Sukses

Penjinak Api Bumi Khatulistiwa

Liputan6.com, Pontianak - Tak ada yang bisa menolak datangnya bencana. Di kala kemarau melanda sebagian besar wilayah di Indonesia, musibah kebakaran selalu datang mengintai.

Ini kisah tentang laskar penjinak api. Tentang Sanusi, pentolan tim pemadam kebakaran swadaya masyarakat yang menolak berpangku tangan menghadapi amuk si jago merah. Buat Sanusi dan tim PKPA atau Pemadam Kebakaran Pancasila Abadi 86, ini tentang kepedulian antarsesama.

Geliat pemadam kebakaran swasta di Pontianak murni tanpa campur tangan pemerintah. Semua dilaksanakan mandiri berbekal dana sumbangan pihak pribadi maupun perusahaan.

Di Kota Khatulistiwa, rasio kebakaran tergolong tinggi. Sulitnya medan, padat, dan gang sempit khas kota besar, membuat masyarakat mendirikan barisan pemadam kebakaran swadaya.

Di kota ini terdapat sekitar 30 kelompok pemadam kebakaran swasta. Tak berharap gaji rutin, apalagi perlindungan asuransi. Tak bermaksud jemawa, Sanusi dan kolega murni tergerak demi meminimalisir korban jiwa dan kerugian materi.

Urusan kepedulian antarsesama memang penting. Namun demikian, urusan pemenuhan kebutuhan keluarga tak boleh ditinggalkan Sanusi yang sehari-hari berkutat sebagai penjaja jasa ojek online.

Soal kebakaran, Pontianak memang punya keunikan tersendiri. Semua elemen masyarakat urun rembuk, termasuk Sanusi, demi satu tujuan mengantisipasi bencana kebakaran di lingkungan sekitar.

Sedangkan bagi Lim Kwang Bun atau yang akrab disapa Koh Aloy, ikan adalah sumber penghasilan baginya. Hanya saja jangan ditanya soal kebakaran, Koh Aloy paham betul pahit getir menghadapi amuk si jago merah, termasuk menjadi korban.

Panca Bhakti, salah satu pionir barisan pemadam kebakaran swasta di Pontianak. Di sanalah Koh Aloy berkecimpung hampir 40 tahun.

Pernah jadi korban kebakaran kian menebalkan tekad Koh Aloy menjadi relawan. Tak ada kriteria khusus menjadi laskar pemadam. Tak ada strata, apalagi sekat suku, agama, atau ras. Semua siap pasang aksi untuk urusan penanggulangan api.

Sementara itu, alarm kebakaran bisa berbunyi kapan saja. Dengan peralatan yang terus mengikuti zaman, Koh Aloy dan kawan-kawan terbiasa selalu siap dan tanggap terhadap panggilan bencana. Buat Koh Aloy, bukan peralatan dan perlengkapan pemadam memang vital, tetapi utama butuh tekad dan keikhlasan.

Warga Pontianak mulai mandiri menanggulangi bencana kebakaran sejak 68 tahun silam. Seragam pemadam dan raungan sirine menambah prestise tersendiri buat para relawan pemburu api. Apalagi jika jadi kelompok pertama yang sampai di lokasi.

Di belah tiga sungai besar, sumber air relatif melimpah. Hanya saja perlu perlakuan khusus soal mengakses lokasi kebakaran yang berada tepat di tepi sungai. Belajar dari kondisi geografis dan pengalaman panjang, para relawan tak pernah berhenti memodifikasi dan berinovasi dalam keterbatasan.

Memiliki puluhan kelompok pemadam kebakaran berarti urusan komunikasi dan koordinasi jadi urusan pelik. Namun semua dapat bergerak dalam satu komando menjawab panggilan kebakaran dari radio amatir frekuensi khusus alfa tango. Jika sudah urusan api tak ada lagi perbedaan.

Tak ada teori khusus yang dibutuhkan dalam penanganan kebakaran kecuali tekad dan mau berkorban. Termasuk meluangkan waktu berlatih bersama.

Pada saat terjadi kebakaran, insting dan intuisi diasah. Tak ada lagi perbedaan kelompok dan warna seragam. Semua lebur dalam kebinekaan untuk satu misi, meredam murkanya api.