Sukses

OTT Wali Kota Jadi Pintu Masuk Bongkar Korupsi di Batu?

Liputan6.com, Malang - Pegiat antikorupsi berharap terjaringnya Wali Kota Batu, Jawa Timur, Eddy Rumpoko dalam operasi tangkap tangan (OTT) penyidik KPK menjadi pintu masuk pemberantasan korupsi di kota tersebut. Banyak kasus korupsi di Kota itu menguap di tengah jalan.

“Ada beberapa kasus dugaan korupsi yang penanganannya berhenti pada aktor lapangan, tapi tak menyentuh aktor sesungguhnya,” kata Koordinator Badan Pekerja Malang Corruption Watch (MCW), Fachruddin, di Malang, Sabtu 16 September 2017.

Penanganan kasus korupsi di Kota Batu yang berhenti di pelaku lapangan antara lain korupsi PT Batu Wisata Resources (PT BWR) senilai Rp 2 miliar, korupsi dana roadshow promosi pariwisata senilai Rp 3,7 miliar. Diduga dalam kasus itu Wali Kota Batu turut terlibat.

Sedangkan kasus dugaan korupsi proyek perkantoran terpadu Pemkot Batu atau Block Office senilai Rp 38 miliar masih ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Ada juga kasus piutang pajak Jawa Timur Park Grup sebesar Rp 42 miliar yang diputihkan oleh Wali Kota Batu menjadi Rp 2 miliar saja.

Sebelum terjadi OTT oleh KPK, pada Sabtu 25 Agustus 2017 lalu pernah ada OTT oleh Satgas Saber Pungli. Saat itu ada tiga orang ditangkap Satgas dengan barang bukti duit Rp 25 juta. Mereka ditangkap lantaran diduga terkait dengan kasus pungutan proyek pembangunan GOR Gajah Mada dengan nilai proyek Rp 29 miliar.

Saat itu, ada sebuah dokumen beredar yang menyebut duit dari rekanan sebesar Rp 850 juta mengalir ke beberapa pihak. Salah satu pihak yang dicantumkan adalah diduga sekretaris pribadi Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Namun, kasus ini dihentikan dan seluruh tersangka dibebaskan.

“Kami mendukung penuh pemberantasan korupsi di Kota Batu. Bahkan kami berharap seluruh kasus dugaan korupsi lainnya dibuka oleh KPK,” tegas Fachrudin.

Saksikan tayang video menarik berikut ini:

1 dari 2 halaman

Pertanyakan OTT KPK

Wali Kota Batu, Jawa Timur, Eddy Rumpoko mempertanyakan penangkapan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadapnya di rumah dinasnya.

"Saya di rumah lagi mandi, tahu-tahu digedor, katanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK," kata dia usai pemeriksaan awal di Mapolda Jatim Surabaya, Sabtu 16 September 2017.

Di mengaku tidak tahu perihal apa yang disangkakan kepadanya. "Uangnya tidak tahu. Terima juga tidak tahu," ujar Eddy seperti dilansir dari Antara.

Saat akan memberikan keterangan lebih lanjut kepada wartawan yang sudah menunggunya, Eddy diminta petugas KPK dan polisi untuk segera masuk ke dalam bus.

"Tidak apa-apa, sama wartawan tidak apa-apa. Saya ini tidak ada apa-apa kok," kata Eddy.