Sukses

Tragedi Pagi di Gereja Santa Lidwina

Liputan6.com, Yogyakarta - Teriakan keras memecah kekhusyukan misa jemaat Gereja Santa Lidwina, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/2018) pagi. Jemaat langsung berhamburan ke luar saat melihat seorang remaja berpedang menyerang dengan membabi buta.

Wasiyo, salah satu jemaah Gereja St Lidwina mengisahkan detik-detik penyerangan tersebut. Jemaah yang saat itu tengah beribadah dikejutkan dengan seorang jemaah yang masuk ke dalam gereja dengan berlumur darah di kepala.

"Misa itu kan jam 07.50 (wib) dimulai, selang 10 menit itu di luar ada teriakan keras. Lalu salah satu jemaah itu masuk dengan kondisi luka di bagian kepala langsung masuk ke ruang pastor," tutur Wasiyo di lokasi kejadian.

Jemaah anak-anak dan perempuan pun sontak berhamburan ke luar gereja karena panik. Terlebih mereka melihat seorang remaja yang mengamuk menggenggam sebilah pedang.

"Anak anak dan ibu-ibu keluar panik, pelaku itu masuk gereja membawa pedang," tutur Wasiyo.

Warga sekitar yang melihat kondisi panik jemaah Gereja St Lidwina itu langsung berupaya meredam remaja yang mengamuk tersebut. Namun, karena penyerang menggunakan pedang, warga kesulitan untuk meredam amuk penyerang tersebut. Remaja berpedang itu lantas menyerang Romo Pierre yang saat itu memimpin doa.

"Ya Romo kan sudah tua jadi mungkin kalau melawan juga terbatas gerakannya akhirnya diserang," tutur Wasiyo.

Penyerang itu baru dapat dilumpuhkan beberapa saat setelah polisi tiba di lokasi kejadian. Wasiyo mendengar dua atau tiga tembakan yang diarahkan ke tubuh pelaku.

Aiptu Munir, personel Polsek Gamping yang mendatangi Gereja Santa Lidwina juga menjadi korban setelah gagal bernegosiasi dengan pelaku. Tangannya dilukai sehingga ia terpaksa menembakkan timah panas ke arah perut pelaku berinisial S (16) untuk melumpuhkan.

Korban dan pelaku kemudian dibawa ke rumah sakit. 

Kabid Humas Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Yuliyanto mengaku belum berencana memeriksa kejiwaan S. Namun, pemeriksaan kejiwaan bukan tidak mungkin dilakukan pihaknya guna kepentingan penyelidikan dan penyidikan.

"Apapun akan dilakukan termasuk memeriksa kejiawaan pelaku. Ini sedang kami dalami,'' ucap dia kepada Liputan6.com, Minggu (11/2/2018).

Polisi masih terus menggali keterangan para saksi guna mengungkap motif dan mengetahui secara jelas kronologis peristiwa penyerangan di Gereja St Lidwina.

"Yang kami interogasi sudah banyak. Sementara, pemeriksaaan saksi masih berlangsung. Satu atau dua saksi saya kurang tahu. karena saksi nanti yang akan masuk berkas perkara," ungkap dia.

 

1 dari 3 halaman

Serangan Biadab dan Tak Biasa

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif atau akrab disapa Buya Syafii menyesalkan penyerangan yang terjadi di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Dia menyebut aksi yang terjadi Minggu pagi itu sebagai tragedi biadab.

"Bukan hanya menyesalkan, tindakan ini sudah biadab. Harus diusut tuntas," ujar Buya Syafii di lokasi kejadian, Minggu (11/2/2018).

Dia menduga pelaku penyerangan berisial S (16) tidak menjalankan aksinya seorang diri.

"Ada temannya dan harus benar-benar diusut. Harus ditelusuri dicari betul siapa orang ini dan dalang di belakangnya," kata Buya Syafii.

Mantan Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan keprihatinannya terkait tragedi penyerangan di Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Padahal dalam hari yang sama dirinya bersama pemangku umat beragama selesai melaksanakan musyawarah antarumat beragama untuk bangsa Indonesia.

"Saya ini menyampaikan rasa keprihatinan mendalam kepada keluarga korban baik pemimpin jemaat maupun sebagian jemaat dari gereja di Sleman, Yogyakarta," kata Din di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Minggu (11/2/2018).

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga menyebut peristiwa tersebut bukanlah peristiwa biasa. Dia menyebut terdapat oknum yang telah merekayasa untuk menganggu kerukunan dan stabilitas bangsa.

