Sukses

Reuni Aksi 212, dari Siapa Dana Rp 4 M?

Liputan6.com, Jakarta - Warga dari sejumlah wilayah mulai berdatangan ke Jakarta pada Jumat 1 Desember 2017. Tujuan sekelompok masyarakat itu sama, menghadiri reuni aksi 212. Reuni akan berlangsung Sabtu 2 Desember 2017, di tempat yang sama saat aksi 212 digelar Desember 2016 lalu, yakni di lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Dari Solo, Jawa Tengah, sebanyak 2.500 warga berangkat ke Jakarta. Pantauan Liputan6.com, Jumat 1 Desember 2017, sejumlah umat Islam dari berbagai elemen yang tergabung dalam Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) berkumpul di area SPBU Jongke, Solo. Para peserta aksi itu akan diangkut dengan menggunakan armada bus menuju Jakarta.

Divisi Advokasi DSKS Yusuf Suparno mengatakan, jumlah peserta yang akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti aksi reuni 212 sekitar 2.500 orang. Mereka berasal dari wilayah Solo dan Sekitarnya.

"Kalau dari Solo sendiri ada 23 bus, tapi jika digabungkan dengan Solo Raya ada 50 bus. Bus mulai diberangkatkan bertahap mulai Kamis sore kemarin," kata Yusuf di Solo.

Salah satu yang juga akan menghadiri reuni aksi 212 adalah musikus Ahmad Dhani. Suami penyanyi Mulan Jameela yang saat ini berstatus tersangka atas kasus dugaan ujaran kebencian, itu mengatakan, akan hadir di 212.

"Kalau saya senang hari ini enggak ditahan. Karena saya bisa hadir di 212," ucap Ahmad Dhani singkat di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Jumat (1/12/2017).

Selain warga, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Reuni Alumni 212 Misbahul Anam mengaku sudah menghubungi Rizieq Shihab, untuk memintanya hadir hadir dalam aksi yang akan digelar sejak pukul 03.00 WIB hingga 10.00 WIB.

"Kami sudah mengirim pengurus untuk menghubungi serta mengondisikan. Mudah-mudahan Allah dengan kuasanya bisa menghadirkan Habib Rizieq," ujar Misbahul Anam, dalam konferensi pers di Wisma PHI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (1/12/2017).

Dia mengaku sangat mengharapkan kehadiran dari Pimpinan Front Pembelas Islam (FPI) tersebut, begitu pula panpel lainnya. Sebab, Rizieq Shihab merupakan salah satu tokoh yang turut menyukseskan jalannya aksi 212 pada tahun lalu.

 

1 dari 3 halaman

Izin Anies dan Dana Rp 4 M

Untuk pelaksanaan aksi ini, Misbahul mengatakan, telah mengantongi izin dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan pengelola Monas.

"Kegiatan Sabtu sudah mendapat izin resmi dari Gubernur dan Dinas Kebersihan. Izin resmi dari pengelola Monas juga sudah," kata Misbahul Anam.

Dia menambahkan, Dinas Kebersihan bahkan sudah menyiapkan mobil tangki berisi air untuk peserta aksi reuni 212 berwudu. Selain itu, lokasi mandi, cuci, kakus (MCK) juga sudah disiapkan dari dinas terkait.

"Pihak monas juga akan menyambungkan sound system dari pihak pengacara untuk dihubungkan kesound system di Monas," kata dia.

Dengan adanya izin ini, Sekretaris Pelaksana Muhammad Al Khatthath menambahkan, pihaknya tidak merasa was-was dan ragu.

Kendati demikian, panitia pelaksana reuni 212 tidak bisa memperlihatkan surat izin tersebut kepada awak media yang menanyakannya.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menduga acara reuni 212 bermuatan politik. Dia menyebut, ada agenda terkait pilkada serentak 2018 dan persoalan Pilpres 2019 di balik pelaksanaan acara tersebut.

Menjawab hal ini, Al Khatthath memastikan aksi 212 Sabtu 2 Desember tidak bermuatan politik.

"Panitia mengadakan Reuni Akbar Alumni 212 bukan dalam konteks politik tertentu," ujar Al Khatthath.

Dia menegaskan, aksi yang akan berjalan hanya sebatas bentuk syukur atas bersatunya umat Islam pada aksi 212 tahun lalu.

"Kami mengadakan ini karena bentuk syukur atas kebersatuan umat. Yang tidak mau bersyukur juga tidak apa-apa tidak datang, berdoa saja dari rumah," kata dia.

Meski begitu, Al Khattath tak melarang beberapa pihak yang menyebut aksi tersebut berbau politik. Bahkan Al Khattath siap jika aksi tersebut bermuatan politik untuk segera dibubarkan.

Soal dana, Misbahul Anam mengungkap donatur yang membiayai jalannya aksi yang akan digelar di Silang Monas pada Sabtu 2 Desember 2017.

