Sukses

Ketum PBNU: Indonesia Kuat karena Jiwa Nasionalisme Tinggi

Liputan6.com, Kendari - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan, Indonesia masih menjadi negara yang utuh karena jiwa nasionalisme rakyat yang tinggi.

"Bangsa-bangsa di beberapa belahan negara lain telah mengalami kehancuran akibat tidak memiliki jiwa nasionalisme," kata Said di Kendari, Kamis (12/10/2017).

Sebelumnya, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini memberikan kuliah umum di IAIN Kendari, Rabu, 11 Oktober 2017. Kuliah umum ini diikuti mahasiswa dan sivitas akademika IAIN Kendari serta tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini mengangkat tema "Revitalisasi Peran Perguruan Tinggi dalam Merawat Kebhinnekaan".

Dalam materinya, Said menjabarkan, prinsip nasionalisme bangsa Indonesia sudah ada sejak bangsa ini belum merdeka.

"Para ulama, khususnya pendiri Ormas NU KH Hasyim Asy'ari pada 1920-an telah meramalkan bahwa pada suatu masa negara-negara Islam, khususnya di negara-negara Arab, akan rapuh dan terpecah-belah apabila tidak dilandasi kecintaan terhadap Tanah Air," kata dia, seperti dilansir dari Antara.

Dia menuturkan, para ulama di Timur Tengah di masa itu, belum memiliki jiwa nasionalisme dalam rangka mempertahankan kedaulatan bangsa untuk kepentingan bersama.

Sedangkan di Indonesia, ujar Said, para ulama memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi diiringi dengan kesadaran bahwa bangsa Indonesia telah ditakdirkan menjadi bangsa yang majemuk, sehingga wajib menghormati kebinekaan dan menghargai perbedaan.

"Kita terdiri atas 700 suku, 400 bahasa, 17.500 pulau, yang ditakdirkan memiliki perbedaan dan kita wajib menerima itu. Allah menciptakan manusia dari bersuku-suku dan berbangsa, mengapa bukan Jawa semua, atau Cina semua, Karena perbedaan di antara makhluknya. Itulah bukti bahwa yang absolut hanya Allah, sedangkan makhluknya berbeda-beda," kata Ketua Umum PBNU ini.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

1 dari 2 halaman

Pancasila Ideologi Final

Said mengatakan, bangsa Indonesia sepatutnya tidak saling memusuhi, kecuali kepada mereka yang melakukan pelanggaran hukum. Bangsa Indonesia harus tetap menghargai mereka yang berbeda agama, suku, pilihan politik, dan lain-lain.

"Yang patut dimusuhi itu yang melanggar hukum, yang korupsi, bos judi, bos LGBT, bos narkoba. Mereka musuh kita semua. Jika ada di antara kita yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain, maka kita usir dari negara ini, suruh pindah ke negara lain," ujarnya.

Menurut dia, ideologi Pancasila adalah final dan tidak perlu dipertentangkan. Ranah diskusi lebih baik mengarah pada bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila untuk mencapai tujuan bangsa yang adil, makmur, tenteram, damai, dan sejahtera.

Rektor IAIN Kendari Nur Alim mengatakan, perbedaan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar, maka sepatutnya kita mengambil peran untuk menjaga kekuatan tersebut agar lebih bermanfaat demi kemajuan bangsa.

"Kita ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang plural. Untuk itu kita tidak rela jika bangsa ini bubar karena hadirnya paham yang menolak kebhinnekaan," kata Nur Alim.

Artikel Selanjutnya
Sosialisasi Empat Pilar MPR Kepada Mahasiswa UMJ di Bogor
Artikel Selanjutnya
MPR: Jangan Anekdotkan NKRI Harga Mati dengan Penjual Bendera