Sukses

Kisah Pilu Keluarga Korban Ledakan Pabrik Kembang Api

Liputan6.com, Tangerang - Antia tiba-tiba pingsan ketika menyaksikan proses evakuasi jenazah korban ledakan pabrik kembang api. Setelah sadar dan dibawa pulang, ia kembali pingsan. Di rumah, Antia bangun namun masih dalam kondisi memejamkan mata.

"Umi, umi, umi, tolongin Una. Una masih di dalam. Umi, umi, umi, tolongin Una," jerit Antia ketika masih terbaring di dalam rumah.

Hal ini dituturkan Suki (30), paman Una, ketika menirukan Antia yang diyakini sedang kesurupan.

Una panggilan akrab Surna adalah salah satu korban ledakan pabrik kembang api yang belum di temukan. Una saat ini masih berumur 16 tahun. Sebuah gudang mercon milik PT Panca Buan Cahyadi yang terletak di Desa Cengklong, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang meledak dan terbakar pada Kamis 26 Oktober 2017 kemarin.

"Itu yang belakang nggak di cari-cari sama polisi. Padahal di sana masih ada korban, termasuk keponakan saya. Kan kasian kalau belum ketemu," ujar Suki.

Keluarga juga telah melaporkan perihal kehilangan Una ke polisi. Pihak keluarga juga udah mencari ke tiga rumah sakit yaitu RS Umum Tangerang, RS Mitra Husada Tangerang, dan RS Omni. Namun, tanda-tanda keberadaan Una masih tak jelas.

Tak bisa dibayangkan bagaimana kengerian yang dialami para korban saat api berkobar dalam gudang. Mereka terjebak, ada yang terus berusaha menyelamatkan diri, ada pula yang pasrah dengan keadaan.

Hal ini dituturkan Haerul Fiqri, petugas pemadam kebakaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang yang menyaksikan langsung bagaimana jeritan para korban saat regu penyemalat datang.

"Mereka itu terjebak di pabrik bagian belakang. Kasihan, ada yang sudah pasrah nyender ke tembok, ada yang masih bisa lari nyelamatin diri saat polisi menjebol tembok belakang," ujar Haerul Fiqri, Jumat (27/10/2017).

Untuk korban yang sudah terkulai lemas, petugas langsung membantu mengevakuasi keluar pabrik. Di luar pabrik langsung dibantu polisi yang sudah siaga.

Haerul menceritakan situasi mencekam pada saat dirinya evakuasi puluhan jasad korban. Kondisi asap yang mengepul di dalam pabrik, mengurangi jarak pandang mata. Bahkan senter yang digunakan pun tak banyak membantu untuk menerobos ke dalam gedung.

"Tapi terlihat jasad bergelimpangan di atas lantai dengan kondisi sudah hangus, saya mengangkatnya satu persatu, terus dimasukkan ke kantong mayat," ujar Haerul.

Saksikan video di bawah ini:

 

1 dari 3 halaman

Jasad Anak-Anak

 

Sejumlah petugas mengevakuasi sejumlah korban ledakan pabrik kembang api di Komplek Pergudangan 99, Jalan Raya Salembaran, Cengklong, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten (26/10). (AFP Photo/Demy Sanjaya)

Bahkan, Haerul juga menemukan jasad yang diduganya masih berusia anak-anak.

"Dari jasadnya memang anak kecil, saya perhatikan juga dari tulangnya, masih tulang anak kecil," ujar Haerul.

Kondisi korban sudah hangus terbakar, sehingga yang tersisa hanya tinggal beberapa bagian tubuh dengan kondisi daging yang mengering akibat terpanggang api.

"Katanya sih anak mandor yang sedang main di situ, tapi belum tahu juga kebenaran informasinya," tambah dia.

Haerul mengaku tak mudah melupakan peristiwa tersebut. Dia mengaku bergidik saat menceritakan peristiwa nahas tersebut.

"Sampai sekarang saya belum begitu nafsu makan, karena masih merasa mual," ujar Haerul.

Jasad anak-anak ini juga ditemukan oleh Forensik Polri yang tengah mengidentifikasi jenazah korban kebakaran pabrik kembang api.

Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kombes Edy Purnomo mengatakan, saat memeriksa, ada jenazah yang masih di bawah umur. Namun, Edy mengaku belum mengetahui pasti jumlah jenazah anak-anak. Sebab saat ini pihaknya baru mengidentifikasi 20 kantong jenazah dari total 47.

"Bisa aja di sini isinya 15 di bawah umur, kira-kira gitu ya. Kalau kita buka yang 20 selanjutnya, di atas (umurnya) dewasa, susah juga, ini enggak bisa diprediksi. Terus kalau tangannya udah enggak ada, kakinya udah enggak ada, ngitungnya gimana? Susah kan," imbuh dia.

Oleh karena itu, Edy berharap agar keluarga korban segera melapor ke RS Polri jika ada kerabatnya bekerja di pabrik mercon tersebut. Ia meminta, agar keluarga bisa membawa rekam gigi.

"Harapan kita gigi. Cuma nanti akhirnya DNA. Karena gini, Tangerang kan daerah urban, dia bisa kerja dari tempat lain. Kalau daerah dalam Jakarta, itu kan bekerjanya orang dari Bekasi. Kalau Bekasi, dari daerah Karawang sana. Tangerang kan juga bisa ke sana," jelas Edy.

Kengerian peristiwa itu juga dituturkan oleh Lukas Bonay, karyawan perusahaan yang dekat dengan pabrik itu.

"Awalnya saya kira ini bom," kata dia di lokasi kepada awak media, Kamis, 26 Oktober 2017 malam.

Lukas berlari ke lokasi suara yang berjarak 100 meter dari tempatnya bekerja.

Dari dalam sayup-sayup terdengar jeritan. Warga yang berusaha membantu kesulitan masuk pabrik.

"Tolong.. tolong.. Saya dengar suara kencang perempuan ramai. Tapi, api besar sudah menghalangi," ucap Lukas.

Satu-satunya pintu keluar masuk pabrik sudah tidak bisa dilalui. Beberapa karyawan pabrik ada yang memanjat tembok untuk menyelamatkan diri.

Warga di sekitar berinisiatif menuju sisi pabrik. Mereka berusaha menjebol tembok dengan martil agar karyawan yang berada di dalam bisa keluar.

Ada tiga titik tembok yang dijebol. Menurut Lukas, situasi diliputi kepanikan.

"(Karyawan pabrik) Ada yang manjat, ada yang merangsek dari tembok yang dijebol," ia menuturkan.

Lukas mengaku kesulitan menggambarkan parahnya kejadian yang merenggut puluhan korban jiwa tersebut. Saat evakuasi, dia melihat seorang wanita yang busananya sudah terbakar berlari keluar gudang.

Warga yang hendak menolong tidak bisa mendekat ke pabrik terlalu lama. Lukas merasakan panas api yang luar biasa.

Api berkobar dari tengah pabrik. Lalu, api menyebar akibat tertiup angin. Lukas merasa napas sesak menghirup bau serbuk mercon yang menyengat.

"Baunya menusuk seperti belerang. Ada juga seperti hujan abu, putih. Itu bubuk-bubuk mercon," ucap dia.

2 dari 3 halaman

Cerita Pilu Keluarga Korban

 

Keluarga menunjukkan foto korban kebakaran pabrik kembang api di RS Polri Sukanto Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (27/10).  Keluarga yang melaporkan kehilangan sejak Kamis (26/10/2017) telah mencapai 32 orang. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sejumlah orang terus mendatangi Posko Antemortem korban ledakan dan kebakaran gudang kembang api PT Panca Buana Cahaya di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Kedatangan mereka guna mencari informasi keluarganya yang diduga menjadi korban kebakaran.

Salah satunya, seorang pria bernama Ano (49), yang mencari putranya Gugun Gunawan (17). Sang anak bekerja di pabrik yang terbakar pada Kamis 26 September 2017 itu.

"Saya datang ke sini mau cari tahu informasi anak saya. Saya belum dapat kabar, sudah saya telepon dari kemarin enggak aktif ponselnya. Dia bekerja di pabrik, makanya saya datang ke sini," ujar Ano di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (27/10/2017).

Wajah Ano terlihat cemas mencari informasi keberadaan putra keenamnya tersebut. Putranya, sudah empat bulan bekerja di pabrik tersebut.