"(Dana) dari semua umat. Sebagaimana 212 tahun lalu, ada yang membawa air botol kemasan, ada roti, dan lain-lain," ujar Misbahul.

Dia tak menampik adanya donatur yang membiayai jalannya aksi yang akan dihadiri oleh 300 ormas itu.

"Ada (donatur khusus). Allah SWT," kata dia.

Namun, Misbahul menampik adanya donatur dari partai politik. Menurut dia, pihaknya tidak pernah memberikan proposal kepada partai politik tertentu.

"Kami tidak pernah mengeluarkan proposal ke partai politik. Kami semua dana dari umat," kata dia.

Saat kembali didesak perihal nominal dana yang dikeluarkan dalam aksi tersebut, Misbahul sempat menyebut angka Rp 4 miliar. Namun, Misbahun tak menyebut secara pasti dana tersebut dari siapa.

"Dana kurang lebih Rp 4 miliar. Itu semua dari umat. Saya tidak tahu persisnya, saya bukan bendahara," kata dia.

2 dari 3 halaman

Kata MUI dan Menag

Namanya disebut oleh panitia Reuni Alumni 212, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan enggan berkomentar. Dia memilih diam saat ditanya oleh jurnalis usai menghadiri acara peringatan Maulid Nabi di Monas, Jumat (1/12/2017).

Anies hanya berlalu menghindari kejaran wartawan.Beberapa waktu lalu, Anies mendapat sindiran dari penasihat Presidium Alumni 212, Eggi Sudjana. Saat itu, Anies tidak hadir dalam reuni 411.

Eggi mengatakan Anies seperti kacang lupa pada kulitnya. Dia menuturkan, jangan sampai alumni aksi 212 menilai Anies cuma memanfaatkan mereka saat masa kampanye Pilkada DKI 2017.

"Kalau itu sampai terjadi, Anies itu junior saya di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam, red), jadi saya mengingatkan sebagai senior, jangan kacang lupa kulitnya. Betul-betul komit kepada umat, karena nanti yang bantu dia cuma umat, partai-partai enggak bisa," kata Eggi.

Sementara Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin meminta para alumni 212 yang akan reuni, memperjelas tujuannya.

"Berkenaan dengan rencana reuni alumni 212, masyarakat harus mendapatkan penjelasan cukup terkait tujuan yang ingin dicapai dari Reuni 212 tersebut. Sebab kalau tidak tentu menimbulkan pemahaman beragam," kata Lukman dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com.

Lukman juga menyarankan agar para pengaggas betul-betul bisa meyakinkan setiap pihak bahwa aksi tersebut tidak bermuatan politik seperti yang diduga banyak pihak.

"Tahun depan memasuki tahun politik. Sedapat mungkin aktivitas seperti ini dikomunikasikan dengan banyak pihak agar tak menimbulkan pro kontra," jelas dia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mempertanyakan pentingnya reuni alumni 212 di Silang Monas. Menurut Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid, seharusnya umat bisa lebih disibukkan dengan masalah kebangsaan lain yang terbengkalai.

"Apakah sudah begitu hebatkah perjuangan kita dengan peristiwa 212, yang sudah berhasil mengantarkan penista Alquran ke penjara, sehingga harus kita bentuk forum alumni dan kemudian kita peringati peristiwa itu setiap tahunnya?" ujar Zainut kepada Liputan6.com.

Zainut bercerita, dalam Islam banyak momentum bersejarah yang dinilai lebih dari Aksi 212. Karena itu, MUI mengimbau agarnya umat bisa move on, dan memandang tugas lain segera bisa terselesaikan.

Guna menjaga aktivitas warga dan pengguna jalan tetap dapat berjalan baik selama aksi, Polda Metro Jaya pun melakukan antisipasi rekayasa pengalihan arus lalu lintas.

"Rekayasa dalam bentuk alih arus akan dimulai pukul 23.00 WIB. Arus lalu lintas yang mengarah ke Jalan Medan Merdeka Barat dan Jalan Medan Merdeka Utara akan dialihkan," tutur Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto.

Budiyanto merinci, arus dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang akan menuju ke Jakan Medan Merdeka Barat dialihkan ke Jalan Budi Kemuliaan-Jalan Abdul Muis-Jalan Majapahit- Harmoni-dan seterusnya.

"Kemudian arus lalu lintas dari Hayam Wuruk yang mengarah ke Jalan Medan Merdeka Barat dialihkan ke Jalan Juanda, terus Pasar Baru, Jalan Gunung Sahari atau ke Lapangan Banteng situ, lanjut Pejambon, Jalan Medan Merdeka timur, tembus ke Tugu Tani," jelas Budiyanto.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Serahkan 1.784 KIP, Jokowi: Tidak Boleh untuk Beli Pulsa
Artikel Selanjutnya
Waketum: La Nyalla Ditolak PAN, Kok Gerindra yang Disudutkan?