaan. Para teroris juga mengincar tempat maksiat sebagai target sasarannya.

Aksi bom bunuh diri Syarif dikecam banyak orang. Bahkan, terdakwa teroris Abu Bakar Ba`asyir menilai tidak ada dalil dalam ajaran Islam yang membenarkan pemboman masjid. Amir Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) itu mengatakan pelaku mengalami gangguan jiwa. "Siapa pun kalau ngebom di masjid nggak boleh," katanya.

Warga Cirebon turut marah. Mereka menolak jenazah Syarif dikebumikan di Kota Wali. Tindakan Syarif yang melakukan bom bunuh diri di masjid telah mengotori Cirebon. Syarif dinilai tak menjalankan wasiat penyebar Islam di Cirebon, yakni Sunan Gunung Jati yang salah satunya adalah menjaga dan meramaikan musala.

Menjadikan tempat ibadah sebagai sasaran adalah bagian strategi awal teroris pada masa 1999. Pelaku berprinsip masjid di luar kelompoknya adalah thogut alias berhala sehingga boleh dihancurkan. Warga dan polisi yang beribadah di masjid juga dinilai pendukung penyembah berhala. Mereka juga membuka konfrontasi terbuka dan siap berhadapan dengan aparat keamanan.

Bom Cirebon memperlihatkan pola baru ideologi terorisme, yaitu jihad individual. Kelompok kecil berjuang sendiri lepas dari organisasi besar. Pergeseran ideologi ini akibat dari efektifnya penegakan hukum di Indonesia yang mampu membongkar jaringan teroris dalam kelompok besar yang bersifat organisatoris.

Yang jelas, rasa aman masyarakat mulai terusik. Banyak pertanyaan muncul. Jika kantor polisi saja tidak aman dari serangan bom bunuh diri, bagaimana dengan keamanan ruang-ruang publik lain? Jika polisi yang dibekali dengan keterampilan menjaga keamanan saja tidak aman dari serangan terorisme, bagaimana dengan masyarakat biasa?

Perubahan strategi jelas membuat intelijen harus kerja keras membaca arah target selanjutnya. Apalagi jaringan teroris makin sulit ditebak. Bermunculan target dan motif serangan baru. Aksi teror yang dilakukan makin kotor dan sporadis. Bom bisa meledak kapan dan di mana saja. Kondisi ini tentu membuat ketenangan warga terusik.

Ini pula yang akan dilakukan kelompok teroris yang ingin meledakan Gereja Christ Cathedral, Serpong, Banten. Pelaku berniat mendokumentasikan ledakan bom. Mereka juga akan membuat film yang kemudian disebarkan hingga dunia internasional. Pelaku ingin menunjukkan bahwa mereka eksis. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka tak bisa dikalahkan.

Tidak ada orang yang setuju dengan teroris karena teror menyebarkan ketakutan dalam masyarakat. Sesungguhnya kejahatan terorisme tidak hanya ditujukan secara khusus untuk mencabut nyawa seseorang atau kelompok tertentu. Tetapi juga hendak membuat ketakutan di masyarakat dengan menimbulkan korban sebagai sasaran antara.

Kegiatan terorisme tidak dapat dideteksi sebelum jatuh korban. Tidak ada satu pun alat yang dapat dengan jitu membaca tiap motivasi pelaku perorangan atau kelompok teroris. Perang terhadap terorisme tak bisa dimenangi hanya mengandalkan aparat keamanan ataupun dengan perlengkapan persenjataan yang canggih.

Metode preventif seharusnya menjadi rule model yang dikedepankan dalam menghadapi terorisme. Pendidik harus mampu membangun sumber daya manusia yang berkarakter baik, tahan terhadap stres, dan berwawasan jangka panjang. Dengan demikian tidak muncul letupan emosi dan kefrustrasian yang akhirnya menjadi penyebar ketidaknyamanan.

Sering kali seorang menjadi teroris karena pencucian otak dengan doktrin-doktrin agama. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa mereka begitu gampang direkrut? Kemiskinan, pendidikan, ketiadaan pekerjaan, dan frustrasi sosial ikut menjadi penyebab mereka begitu mudah diindoktrinasi untuk menjadi teroris.

Cukup sulit tentunya menalar secara logika kemanusiaan kita tentang pertanyaan mengapa negeri ini begitu "akrab" dengan segala macam bentuk teror. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyad Mbai memaparkan ada sejumlah faktor yang menyebabkan tumbuh suburnya aksi terorisme. Salah satunya, lemahnya penegakan hukum bagi pelaku aksi teror.

Namun menangkap dan menghukum mati para pelaku bom ternyata tidak cukup untuk menghancurkan terorisme. Buktinya, teroris baru terus lahir dan membuat kekacauan. Akar dari masalah ini harus digali sehingga tak ada lagi pelaku baru yang muncul. Rasa nyaman pun dapat kembali bisa dirasakan masyarakat.

Terlepas dari itu semua, kita harus mengapresiasi keberhasilan Polri mengungkap bom bunuh diri di Cirebon dan bom buku. Paling akhir Polri bisa mencegah teror bom yang lebih dahsyat lagi, bom Serpong. Delapan paket bom yang beratnya mencapai 150 kilogram diduga akan diledakkan pada perayaan Paskah.(JUM/ANS)
Suka artikel ini?

0 Comments