Walaupun tidak memiliki bukti, Din menyebut penyerangan di Gereja St Lidwina seperti halnya peristiwa beruntun dari yang sebelumnya terjadi.

"Saya punya kesimpulan ini bukan peristiwa biasa, ini mudah dibaca bahwa ada yang bermain. Saya tidak punya bukti, kalau sudah sampai peristiwanya beruntun bahkan ada ancaman," ujar dia.

Karena hal itu Din mengharapkan aparat penegak hukum dapat menyikapi peristiwa penyerangan Gereja St Lidwina ini dengan tenang. Dengan demikian, peristiwa itu tidak menimbulkan perpecahan di Indonesia.

"Harapan kita agar aparat keamanan betul-betul bisa menyingkap ini semua. Jangan sampai ini menjadi sumber perpecahan," jelas Din.

2 dari 3 halaman

4 Serangan Tokoh Agama

Ketua Setara Institute Hendardi menilai telah terjadi dua 'tamparan' sekaligus bagi para tokoh agama dan pemerintah yang baru saja menyelenggarakan Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa, 8-10 Februari 2018, di Jakarta.

Pertama, persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang pada 7 Februari 2018 dan baru viral pada 9-10 Februari lalu. Kedua, serangan terhadap peribadatan di Gereja Santa Ludwina Desa Trihanggo Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman yang menyebabkan Romo Prier dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam.

Sebelumnya juga terjadi dua serangan brutal terhadap tokoh agama, yaitu ulama yang juga tokoh NU dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka Bandung KH Umar Basri pada 27 Januari, dan ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis H R Prawoto yang dianiaya orang tak dikenal pada Kamis 1 Februari hingga nyawanya tak dapat diselamatkan dan meninggal dunia.

"Setara Institute mengutuk seluruh kebiadaban yang sarat dengan sentimen keagamaan tersebut. Bekaitan dengan itu, SETARA ingin mengingatkan ulang kepada pemerintah, pemuka agama, dan elite ormas-ormas keagamaan bahwa potret riil kerukunan itu terletak di tingkat akar rumput," kata Hendardi.

Kerukunan antarumat beragama, menurut dia, tidak cukup hanya dibangun secara simbolik-elitis dalam acara-acara pertemuan antaragama. Potret kerukunan yang riil dapat dilihat dalam relasi antar umat di level bawah, bukan di atas meja rapat dan ruang-ruang seremonial antarpemuka agama.

"Setara Institute tentu mengapresiasi inisiatif pemerintah dan para pemuka agama untuk duduk bersama membangun kesepahaman tentang etika lintas umat demi kerukunan bangsa dan umat beragama. Namun, hal itu tentu tidak cukup. Pemerintah, pemuka agama dan elite organisasi keagamaan harus melakukan tindakan konkret untuk menghentikan persekusi terhadap identitas keagamaan yang berbeda, khususnya atas mereka yang minor," ujar dia.

Hendardi mengimbau agar pemerintah, pemuka agama, dan elite ormas keagamaan sesuai otoritas masing-masing hendaknya mencegah dan menghentikan provokasi di ruang-ruang syiar agama yang membangkitkan perasaan tidak aman (insecured), kebencian (hatred), dan kemarahan (anger) yang dapat memicu tindakan main hukum sendiri (vigilante) dan penggunaan kekerasan (violence) seperti yang terjadi di Sleman, Tangerang, Bandung, juga Bantul dalam dua minggu terakhir.

"Aparat keamanan hendaknya mewaspadai dan mencegah pola-pola gangguan keamanan yang menyasar tokoh-tokoh agama dan menggunakan sentimen keagamaan untuk memecah belah umat beragama dan menghancurkan kerukunan di tingkat akar rumput," ungkap dia.

Kepada para politisi, Hendardi mengingatkan agar seluruh proses kompetisi politik pada tahun elektoral berkaitan dengan Pilkada dan Pilpres mendatang hendaknya dijauhkan dari penggunaan segala cara politisasi sentimen primordial, khususnya agama, untuk kepentingan jangka pendek pemilihan.

"Kerukunan antarelemen bangsa dan ikatan kebangsaan di antara mereka terlalu luhur untuk dirusak demi dipertukarkan dengan jabatan politik jangka pendek apapun," Hendardi memungkasi.

Artikel Selanjutnya
Kebakaran Hebat Melanda Rumah Sakit Korea Selatan, 31 Orang Tewas
Artikel Selanjutnya
Gempa Bumi dan Gunung Berapi Guncang Kedua Sisi Pasifik