Sukses


Musyawarah Mufakat Menjadi Sistem Dalam Budaya Pancasila

Liputan6.com, Jakarta  
Musyawarah mufakat menjadi sistem dalam budaya Pancasila yang selain diterapkan pada pengambilan keputusan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat terkecil yakni, lingkungan keluarga. Hal ini diungkapkan dalam dialog yang digelar Sekretariat Jendral MPR RI yakni, MPR Rumah Kebangsaan tema Budaya Pancasila Rabu, 18 Oktober 2017 di Senayan, Jakarta.
 
Dialog menghadirkan Sekjen MPR RI, Ma'ruf Cahyono dan Prof. Dr. Muhammad Jafar Hafsah, anggota Lembaga Pengkajian MPR RI sebagai nara sumber.
 
Menyoroti tentang musyawarah mufakat dan voting, Muhammad Jafar Hafsah, mengatakan banyak orang yang melihat istilah voting dari sisi tataran formal. "Voting adalah sebuah jalan untuk mencapai musyawarah, karena keterbatasan waktu," kata Jafar. 
 
Padahal, menurut Jafar Musyawarah dan voting dua hal yang berbeda, namun intinya sama, yakni, satu proses untuk mengambil sebuah keputusan.
 
Sekjen MPR RI, Ma'ruf Cahyono menjelaskan sebenarnya kehidupan Pancasila dalam praktek bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara, tidak dilihat dalam pandangan sempit. Mengenai musyawarah mufakat mengambil keputusan dalam suara terbanyak itu, sudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti, yang dilakukan dalam keluarga antara suami, istri, kakak dan adik.
 
"Ini potret dalam sila keempat. Masih ada dan hidup di negara kita," kata Ma'ruf.
 
Kalau dalam mengambil kebijakan dalam tataran kelembagaan negara maka diambil keputusan lewat voting. 
Ma'ruf mengatakan, kenapa Pancasila menjadi ideologi terbuka, karena pada pembentukan Pancasila, kristalisasi dari nilai-nilainya itu dimasukkan menjadi pembentukan 5 sila yang secara terbuka untuk kepentingan golongan dan kelompok.
 
"Ini membuka ruang untuk siapapun berdiskusi, saling memberi dan menerima," jelasnya.
 
Bagaimana Pancasila menjadi perisai atau benteng dalam kehidupan, menurut Ma'ruf karena Pancasila memiliki sistem nilai yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, dan memiliki peran penting, sebagai alat pemersatu, dan alat ketahanan negara. 
 
"Ini menjadi alat dalam sistem nilai pada diri kita, dan penting bagi generasi muda, dengan derasnya arus informasi maka harus memiliki alat ketahanan yang kuat, dan harus menjadikan ideologi Pancasila jadi banteng," katanya.
 
Menurut Ma'ruf, dampak dari teknologi informasi bisa diterjemahkan dengan baik dan menjadi respon positif sehingga jadi peluang, dan penting melakukan internalisasi nilai ini bagi generasi muda, di tengah dampak media sosial yang luar biasa, informasi tidak beraturan dan menjadi kontra produktif bagi generasi muda.
 
(*)
Artikel Selanjutnya
Sosialisasi Empat Pilar MPR Kepada Mahasiswa UMJ di Bogor
Artikel Selanjutnya
Khatib Istiqlal Sebut Pancasila Kesepakatan Luar Biasa