Sukses

Ancaman Trump di Sidang PBB

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam negara-negara yang menantang keputusan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ancaman ditegaskan Trump sehari sebelum sidang darurat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 21 Desember 2017.

"Kita akan banyak berhemat. Kami tidak peduli. Tapi ini tidak akan seperti dulu lagi di mana mereka memilih melawan dan kemudian kita memberi mereka ratusan juta dolar. Kita tidak lagi bisa dimanfaatkan," kata Trump.

Pernyataan Donald Trump tersebut dinilai ditujukan pada negara anggota PBB asal Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang dianggap lebih rentan terhadap tekanan AS. Termasuk, Mesir yang merancang resolusi di forum Dewan Keamanan PBB.

Selengkapnya dapat dilihat dalam Infografis di bawah ini:

1 dari 3 halaman

Ancaman Dubes Haley

Intervensi luar biasa Trump dalam resolusi PBB dinilai menandai eskalasi ketegangan diplomatik terbaru atas sebuah keputusan yang telah membuat AS banyak dikritik dan diisolasi.

Sementara itu, ultimatum yang dikeluarkan oleh Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley, disampaikan melalui sebuah surat kepada para Duta Besar PBB, termasuk diplomat asal Eropa. Ia mengatakan akan melapor pada Trump, nama-nama yang mendukung rancangan resolusi untuk menentang kebijakan AS mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

Dalam suratnya, Haley menulis, "Sebagaimana Anda memberikan suara Anda, saya ingin Anda tahu bahwa Presiden (Trump) dan AS meresponsnya secara personal. Presiden akan menyimak pemungutan suara dengan seksama dan meminta saya melaporkan padanya siapa saja yang telah melawan kami."

2 dari 3 halaman

Tanggapan Turki

Wakil Perdana Menteri Turki, Bekir Bozdag, mengecam ancaman yang dilontarkan Donald Trump terhadap negara-negara yang kelak mendukung rancangan resolusi dalam forum sidang darurat Majelis Umum PBB yang akan digelar pada Kamis, 21 Desember waktu Amerika Serikat.

Bozdag menulis di akun Twitternya, "Ancaman Presiden Trump terhadap negara-negara yang menentang kebijakan AS atas Yerusalem tidak dapat diterima. AS harus tahu bahwa mereka tidak dapat memaksa negara berdaulat dengan tekanan dan ancaman. Voting besok adalah kesempatan untuk menunjukkan hal ini."

Bozdag pun menegaskan bahwa tidak satu pun negara berdaulat dan independen akan menyerah pada ancaman dan tekanan Trump. Demikian seperti dikutip dari media Turkiyenisafak pada Kamis (21/12/2017).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
Presiden Palestina: Israel Akhiri Perjanjian Damai Oslo
Artikel Selanjutnya
Palestina: Donald Trump, Kami Tak Menjual Yerusalem demi Emas