Sukses

Tanpa Subsidi, Tarif MRT Rp 20 Ribu

Moda transportasi massal seperti Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan beroperasi pada 2019.

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta dan macet. Dua kata yang lekat pada keseharian warga Ibu Kota. Kombinasi tak padunya fasilitas transportasi umum dan sebagian pekerja Ibu Kota yang tinggal di kota penyangga memicu ruwetnya mobilitas warga yang bertumpu pada jalan umum menggunakan kendaraan pribadi.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (28/10/2017), mimpi memiliki transportasi publik berupa kereta massal yang punya daya angkut besar, tepat waktu, nyaman dan aman, seperti kota-kota besar lainnya di dunia, puluhan tahun belum juga terwujud.

Moda transportasi massal seperti Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan beroperasi pada 2019 mendatang. Melayani rute Lebak Bulus hingga Bundaran HI sejauh 16 kilometer, MRT memiliki waktu tempuh 30 menit saja.

Selain kecepatan, keamanan dan kenyamanan, tarif adalah salah satu daya tarik warga menggunakan MRT.

Di sisi lain, tanpa subsidi dari Pemprov DKI Jakarta, biaya perjalanan per penumpang yang dihitung operator MRT cukup tinggi.

Namun apakah mereka yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi akan serta merta beralih ke MRT? Pengalaman negara lain menunjukkan sejumlah prasyarat, termasuk regulasi yang memaksa masyarakat menggunakan kereta massal.

Sejumlah regulasi mulai dari pembatasan kendaran bermotor, lintasan berbayar, serta parkir di sekitar stasiun adalah hal mendesak yang harus dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

Juga dibutuhkan pengaturan ulang integrasi seluruh moda transportasi umum di Ibu Kota yang memudahkan pengguna.

Kerja simultan yang harus dirancang sebaik mungkin mengatur ulang sistem transportasi publik di Ibu Kota yang memfasilitasi mobilitas warga, sekaligus tetap menguntungkan dari sisi bisnis.