Sukses

Sejarah Pilu Syal Berbendera Palestina yang Dipakai Menlu Retno

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengutuk langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Dia pun menggunakan syal (scarf) motif sorban dengan bendera Palestina di ujungnya saat mengucapkan kecaman itu di Bali Democracy Forum.

"Scarf ini dibawa oleh salah satu WNI yang sudah hidup di Gaza beberapa tahun, dan bapak ini merupakan partner kita di dalam memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan oleh Palestina. Di dalam memberikan bantuan itu salah satunya memberikan empowerment kepada para janda," ucap Retno di ICE BSD, Serpong, Banten, Kamis (7/12/2017).

Dia menuturkan, syal tersebut dibuat oleh tangan-tangan para janda Palestina di Gaza.

"Scarf ini dibuat oleh para janda yang hidup di Gaza. Scarf ini handmade," ungkap Retno.

Karena itu, dia kembali menegaskan, penggunaan syal tersebut menunjukkan komitmen Indonesia yang selalu berada bersama masyarakat Palestina.

"Saya memakai scarf ini untuk menunjukkan komitmen tidak hanya pemerintah Indonesia, tapi juga masyarakat Indonesia, bahwa kita selalu bersama dengan Palestina," tandas Retno.

1 dari 2 halaman

Keputusan Donald Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu waktu Washington secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Keputusannya tersebut "bertentangan" dengan kebijakan luar negeri AS yang telah berjalan selama tujuh dekade.

Pengumuman Trump sekaligus menandai langkah awal pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

"Hari ini, akhirnya kita mengakui hal yang jelas: bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Ini tidak lebih dari sekadar pengakuan akan realitas. Ini juga hal yang tepat untuk dilakukan. Ini hal yang harus dilakukan," ujar Trump saat berpidato di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, seperti dimuat dalam New York Times.

Selama tujuh dekade, AS bersama dengan hampir seluruh negara lainnya di dunia menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak negara itu mendeklarasikan pendiriannya pada 1948. Sementara, menurut Trump, kebijakan penolakan tersebut membawa seluruh pihak "tidak mendekati kesepakatan damai antara Israel-Palestina".

"Akan menjadi kebodohan untuk mengasumsikan bahwa mengulang formula yang sama persis sekarang akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda atau lebih baik," ungkap Presiden ke-45 AS tersebut.

Pengakuan terhadap Yerusalem, menurut Trump, adalah "sebuah langkah terlambat untuk memajukan proses perdamaian".

Sebelumnya, Trump telah bersumpah akan menjadi perantara "kesepakatan akhir" antara Israel dan Palestina. Terkait hal ini, ia menegaskan bahwa dirinya tetap berkomitmen untuk melakukan hal tersebut mengingat "itu sangat penting bagi Israel dan Palestina".

Ayah lima anak itu mengatakan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel tidak seharusnya ditafsirkan bahwa AS mengambil posisi tertentu atau bagaimana kota itu akan dibagi.

Sebagai gantinya, Trump menekankan dimensi politik dalam negeri atas keputusannya tersebut. Ia mengatakan bahwa dalam kampanye Pilpres 2016, ia telah berjanji untuk memindahkan kedubes AS ke Yerusalem yang berarti mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel.

Meski tidak disinggung dalam pidatonya, Trump dilaporkan akan tetap menandatangani perintah suspensi per enam bulan untuk menunda kepindahan kedubes AS ke Yerusalem. Pejabat Gedung Putih menjelaskan bahwa hal tersebut harus dilakukan mengingat butuh waktu beberapa tahun untuk "memboyong" misi diplomatik AS ke Yerusalem.