"Saya tahunya dia bekerja sudah empat bulan di pabrik. Saya punya delapan anak. Gugun ini anak keenam," ucap dia.

Dia mengatakan telah memberikan identitas kartu keluarga kepada petugas posko pengaduan rumah sakit. Ciri-ciri sang putra juga sudah disampaikan.

"Ciri-ciri putra saya kulitnya putih sama rambutnya kriting pendek," kata pria ini.

Ano mengatakan, dia hanya mengetahui jika anaknya ingin bekerja di sebuah pabrik di daerah Tangerang.

"Kami masih disuruh menunggu. Belum tahu sampai kapan, yang penting petugas sudah memiliki data anak saya," tutur dia.

Dia berharap, pihak rumah sakit dapat mengidentifikasi putranya bila memang menjadi korban kebakaran. Dia mengaku pasrah dan berserah kepada Allah SWT.

Ano merupakan warga Desa Batu Layang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pria yang memiliki delapan anak ini mengetahui informasi kebakaran pabrik kembang api dari kepala desa tempatnya tinggal.

"Saya dapat kabar itu dari Pak Kades tempat saya tinggal. Saya didampingi sama Pak Kades," jelas dia.

Kisah pilu lainnya datang dari seorang bocah berusia 10 tahun. Bocah bernama Seno itu kebingungan mencari ibunya yang diduga korban kebakaran.

Dia datang ke RS Polri Kramatjati bersama sang ayah dan kakaknya untuk mencari tahu keberadaan ibunya yang bekerja di pabrik petasan tersebut.

"Ke sini sama bapak, sama mpok (kakak). Dari Salembaran, Tangerang Kabupaten," ujar Seno di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (27/10/2017).

Dia bercerita kalau sang ibu yang bernama Sani baru sekitar tiga minggu bekerja di pabrik petasan itu. Sang ibu, kata Seno, bekerja di pabrik tersebut tidak sendiri.

"Kalau kerja di pabrik petasan baru 3 minggu. Itu ibu enggak sendiri kerja, ibu sama mpoknya ibu saya, masuknya bareng kerja di pabrik, belum ketemu," kata dia.

Seno yang masih duduk di bangku kelas 6 SD ini mengaku belum mendapat kabar dari rumah sakit.

"Ke sini mau tanya soal ibu, apa ada di sini, kan belum tahu kepastian di sini (RS.Polri)," ucapnya.

Seno yang bersekolah tak jauh dari pabrik mengaku mengetahui peristiwa kebakaran saat masih berada di sekolah.

"Sekitar jam 9 atau 10, itu pas lagi di sekolah, ibu-ibu pada ngomong ada kebakaran (pabrik petasan) di deket SMP, langsung buru-buru pulang. Pas pertama ngedenger dari kabar langsung panik," paparnya.

Usai mendengar kabar tersebut, Seno pun langsung pulang ke rumah sebelum melihat tempat kebakaran pabrik. Menurut pengakuan Seno, rumahnya berada tak begitu jauh dari lokasi kebakaran.

"Pulang ke rumah dulu naroh tas, naroh sepatu, baru ke situ. Itu (pabrik petasan) dari rumah ke tempat ibu kerja enggak jauh. Keliatan asap dari rumah, sama suara ledakan kedengaran. Kan rumah enggak begitu jauh (dari pabrik petasan)," ucap Seno.

Dia menceritakan, ketika sampai dilokasi kebakaran, sang ayah, Joko sudah berada di sana. Seno pun langsung menanyakan ke ayahnya mengenai ibunya tersebut.

"Bapak udah di situ. Jadi ke situ sendiri. Saya tanya bapak, Ibu bagaimana pak?, 'Iya, masih dicari polisi'. Soalnya enggak boleh masuk," cerita Seno.

Dengan harapan yang begitu besar kepada rumah sakit, Seno ingin ibunya dapat ditemukan dengan selamat.

"Ya, pengennya ibu selamat," kata dia dengan nada memelas.

Seno mengatakan, semalam dirinya sempat memimpikan sang ibu.

"Waktu pas lagi malem saya sempet mimpiin ibu masih ada disana (di pabrik)," tandas Seno.