Sukses

Menteri Hanif: Ingin Kurangi Resiko Pekerja Migran

Liputan6.com, Jakarta Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri menjelaskan pemerintah terus berupaya untuk mengurangi resiko bagi pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri.  Salah satu cara adalah dengan  meningkatkan aspek perlindungan  serta meningkatkan kompetensi kerja.

“Mengelola migrasi tenaga kerja secara profesional dapat membantu pekerja migran mendapatkan akses pekerjaan yang baik dan memperbaiki perlindungan mereka ketika di luar negeri. Hal ini merupakan kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi,” kata  Menaker Hanif saat menghadiri Seminar Pekerja Global Indonesia: Antara Peluang dan Resiko pada Selasa (28/11).

Dari aspek perlindungan,  dikatakan Hanif selama ini pemerintah Indonesia telah membuat berbagai kemajuan dalam sistem migrasi pekerja seperti Undang-undang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang baru disetujui oleh DPR, Konsensus perlindungan Pekerja Migran ASEAN serta adanya program Desa Migran Produktif di daerah pedesaan.

Namun di sisi lain, kata Hanif, para pekerja migran juga harus ditingkatkan dari segi kompetensinya agar membuat proses migrasi menjadi lebih aman, murah, cepat, dan  bermanfaat. Hanif menambahkan, dengan dengan meningkatkan kompetensi pekerja migran menjadi lebih baik maka akses terhadap pekerjaan juga lebih baik. 

“Ada beberapa bidang yang selama ini pekerja migran Indonesia kurang, terutama tentang bahasa, computer, dan kompetensi kerja yang harus ditingkatkan “kata Hanif.

Dikatakan Hanif, masyarakat perlu melihat isu pekerja migran secara objektif. Dari segi angka,  permasalahan-permasalah  yang dihadapi pekerja migran juga menurun. “Kekerasan terhadap pekerja migran menurun, permasalahan mengenai pekerjaan juga menurun, permasalahan mengenai penganiayaan dan masalah upah tidak dibayar juga juga menurun,” papar Hanif. 

 “Tak hanya itu, kita tidak ingin pekerja migran kita dibebani dengan beban kerja yang berlebihan karena rangkap-rangkap jabatan. Selama ini kita membuat kebijakan yang berlaku ke semua negara, sementara karakter setiap negara berbeda. Oleh karena itu, kedepannya kebijakan di setiap negara akan berbeda,” tambah Hanif.

Remitansi

Dalam kesempatan ini, Hanif pun mengatakan remitansi dari pekerja migran Indonesia memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Indonesia. Devisa yang dihasilkan dari pekerja migran berada diurutan keenam. Urutan pertama Kelapa Sawit, Pariwisata, Tekstil, Migas, Batubara, dan kemudian TKI.

Pada 2016, dari sekitar 9 (Sembilan)  juta warga Indonesia tercatat bekerja di luar negeri  telah mengirimkan remitansi lebih dari Rp118 triliun atau sekitar 8,9 miliar dolar AS kembali ke Indonesia.

Dikatakan Hanif, migrasi pekerja maka manfaat secara ekonomi bisa dirasakan, baik itu oleh keluarga maupun oleh negara. Bahkan , selain faktor ekonomi, ternyata migrasi terjadi juga karena faktor budaya.

“Banyak faktor yang melatarbelakangi migrasi, salah satunya adalah faktor ekonomi. Memang kadang juga ada faktor budaya, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki  kebiasaan merantau sebagai bagian dari budaya. Jadi tidak heran jika banyak masyarakat NTT yang menjadi TKI,” kata Hanif.

Kedepannya,  cara pandang yang lebih komprehensif mengenai pekerja migran. Kita harus mulai merubah cara pandang kita dari kacamata resiko ke segi peluang. Resiko pasti ada, akan tetapi pemerintah terus melakukan upaya untuk meningkatkan perlindungan TKI di luar negeri,” jelas Hanif.

Sementara itu, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan, meskipun migrasi tenaga kerja mencerminkan terbatasnya kesempatan kerja domestik, namun migrasi juga memberikan dampak yang signifikan, baik bagi pekerja migran maupun perekonomian Indonesia.

“Pekerja migran Indonesia dapat memeperoleh penghasilan sampai enam kali upah mereka di dalam negeri, dan bagi 70% pekerja migran, bekerja di luar negeri merupakan pengalaman positif yang membantu mereka meningkatkan kesejahteraan,” ujar Rodrigo.

Selain itu, tambah Rodrigo, migrasi juga memberikan peluang kepada pekerja migran untuk memperoleh ketrampilan dan pengalaman kerja, dan bagi hampir 80% pekerja migran wanita, migrasi merupakan pintu masuk ke pasar kerja.

 

 

(*)

Artikel Selanjutnya
Serikat Buruh Perlu Dukung Pengembangan Keterampilan Anggotanya
Artikel Selanjutnya
Hanif: Tirulah Pusat Pelatihan Keterampilan TKI di Singapura